Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 24-03-2017 | 23:43:37
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "LIBATKAN MATA HATIMU"

Yoh 9:1-41; Minggu, 26 Maret 2017

Semua kita punya mata, tetapi apakah mata kita berfungsi baik dan difungsikan untuk hal-hal yang baik, itu di luar pengetahuan saya. Sadarkah anda bahwa mata adalah segalanya? Mata bukan saja berfungsi untuk melihat tetapi juga untuk membedakan hitam dan putih, mengurai makna dari setiap perbedaan; keunggulan dan kelemahannya. Bola ajaib yang sama tidak saja berfungsi merekam kenyataan yang sedang kita hadapi tetapi juga untuk berkata-kata; mengatakan apa yang di-rasakan; apa yang direkamnya tidak saja mempengaruhi suasana hati tetapi apa yang ada dalam hati bisa dipancarkan kembali lewat sorotannya. Anda boleh saja mengatakan anda tidak marah tetapi sorotan mata anda jelas mengatakan bahwa api membara sedang berkobar dalam hati anda dan siap membakar. Mata dapat menjadi sumber mengalirnya kasih yang mempersatukan; mata juga bisa menjadi ladang subur tumbuhnya rasa benci yang menceraiberaikan. Darinya orang dapat membaca ibanya sebuah nurari, melaluinya kobaran amarah sebuah hati dapat direkam. Mata dapat melihat perbedaan sebagai sesuatu yang mesti dihilangkan/dilenyapkan, tetapi mata juga bisa melihat keindahan pelangi di balik aneka perbedaan. Mata bisa membantu kita melihat dan belajar dari kebaikan orang untuk bisa menjadikan diri baik atau menjadi jauh lebih baik. Dengan indera yang sama kita bisa menemukan berbagai alasan untuk menolak kebaikan sesama. Sampai di sini; apakah mata kita masih baik dan sudahkah kita menggunakannya untuk hal-hal yang baik? Kita harus mengatakan bahwa fungsi mata kita dipengaruhi juga oleh model hati yang kita miliki; kalau hati kita baik maka segalanya akan difungsikan secara baik tetapi sebaliknya bila hati kita jahat maka mata yang baik yang ada pada kita akan disalahfungsikan.

Hidup ini aneh karena sering apa yang kita hadapi tidak sejalan dengan apa yang kita bayangkan. Mengapa? Karena terkadang yang baik yang kita lakukan tidak men-dapat tanggapan yang baik tetapi justeru dijadikan alasan sebuah konflik. Hal ini terlihat jelas dalam kisah injil hari ini. Kisah injil hari ini tidak hanya melukiskan secara dramatis penyembuhan si buta tetapi juga menampilkan peran mata dalam hidup kita; bagaimana ia difungsikan dapat menentukan apa model hati yang kita miliki. Para murid melihat kebutaan sebagai akibat dosa; Yesus melihat bahwa kebutaan itu sebagai kesempatan di mana pekerjaan Allah bisa dilaksanakan; si buta melihat ke-sembuhannya sebagai satu anugerah dan memberikan kesaksian tentang pekerjaan Allah, kaum Yahudi melihat penyembuhan itu sebagai kesempatan untuk menambah dosa dan kesalahan Yesus. Lewat kisah ini Yohanes hendak menggambarkan beberapa hal, pertama; Apa yang kita saksikan harus mendorong kita melihat lebih jauh untuk menemukan apa yang sebenarnya mau dihadirkan oleh kenyataan yang sedang kita saksikan. Para murid mempersoalkan kebutaan bukan kerinduan si buta untuk melihat, Yesus merasakan kerinduan si buta untuk melihat dan melihat kesempatan itu sebagai peluang di mana pekerjaan Allah dan misiNya bisa dituntaskan; Dia adalah terang dunia dan Dia harus membuat semua orang melihat terang, meninggalkan kegelapan. Kitapun kadang bersikap seperti para murid; lebih mempersoalkan hal-hal yang tidak perlu dipersoalkan lalu mengabaikan apa yang seharusnya kita lakukan untuk menjawabi situasi yang sedang kita hadapi. Kedua, tindakan Yesus untuk menyembuhkan si buta; Ia menggunakan ludah dan tanah. Apa yang dilakukan Yesus ini hendak menunjukkan bahwa hal-hal kecil dan sederhana bila digunakan untuk melakukan hal-hal baik akan menghasilkan kebaikan. Kita justeru tidak bisa berbuat baik karena begitu sering kita meremehkan hal-hal kecil dan sederhana. Ketiga, si buta bukan saja berterima kasih tetapi juga siap bersaksi kepada orang-orang sekitar tentang kebaikan yang dia terima. Kadang kita begitu merendah saat kita membutuhkan bantuan sesama tetapi sesudah kebutuhan kita dipenuhi kita lupa akan kebaikan sesama. Keempat, kisah injil hari ini sebenarnya mengingatkan untuk berhati-hati dengan ketidaksukaan kita karena ketidaksukaan yang kita miliki bisa merubah segalanya. Sikap orang-orang Farisi mewakili sikap orang-orang yang baik matanya tetapi tidak baik hatinya-buta mata hatinya; orang-orang yang suasana hatinya telah meracuni segala akal sehatnya, menutup pintu untuk belajar dari keung-gulan orang lain. Di sini kita diingatkan untuk selalu waspada, berhati-hati dengan rasa-rasa kita-ketidaksukaan kita karena rasa-rasa kita-ketidaksukaan kita da-pat merubah fungsi mata kita, kita tidak melihat kebaikan sesama sebagai kesempatan untuk belajar bagaimana bisa berbuat baik, tetapi kita justeru menggunakan mata kita untuk mencari-cari alasan mengabaikan kebaikan sesama. Apa yang dilihat mata membutakan hati kita.

Ada banyak hal yang bisa diangkat untuk menjadi bahan pelajaran buat kita; bagaimana seharusnya hidup di hadapan sesama dan di hadapan Tuhan. Boleh jadi mata kita seperti mata rajawali tetapi mata hati kita perlu dibersihkan dan disembuhkan. Ada banyak orang di sekitar kita yang telah buta atau dibutakan oleh; iri hati, cemburu, curiga, keangkuhan, ketidakjujuran, kelobaan dan kerakusan. Kitalah yang diharapkan memiliki mata seorang Yesus untuk membawa mereka keluar dari neraka hidup yang mereka ciptakan sendiri bagi dirinya dan bagi sesamanya. Bila kita tidak dapat belajar dari si buta biarlah kita berusaha menghidupi spiritualitas si buta-punya kerinduan untuk melihat terang. Bila kita tidak dapat menghidupi spiritulitas model ini, biarlah kita menjadi orang seperti Yesus yang mampu memahami dunia orang-orang buta. Bila kita tidak dapat menjadi seperti Yesus, janganlah kita memperpanjang barisan mereka yang lebih buta dari orang buta. Di sini mungkin baik bersama si buta kita memohon; semoga kita memiliki kerendahan hati seorang buta, “Tuhan semoga aku melihat”.....Mata anda mungkin tidak dapat melihat tetapi hati anda harus dibiarkan untuk merekam segala gejolak kehidupan. Melihat dengan hati; anda dapat merasakan apa yang sedang dirasakan sesama…


[ back ]