Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 17-03-2017 | 21:37:41
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "ANTAR MEREKA PULANG"

Yohanes 4:5-42, Minggu, 19 Maret 2017

Berbicara dengan orang lain, satu aksi yang sudah biasa kita jalankan dalam hidup; bertukar pikiran, berbagi pengalaman bahkan aksi ini tidak kalah dari kegiatan bernapas, berhenti bernapas, mati, berhenti berbicara-berkomunikasi dengan orang lain mati. Di sana kita mengekspresikan ada kita yang unik, individual dan sosial. Bila demikian, mengapa ada begitu banyak soal dalam hidup kita? Karena sudah biasa, kita jadi lupa makna terdalam dari aksi ini. Bahasa yang seharusnya kita gunakan untuk menjembatani aneka perbedaan justeru telah mengakibatkan adanya beragam jurang pemisah yang memisahkan kita dengan kita. Komunikasi yang mestinya kita jalankan untuk mempersatukan, mendekatkan yang jauh dan mempererat yang dekat telah disalahfungsikan untuk memisahkan dan menceraiberaikan; kita ingin menang sendiri, kita mau dimengerti tetapi kita tidak punya kesediaan dan keterbukaan untuk memahami si-tuasi orang lain. Kalau suasana tidak bersahabat ini terjadi karena kesalahan kita dalam berkomunikasi maka hanya komunikasi yang mengenalah yang mampu menyembuhkan luka kehidupan ini. Pendekatan manusiawi/human aproach adalah kunci segalanya, kita coba menempatkan diri kita pada posisi orang lain untuk bisa memahami situasi mereka. Komunikasi ini punya daya magis yang mampu menyembuhkan ataupun menolong; saat kita mendekati sesama mulai dengan apa yang mereka tahu bukan dengan apa yang kita tahu, membangun dengan apa yang mereka miliki bukan dengan apa yang kita miliki, mengehormati mereka dengan menghormati apa yang mereka hormati. Inilah seharusnya bentuk nyata komunikasi yang mesti kita jalankan.

Bila kita mengatakan bahwa komunikasi adalah satu aksi yang menyembuhkan, menolong; kisah Yohanes tentang dialog Yesus dengan wanita Samaria mestinya menjadi contoh bagi kita; bergerak dari air keseharian menuju air kehidupan, dari sumur Yakob kepada air yang tidak pernah akan habis. Berdasarkan kisah ini, kita juga dapat melihat mengapa usaha kita mem-bangun relasi yang menolong tidak dapat menolong sesama keluar dari kerumitan hidupnya. Pendekatan yang manusiawi memungkinkan martabat manusia diangkat kembali, manusia perlahan-lahan menyadari posisinya, kembali menemukan kesejatian dirinya yang hilang. Mestinya yang kita lakukan adalah membiarkan orang menemukan dirinya sendiri, bukan kita yang menunjukkan siapa dirinya sebenarnya; biarkan dia mengungkapkan siapa sebenarnya dia. Untuk itu yang perlu kita lakukan adalah sebagai berikut; pertama, setiap orang mesti keluar dari dirinya sendiri. Yesus mulai dengan menyebrang ke daerah Samaria. Satu langkah awal mulainya relasi yang menolong ini. Kita hanya mungkin menolong sesama bila kita bersedia meninggalkan kemapanan kita, keluar dari ruang diri kita, keluar dari dunia diri kita yang sempit melangkah memasuki dunia sesama. Hanya dengan cara ini kita bisa berbicara dengan mereka bukan kepada atau tentang mereka, sehingga kita dapat memahami dunia sesama, merasakan denyut kerinduan mereka. Mengapa kita gagal? Karena kita ingin menolong tetapi kita tidak bersedia menyebrang, meninggalkan kemapanan kita. Kita membuang banyak waktu untuk bicara tentang ketimbang dengan sesama. Kedua, Yesus berhenti persis di tempat yang biasanya menjadi pusat pertemuan publik. Sumur Yakob menjadi lokusnya. Dia juga mulai dengan air yang dibutuhkan untuk hidup untuk menghantar lawan bicaranya memahami air kehidupan. Yesus bergerak dari hal-hal duniawi, soal sehari-hari untuk menghantar wanita itu menyadari situasi dirinya dan memahami hal-hal ilahi. Kita tidak dapat menolong sesama, membawa mereka kembali karena kita mendekati mereka bukan mulai dengan apa yang mereka kenal tetapi mulai dengan apa yang kita tahu sehingga mereka tetap merasa asing dengan apa yang kita sampaikan atau apa yang kita sampaikan bukanlah apa yang mereka butuhkan. Lang-kah demi langkah ditempuh oleh Yesus sampai kepada pengakuan wanita itu tentang hidupnya sendiri. Kita gagal menolong sesama karena kita tidak menghargai proses, kita tidak sabar, ingin cepat melihat hasil ketimbang memenuhi dan menghargai tuntutan sebuah proses. Ketiga, setelah menemukan kembali jati dirinya, wanita Samaria itu, wanita Samaria itu merasa ter-panggil untuk membagi pengalamannya kepada orang sekampungnya. Ini langkah sederhana yang punya nilai besar, nilai keselamatan di mana penghargaan terhadap proses dan sikap sabar menjadi kunci keberhasilan membawa sesama kembali ke jalan yang benar. Di sini, melihat apa yang dilakukan oleh wanita Samaria itu kita mesti menyadari bahwa kebaikan mesti dibagi dan tidak boleh dipenjarakan dalam kurungan egoisme kita. Kita mesti merasa terpanggil untuk menjadikan orang-orang di sekitar kita merasakan kebaikan dan bisa berbuat baik dan menjadi baik.

Ada banyak orang di sekitar kita yang punya nasib seperti si wanita Samaria itu, terasing dan dikucilkan dari kebersamaan karena kesalahan yang mereka lakukan atau karena apa yang kita lakukan terhadap mereka. Mereka masih punya hati dengan denyut kerinduan untuk kembali hidup normal. Kitalah orang-orang yang mesti merasa terpanggil untuk menolong mereka keluar dari keterasingan ini. Pendekatan manusiawi dengan pola proses merupakan jalan yang baik untuk menolong mereka. Tetapi untuk itu yang terpenting adalah kerelaan kita untuk me-nyebrang, keluar dari diri sendiri. Mendekati mereka mulai dengan apa yang mereka tahu, menghormati apa yang mereka hormati dan membiarkan mereka mengungkapkan dirinya sendiri. Hanya dengan cara ini kita dapat merasakan apa yang dirasakan sesama, hanya dengan jalan ini kita dapat menolong sesama berjalan di jalur keselamatan. Dekati mereka pada saat mereka berhenti berkembang dan anda akan menghantar mereka untuk pulang kepada kebaikan. .

[ back ]