Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 03-03-2017 | 20:51:19
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : 'CARILAH FIRDAUS YANG HILANG'

Mateus 4: 1-11; Minggu, 5 Maret 2017

Pernahkah anda kehilangan sesuatu karena kesalahan yang anda anggap sepele? Pekerjaan yang anda titi dari tangga yang paling bawah, cinta yang anda bina selama bertahun-tahun, sahabat yang menjadi tempat anda berbagi suka dan duka? Pada saat itu ada aneka rasa yang muncul; ada yang rasa biasa-biasa saja, mungkin karena yang hilang itu tidak terlalu bernilai. Ada lagi yang merasa begitu terpukul karena yang hilang itu cukup bernilai entah itu dari materinya sendiri ataupun punya nilai sejarah. Bahkan kehilangan itu bisa juga menyebabkan orang kehilangan dirinya sendiri. Bertolak dari kenyataan ini; kita dapat mengatakn bahwa hidup ini sebenarnya merupakan kesempatan untuk menemukan kembali kebahagiaan yang hilang, firdaus yang hilang; hidup dalam situasi serba kecukupan, tanpa kesusahan, kedamaian tanpa percecokan, persahabatan tanpa permusuhan. Atau mungkin di sisi lain kita mencari kebahagiaan itu karena kita belum merasakan apa yang namanya bahagia. Di sini kita diajak untuk kembali membayangkan situasi firdaus seperti yang digambarkan dalam kitab Kejadian; satu gambaran kehidupan yang sempurna di mana manusia begitu bersatu dengan alam dan manusia sungguh menjadi mahkota dari seluruh ciptaan. Lalu mengapa situasi ini mulai langka dalam kebersamaan kita? Apakah ketiadaan situasi ini karena kesalahan kita?

Hari ini kita memasuki minggu pertama masa prapaska; satu kesempatan untuk menata kembali ruang hati, mengevaluasi keberadaan kita dalam kebersamaan sebagai orang-orang beriman, membangun kembali relasi kita yang rusak karena ulah dan kelalaian kita. Hari ini ketika kita mendengar kisah tentang situasi Firdaus, kesalahan manusia pertama; kita sebenarnya disadarkan bahwa kebersamaan kita mestinya merupakan kesempatan buat kita untuk menikmati situasi Firdaus itu. Dan untuk itu, kesalahan manusia pertama harus kita hindari. Selain itu dengan memaparkan kepada kita kisah pencobaan Yesus, kita hendak disadarkan bahwa untuk membangun ataupun menemukan kembali Firdaus yang hilang; sikap Yesus harus menjadi sikap kita. Kita mesti menyadari bahwa iblis selalu menggunakan kelemahan kita untuk menjatuhkan kita, menjauhkan kita dari Firdaus-taman kebahagiaan itu. Di sini kita juga diingatkan bahwa banyak soal terjadi di antara kita karena kita tidak puas dengan keadaan diri, kita tidak mau hidup apa adanya tetapi kita suka mengada-ada. Selain itu kita dihimbau untuk senantiasa waspada karena iblis, setan, cobaan selalu datang dalam rupa aneka wajah dan beragam cara. Ada banyak jalan untuk menemukan kembali firdaus yang hilang ataupun untuk menghindari kehilangan firdaus; kebahagiaan dan kedamaian. Pertama, kita perlu berhati-hati terhadap kelaparan, kemiskinan, penderitaan, kelemahan dan kekurangan kita. Semua hal ini bisa mendekatkan kita pada Tuhan dan sesama, tetapi bisa juga sebaliknya membuat kita menjadi buas. Bila semuanya ini dihidupi secara terpaksa, situasi ini akan meciptakan dendam sehingga bila ada peluang orang akan nampak seperti serigala lapar, seperti laut yang tak pernah penuh walaupun seribu satu anak sungai mengalir ke dalamnya. Kebahagiaan bukan hanya soal berapa banyak yang kita miliki tetapi juga soal batiniah; apa yang kita rasakan-apa sikap kita ber-hadapan dengan apa yang kita miliki. Ada juga bahaya apa yang kita miliki dapat menutup mata kita terhadap kehadiran Tuhan dan sesama. Manusia bukan hidup dari roti saja. Kita perlu menyadari situasi diri dan tidak perlu mengada-ada. Kedua, untuk menemukan ataupun membangun kembali Firdaus yang hilang beriman saja tidak cukup. Iman kita harus mempengaruhi hidup dan hidup kita harus mengekspresikan apa yang kita imani. Kita beriman akan Allah tetapi yang kita sembah adalah allah-allah kecil ciptaan kita sendiri. Kedudukan, kuasa yang kita miliki tidak boleh dilihat sebagai peluang untuk menguasai orang lain tetapi mesti dilihat sebagai satu kesempatan khusus untuk melayani sebanyak mungkin orang. Kebersamaan kita dapat bertahan bila kita saling melayani, melihat sesama sebagai kembaran diri sendiri yang patut dikasihi. Ketiga, kehadiran dunia dengan pesonanya perlu diwas-padai....ia dapat menghantar kita untuk mengalami hal-hal ilahi tetapi ia bisa juga membuat kita sangat duniawi lalu kita kehilangan orientasi hidup bahwa hidup ini merupakan jembatan menuju hidup yang akan datang. Apakah impian kita dapat menjadi kenyataan? Masa puasa ini merupakan satu kesempatan untuk semuanya itu. Kita perlu mawas diri dan tidak perlu mengada-ada.

Kita sedang menjalankan puasa dan tobat. Di sini kita tidak saja berusaha memenuhi apa yang dituntut oleh aturan-aturan Gereja tetapi juga berusaha agar apa yang kita lakukan dapat mempengaruhi, nampak dalam perubahan pola hidup kita dalam kebersamaan. Kebersamaan mesti dilihat sebagai peluang membangun kembali firdaus yang hilang, mengubah impian kita menjadi kenyataan. Mungkin baik bila kita mengundurkan diri seperti Yesus dari kesibukan harian kita untuk melihat lebih jelas mengapa impian kita belum menjadi kenyataan dan menemukan jalan bagaimana meraih impian itu....Jalan kita menuju penemuan kembali firdaus yang hilang tidak bebas rintangan, godaan akan terus datang silih berganti seperti berjadwal untuk itu iman dan hidup mesti bergandeng tangan, iman yang kita miliki mesti mempengaruhi hidup kita dan hidup kita mesti menjadi medan di mana iman kita dapat disaksikan...Amin

[ back ]