Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 03-03-2017 | 19:48:07
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : 'JANGAN KUATIR'

Mateus 6:24-34, Minggu, 26 Februari 2017

Menarik bila kita sedang berada di sebuah terminal kota dan mengamati aneka tingkah laku penumpang yang hendak meninggalkan kota menuju ke tempat tujuannya dengan menggunakan kendaraan publik. Ada yang mengisi penantiannya dengan membaca koran, ada yang mengobrol dengan sesama penumpang yang lain sekedar membunuh waktu, ada yang mengamati ramai sua-sana terminal dan ada yang duduk dalam gelisah sambil terus memperhatikan putaran jarum jam arlojinya. Sikap yang terakhir ini ada mungkin karena ada alasannya. Lalu apakah anda pernah ataupun sedang merasa kuatir tentang ataupun digelisahkan oleh sesuatu? Disadari ataupun tidak kekuatiran dapat merubah suasana hati, menghilangkan kegembiraan, menciptakan ketegangan; memperbesar kegelisahan, mengikis ketenangan, mengendorkan konsentrasi, membuat kita mempertanyakan segala sesuatu dan bisa berakibat fatal. Walaupun demikian kenyataannya tetapi ini tidak berarti kita tidak perlu merasa kuatir. Punya rasa kuatir adalah wajar dan sangat manusia. Kekuatiran punya nilai positif, ia hadir sebagai ungkapan perhatian; kita kuatir akan keselamatan diri ataupun orang lain. Kekuatiran memungkinkan kita untuk menyiapkan diri menghadapi kenyataan, meningkatkan kewaspadaan. Walaupun demikian kekuatiran lebih banyak berdampak negatif; bila ia menguasai seluruh hati dan hidup kita; pintu ke dunia luar akan ditutup rapat, rasa percaya diri diperkecil dan kesetiaan digoyahkan. Kekuatiran lebih banyak menempatkan manusia dalam posisi dilematis ketimbang memberi dia rasa aman. Apakah anda sedang kuatir akan sesuatu? Berdiamlah sejenak, apakah kekuatiran anda punya cukup alas an?

Masih dalam kerangka kotbah di bukit, dalam wejangan moralNya kepada para murid dan para pendengarNya, Yesus mengingatkan agar mereka, kita tidak perlu kuatir. Peringatan ini sepertinya menyepelekan manusia dan persoalanya hidupnya. Tetapi bila kita jeli menyimak apa yang dimaksudNya, kita dapat melihat bahwa dengan pernyataanNya ini, Yesus hendak menggarisbawahi beberapa hal mendasar; pertama, Yesus hendak menempatkan manusia pada posisi lain dalam menghadapi setiap soal hidup. Apapun situasinya setiap soal selalu punya jalan keluar; manusia mesti bersikap optimis, berpikiran positif. Kekuatiran menyurutkan semangat juang, menutup jalan menuju pemecahan soal. Sebaliknya sikap optimis; menjernihkan suasana, memungkinkan ditemukannya jalan baru bagaimana mengatasi kebuntuan. Kekuatiran adalah soal rasa padahal manusia tidak hanya memiliki perasaan, budi mesti dilibatkan setiap saat dia hendak membuat sejarah. Perasaan yang tak terkendali bagai api yang menghaguskan diri, akan pikiran yang sendiri mengemudi laksana tenaga menjebak diri; karena itu keduanya mesti dilibatkan saat manusia hendak membuat sejarah, demikian kata Khalil Gibran. Kedua, manusia harus mampu membedakan apa yang perlu dikuatirkan dan apa yang tidak harus dikuatirkan. Kita lebih banyak mengkuatirkan hal-hal seputar hidup ketimbang berpikir serius tentang hidup itu sendiri. Selagi kita masih memiliki hidup segala sesuatu selalu mungkin dan kita bukan hidup di hari esok melainkan sekarang dan di sini. Untuk itu kita mesti rendah hati belajar dari alam yang begitu sering kehadirannya diabaikan. Kalau burung-burung yang tidak menabur dan tidak berladang, hidup tanpa kecemasan; mengapa kita begitu cemas tentang hidup padahal kita adalah makhluk berakal budi. Kekuatiran tidak akan merubah jalannya sejarah; hanya perjuangan kitalah yang akan memberi warna baru pada lembaran hidup kita. Kekuatiran menempatkan kita pada posisi dilematis, kita seolah mengabdi kepada dua tuan yang memecah konsentrasi kita, mengganggu kebulatan tekad kita untuk menghadapi hari esok. Kita membuang begitu banyak waktu berpikir tentang hidup ketimbang berusaha untuk hidup. Ketiga, persoalan hidup tidak boleh melunturkan keyakinan kita akan adanya perubahan. Kekuatiran mengikis kepercayaan kita pada sesama dan mempertanyakan kehadiran Tuhan dalam hidup. Sikap optimis merubah suasana; apapun situasinya, iman kita akan Allah tidak boleh tergoyahkan dan kepercayaan kita akan bantuan sesama tidak boleh tergantikan.

Kekuatiran adalah satu perasaan yang sangat manusia; tetapi membuang banyak waktu dan membiarkan diri dikuasai oleh kekuatiran, hal ini melampaui batas toleransi. Kekuatiran mesti mendorong manusia untuk lebih serius berusaha merubah sejarah hidupnya bukan menghentikan langkahnya ataupun menyurutkan semangat juangnya. Menghadapi setiap soal hidup manusia mesti lebih bersikap optimis, yakin bahwa setiap soal selalu ada jalan keluarnya; manusia hanya membutuhkan ketenangan dan kejelian untuk menemukan jalan terbaik. Kekuatiran tidak akan merubah jalannya sejarah; perjuangan manusia yang menentukan arah sejarah. Kalaupun kita tidak punya apa-apa, kita masih punya kesempatan untuk hidup yang memungkinkan kita punya apa-apa. Jangan kuatir tentang hidupmu, kuatirlah bila hidupmu dipenuhi dengan aneka kekuatiran.

“Kalaupun kita tidak punya apa-apa, kita masih punya kesempatan untuk hidup yang memungkinkan kita punya apa-apa”.

 

[ back ]