Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 04-02-2017 | 00:44:54
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : JADILAH GARAM DAN TERANG BAGI DUNIA

Mateus 5:13-16, Minggu, 5 Februari 2017

Kehidupan bersama adalah segalanya, sumber yang tidak akan habis dieksplorasi, topic yang tidak akan pernah tuntas untuk dibahas. Di sana dalam kebersamaan itu, kehadiran kita yang punya warna yang khas memberi nilai khusus bagi kebersamaan itu. Tentang arti kehadiran seorang pernah menulis, “engkau adalah pelita suka akan nyala. Satu bunga api yang membakar melalui badai dan hujan, tidak mudah menemukan kata yang pas agar hatiku dapat menjelaskannya. Kutimbah dalam dirimu banyak hal, di mana lewat kehadiranmu setapak demi setapak hidupku mulai berubah. Kubutuh kau selamanya”. Syair ini menarik untuk didengar tetapi akan lebih bermakna bila direnungkan bagaimana membuat kehaditan kita bermakna bagi yang lain. Lewat tulisan ini sang penulis hendak melukiskan bagaimana pengaruh kehadiran sesamanya mengubah langit hidupnya. Bahkan begitu dahsyat pengaruh itu sampai-sampai ia tidak mampu menemukan kata yang pas untuk mengungkapkan apa yang dialaminya. Di sisi lain dia hendak mengajak pembaca ataupun pendengarnya untuk dapat memberi arti bagi kehadiran mereka dalam sebuah kebersamaan. Seandainya masing-masing kita berusaha mengartikan dan memberi makna bagi kehadiran kita dalam kebersamaan bukan tidak mungkin hidup ini akan menciptakan satu symphony yang indah yang enak untuk dinikmati.

Kita tidak dapat menghindari kebersamaan karena di sana kita ada dan mengais hidup. Dari sana kita mendapatkan keberartian diri kita, dalam dan melaluinya kita menjadi diri kita sendiri. Perlu diingat bahwa dalam kebersamaan itu kita tidak saja punya hak tapi juga punya kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Kita mesti membuat kehadiran kita berarti bagi yang lain. Membuat kehadiran kita berarti ini bukan satu pekerjaan yang mudah tidak semudah membalik telapak tangan. Untuk itu kita harus berjuang menghadirkan diri secara penuh. Mateus berkisah 2000 tahun silam satu hari entah kapan, di atas bukit, ketika menyampaikan wejangan moralnya. Yesus mengajak para pendengarNya untuk menjadi garam dan terang dunia. Garam dan terang, dua hal yang mewakili situasi hidup manusia. Dunia yang kita huni telah menjadi tawar dan cahayanya telah menjadi seperti suasana di ambang senja. Garam dan terang merupakan dua hal yang berhubungan erat dengan kehidupan manusia walaupun begitu sering manusia tidak mengindahkan kehadiran keduanya. Disadari ataupun tidak keduanya adalah hal-hal kecil yang punya pengaruh besar dalam hidup manusia. Yesus justeru mengangkat hal-hal kecil yang punya pengaruh besar untuk membuka mata kita bahwa kita tidak boleh menganggap remah kehadiran hal-hal kecil dan untuk menjadi besar kita tidak selamanya harus melakukan hal-hal yang menyolok mata. Makanan tanpa garam akan terasa hambar, yang kelebihan garam tak dapat dinikmati. Pernahkah anda bayangkan bagaimana jadinya kehidupan sebuah kota metropolitan bila tak ada cahaya yang menerangi jalan-jalan kota? Garam mengubah rasa tanpa merusak yang diubah, terang mengusir kegelapan tanpa harus membakar habis apa yang diterangi. Menjadi garam dan terang berarti siap merubah hidup sesama tanpa memaksa sesama menjadi diri kita; melakukan kebaikan terhadap sesama tanpa merusak yang diperbaiki; memberikan seluruh kemampuan yang ada demi kebaikan sesama. Banyak kali kita gagal memberi arti bagi kehadiran kita dalam kebersamaan karena kita memaksakan keseragaman; membantu sesama bukan untuk menjadi dirinya sendiri tetapi agar ia menjadi diri kita. Bahkan lebih dari itu kita bukannya membantu mereka tetapi merusakkan mereka seperti makanan yang kelebihan garam atau ruang dengan cahaya yang merusak mata. Kalaupun kita bersedia menolong tidak seluruh diri dan hati kita dilibatkan, kita lakukan dengan penuh perhitungan. Bagi Yesus dunia perlu digarami, hidup kita perlu diterangi, karena situasi dunia dan hati manusia telah menjadi tawar dan cahayanya kian pudar oleh rasa-rasa lain; kebencian, iri hati, ketidakadilan, keangkuhan, keserakahan, kerakusan, kuasa, harta, dan kedudukan. Dan kenyataan yang terluka ini tidak mudah diobati dengan hal-hal spektakuler. Dunia ini jatuh sakit, dirusakan karena mengabaikan hal-hal kecil yang punya pengaruh besar. Dunia telah kehilangan motivasi untuk hidup sederhana cinta yang mengabdi, kesediaan untuk saling mengampuni, kemauan untuk saling menghargai, klehendak untuk berlaku adil, bersikap jujur dan berbuat benar. Dunia telah kehilangan kebaikan. Karena itu seperti kepada para murid, Yesus meminta kita untuk kembali menghidupi hal-hal baik ini, sebelum kita menyebrang membaharui dunia, menggarami diri sendiri dan membiarkan iman mempengaruhi hidup kita lalu menjadi garam bagi dunia. Dunia yang berada dalam kegelapan membutuhkan kehadiran kita menambah minyak bagi pelita diri dan menjadi terang bagi dunia dengan hal-hal kecil yang punya pengaruh besar. Dengan mengatakan bahwa pelita harus ditempatkan di kaki dian, Yesus meminta agar kebaikan kita diperuntukkan bagi semua, keba-ikan yang kita bagikan tidak boleh mempertajam ataupun menciptakan pengkotak-kotakan da-lam kebersamaan. Karena kebaikan itu bersifat universal maka kebaikan itu mesti diperun-tukkan bagi semua orang.

Kita selalu akan ada bersama orang lain dan kita tak akan pernah menghidari kehadiran orang lain. Kita membutuhkan orang lain dan kita sendiri harus memberi makna bagi kehadiran kita di tengah sesama. Kita menghendaki agar kebersamaan kita tetap lestari dan dan kehadiran kita tetap bermakna. Kalau kita tidak dapat menjadi garam kehidupan, biarlah kita menjadi terang bagi sebuah hidup yang gelap. Kalau kita tidak bisa menjadi terang biarlah kita memiliki kerelaan untuk digarami dan diterangi. Bukan hal-hal besar yang dibutuhkan dunia tetapi hal-hal kecil yang punya pengaruh besar bagi dunia. Apapun yang kita lakukan semoga kehadiran kita perlahan-lahan memberi warna cerah bagi hidup sesama. Amin

[ back ]