Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 27-01-2017 | 00:21:58
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "KEBAHAGIAAN SOAL HATI"

Mat 5:1-12, Minggu, 29 Januari 2017

Yang kita cari dalam hidup ini adalah kebahagiaan dan masing-masing kita punya pendapat sendiri tentang kebahagiaan. Adanya aneka pendapat seperti ini hendak menjelaskan bahwa semua kita ingin bahagia dan kebahagiaan memang diperuntukkan bagi kita semua, hanya saja tidak semua kita dapat merasakannya dengan alasan yang berbeda pula. Adanya aneka jawaban ini membuktikan bahwa pandangan kita tentang kebahagiaan begitu berbeda. Lalu kita sendiripun sulit mendefinisikan apa sebenarnya kebahagiaan itu. Kebahagiaan hanya bisa dirasakan karena kebahagiaan adalah soal rasa, masalah hati dan mental kita bukan soal materi sehingga kita tidak dapat mengukur kebahagiaan dengan materi yang kita miliki, banyaknya materi yang dimiliki bukanlah jaminan kebahagiaan. Materi hanyalah satu faktor dari seribu satu faktor yang membentuk pelangi kebahagiaan. Apa artinya mengumpulkan seluruh dunia tetapi kita kehilangan segala. Kebahagiaan bukan sekedar memetik bunga tetapi bagaimana memetik sehingga kuntum itu tak layu segera setelah tiba di tangan karena tersedot radiasi tangan si pemetik. Kebagaian adalah masalah bagaimana cara kita menghadapi dunia bukan soal apa yang sedang kita hadapi.

Di dunia ini kita temukan banyak hal aneh yang tidak jarang bertolak belakang dengan apa yang kita pikirkan. Ada yang berpendapat suasana sekitar kita mempengaruhi warna hati kita tetapi ada pula yang punya pendapat suasana hati kita menentukan nilai dari apa yang mengitari kita. Kita melihat memberantas kemiskiinan, meningkatkan mutu hidup dan kesejahteraan ada berbagai program yang dibuat. Tetapi konsep kebahagiaan, kesejahteraan yang digambarkan Yesus jauh berbeda dari konsep yang ada dalam benak kita. Yesus justeru memuji bahagia mereka yang miskin. Pujian ini nampak aneh. Bukankah kita sedang berusaha memberantas ke-miskinan? Apakah ini berarti Yesus tidak setuju usaha meningkatkan mutu hidup? Dia tidak berbicara tentang kemiskinan material, tetapi tentang sikap miskin, mental hidup sederhana-apa adanya; keterbukaan orang untuk diperkaya, dilengkapi; oleh wawasan baru, oleh kehadiran sesama, oleh keanekaan yang ada. Tiap pribadi menyadari bahwa mereka tidak bisa lepas dari orang lain. Program boleh bagus tetapi mental kurang bagus program tidak banyak berarti. Ini awasan baik bagi yang kaya maupun yang miskin karena keduanya cenderung mengkhianati sikap ini; yang satu seperti laut yang tidak pernah penuh, yang lain memendam kerakusan yang maha dahsyat. Seperti sikapNya terhadap kemiskinan, Dia memuji mereka yang berdukacita, yang punya rasa prihatin terhadap situasi tempat di mana mereka hidup; keprihatinan merupakan awal perubahan. Apakah anda memiliki sikap ini? Mungkin kita punya rasa ini tetapi terbatas pada rasa ini tanpa tindak lanjut karena kita selalu penuh perhitungan bahkan kalau boleh kita memanipulasi situasi demi keuntungan diri. Dunia telah menjadi medan hidup yang menakutkan, dunia butuh kelembutan hati dalam menghadapi setiap soal. Kita cenderung menyelesaikan soal dengan tangan besi bukan dengan hati sehingga mimpi tentang hidup bahagia tidak kunjung jadi kenyaataan. Bila kebahagiaan dihubungkan dengan kebenaran; rasanya sulit mencapai keba-hagiaan karena wajah kebenaran sudah tidak mudah dikenal karena kita cenderung menyulap fakta menjadi fiksi dan yang fiktif jadi fakta tergantung banyaknya uang yang kita peroleh. Kita bukanlah orang-orang bahagia karena kita tidak suka menderita demi kebenaran, kita justeru cenderung memadamkan api kebenaran demi menyelamatkan diri sendiri. Di era serba uang ini, rasa sulit menemukan orang yang murah hati karena rasa hati kitapun sudah bisa diuangkan; kita gampang menerima tetapi sulit untuk memberi; lebih banyak menuntut hak ketimbang memaksa diri untuk menjalankan kewajiban. Dalam dunia yang serba permisif ini tidak mudah masuk dalam kelompok bahagia karena lebih mudah bagi kita untuk melanggar hal-hal sakral ketim-bang menghormatinya. Mengapa sulit merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan kita? Karena tempat Allah telah diganti oleh dewa-dewa sembahan kita bahkan kita sendiri membuat diri sebagai dewa. Yesus memuji bahagia orang yang membawa damai; rasanya kita bukan alamat yang tepat bagi sabda ini karena kehadiran kita lebih banyak menimbulkan soal, merusak kebersamaan ketimbang mengurangi ataupun menghindari terjadinya kemelut dalam kebersa-maan. Kita lebih suka menggunakan kekuasaan, bergaya preman ketimbang berusaha untuk memperbaiki. Iman dan hidup kita masih berjalan sendiri-sendiri. Masihkah kita punya peluang untuk membuat impian kita tentang kebahagiaan menjadi kenyataan? Peluang ada hanya hati macam mana yang sedang kita miliki.

Setiap kita menghendaki hidup bahagia tetapi tidak semua kita mengerti apa itu kebahagiaan. Kebahagiaan tidak bergantung dari materi yang kita miliki tetapi sikap batin dalam menghadapi kenyataan. Ada delapan cermin yang dapat kita gunakan untuk menata diri meraih kebahagiaan; bersikap miskin; punya rasa prihatin, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, suka damai dan berani berkorban demi kebenaran. Tidak mudah memang menjalankan semuanya ini tetapi sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk menghidupinya; kebahagiaan bukan sekali jagi tetapi sesuatu yang mesti diperjuangan dalam proses. Sang-gupkah anda berdiri di hadapan cermin-cermin ini? Kesanggupan anda adalah kunci menjadikan diri anda orang yang bahagia.

[ back ]