Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-01-2017 | 23:59:24
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : JADILAH PENJALA MANUSIA

Mat 4:12-23, Minggu, 22 Januari 2017

Adalah satu hal yang mustahil menjadi penjala manusia, ini satu permintaan yang sangat ganjil, menjala ikan saja mungkin kita tidak tahu apalagi harus menjadi penjala manusia. Menjadi penjala ikan bukan sekedar menebar jala tetapi orang harus tahu membaca arah angin, melihat situasi laut, bagian laut mana yang banyak ikannya dan cuaca saat hendak melaut. Pada musim seperti saat ini belum tentu kita dapat melaut karena melaut berarti menyabung nyawa. Inilah yang membuat ikan-ikan di pasar ikan melangit harganya. Tetapi itulah hidup. Kalaupun kita bisa menjadi penjala manusia, siapa yang mau jadi ikannya dan jala macam mana yang mesti kita gunakan. Menjadi penjala manusia di jaman ini tidak mudah; karena laut hidup ini tidak seramah yang kita bayangkan dan orang-orang jaman ini tidak mudah dijaring; mereka pandai menghindari jaring ataupun merusak jaring yang kita gunakan/tebarkan. Berani melaut berarti harus siap melawan arus.

Sebagai orang-orang beriman, kehadiran kita mesti berdampak positif bagi sesama, mampu menjaring sesama dengan jala kebaikan karena kitalah penjala-penjala manusia jaman ini. Hidup ini adalah lautnya, sikap tutur kata dan laku kita adalah jaringnya. Di mana kita hadir, di sana sesama bukan saja melihat bahwa kita berarti bagi mereka tetapi juga menyadari ataupun disadarkan bahwa mereka punya nilai positif bagi orang lain, bagi kita. Di sana ada kesalingan untuk memberi dan menerima, melengkapi dan dilengkapi; mengartikan dan diartikan, memperkaya dan diperkaya sehingga yang memiliki banyak tidak berkelimpahan dan yang mengum-pulkan sedikit tidak berkekurangan. Lalu bagaimana hal ini bisa kita wujudkan dalam kebersa-maan kita? Caranya dapat kita temukan dalam bacaan-bacaan suci hari ini. Bacaan pertama menegaskan bahwa kita dapat menjadi penjala manusia, membuat kehadiran kita punya daya rubah bila di mana kita hadir di sana seperti Yunus, kehadiran kita dapat membuat orang lain berubah haluan. St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis bahwa kita dapat menjadi penjala manusia, membuat kehadiran kita punya daya rubah bila dalam kebersamaan kita hadir untuk mengingatkan sesama akan nilai-nilai injil yang kita terima; bukan saja melalui kata-kata tetapi lebih melalui hidup kita yang berpesan. Kehadiran dan hidup kita mesti meyakinkan sesama bahwa bila kita hidup sesuai dengan iman kita; yang kita bagikan dalam kebersamaan adalah cinta yang mengabdi dan kebaikan yang tidak mengkotak-kotakan seperti apa yang dilakukan oleh Yesus sendiri. Kita dapat membuat kehadiran kita punya daya rubah bila di mana kita hadir, di sana iman sesama diteguhkan, harapan mereka dibangkitkan dan ka-sih karunia Allah yang menyelamatkan dapat mereka rasakan. Seperti Paulus, hidup kita sendiri mesti merupakan satu bentuk pewartakan. Biarkan hidup kiita berbicara tentang kerajaan Allah. Dalam Injilnya, St. Mateus menegaskan bahwa kita dapat menjadi penjala manusia, membuat kehadiran kita punya daya rubah bila seperti para murid pertama, kita siap meninggalkan pantai masa lalu kita, siap merajut jala baru; di mana kita hadir di sana hidup dan kehadiran kita dapat membawa sesama ke arah hidup yang lebih baik; di mana kita hadir apa yang kita hidupi, apa yang kita katakan dapat menarik sesama meninggalkan masa lalunya untuk memulai satu hidup baru. Hidup baru hanya mungkin bila kita bersedia, rela meninggalkan hidup kita yang lama. Sikap Yesus bukan saja membuat Simon dan kawan-kawannya tahu untuk menjala ikan tetapi lebih dari itu mereka dapat memahami bagaimana menjala manusia lewat kehadirannya. Dan ini hanya mungkin bila seperti para rasul kita bersedia meninggalkan jaring-jaring masa lalu kita; hidup kita yang lama, hidup yang lebih banyak mencerai beraikan, keinginan untuk menang sen-diri, mengabaikan kehadiran sesama, ketiadaan kerendahan hati. Bila semuanya ini terjadi dalam kebersamaan kita, mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus, dapat kita saksikan dalam - kita karena kehadiran kita merubah kisah hidup ini menjadi jauh lebih baik karena kitalah penjala-penjala manusia jaman ini. Kitalah nelayan-nelayan penjala manusia abad ini untuk itu kjita terlebih dahulu mesti perperang dengan diri kita sendiri, keluar dari diri kita, meninggalkan hidup kita yang lama untuk bisa mengetahui dan merasakan dunia hidup sesama.

Tidak mudah menjaring manusia sama tidak mudahnya kita yang bukan nelayan pergi melaut. Bila hidup ini ibarat sebuah ceritera, kita bertanya, ‘Mengapa ceritera hidup kita belum juga berubah? Karena kita belum menyadari bahwa masing-masing kita punya nilai dan keha-diran kita dapat memberi warna yang khas bagi kebersamaan. Kita semua menghendaki hidup bahagia tetapi kehadiran kita justeru membawa pengaruh yang sebaliknya. Seperti Yunus dan rasul Paulus, kita adalah utusan-utusan Kristus jaman ini untuk mengubah ceritera hidup ini menjadi jauh lebih baik; hidup dan kehadiran kita mesti bernilai injili, berpesan. Pada kita ada kemampuan untuk membuat mukjizat lewat kehadiran kita, hanya apakah kita menyadarinya atau tidak. Kitalah nelayan-nelayan penjala manusia abad. Tetapi untuk itu, kita mesti berperang dengan diri kita sendiri, keluar dari diri sendiri bertolak lebih ke dalam, untuk bisa mengetahui dan merasakan dunia sesama. Tentang bagaimana mengartikan kehadiran kita dalam kebersamaan, Khalil Gibran menulis:
Bagi bunga memberi madu adalah kesenangan
Bagi lebah mengisap madu adalah kesenangan
Bagi bunga lebah adalah duta cinta
Bagi lebah bunga adalah pancaran kehidupan
Bagi keduanya memberi dan menerima adalah kesenangan
Bila lebah dan bunga yang tidak berbudi bisa saling mengartikan, mengapa kita manusia makhluk yang berbudi tidak dapat melebihi mereka, merubah kisah hidup ini menjadi jauh lebih baik......

[ back ]