Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 05-01-2017 | 21:57:11
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "KAMI TELAH MELIHAT BINTANGNYA".

Mateus 2: 1-12, Minggu, 8 Januari 2017

Kita semua pernah melihat bintang dan masing-masing kita punya bintang tetapi tidak semua kita bisa menjadi bintang. Walaupun demikian berdasarkan potensi yang ada pada kita, saya optimis, kita semua punya peluang menjadi bintang. Bintang, benda langit yang bercahaya pada malam hari. Kehadirannya membuat suasana langit nampak lain. Mungkin suasana inilah yang memunculkan apa yang sering kita dengar, ‘hidup tanpa cinta ibarat langit tak berbintang’ kosong dan membosankan. Dalam astrology, bintang dikatakan sebagai konfigurasi planet-planet yang dipercaya punya pengaruh terhadap nasib ataupun karakter seseorang; lihatlah tanggal lahir anda, anda akan tahu apa bintang anda dan apa yang dikatakannya tentang anda. Selain meramal nasib, konon bintang dapat dijadikan kompas penentu arah ataupun untuk membaca suasana alam. Di samping bintang di langit; kita juga menemukan aneka bintang dalam hidup; ada bin-tang jasa yang diberikan kepada orang yang punya jasa di bidang tertentu; ada bintang kelas, orang yang punya prestasi dan dijadikan contoh bagi yang lain, ada bintang kehidupan, orang yang padanya kita menggantungkan hidup, ada bir bintang yang kata orang sesudah beberapa gelas, ia akan memindahkan bintang-bintang di langit ke dalam kelopak mata kita. Tanpa mengabaikan semua kenyataan ini, ada hal yang patut dicatat; bintang punya cahaya, dapat dijadikan penunjuk arah dan kehadirannya mewakili sesuatu yang lain. Bila dibandingkan dengan kehadiran kita di antara yang lain, apakah kitapun dapat menjadi salah satu bintang dari bintang-bintang yang ada?

Ternyata natal, kelahiran dan kehadiran seorang anak manusia punya pengaruh terhadap orang-orang sekitar. Dia bisa mempersatukan bisa juga mencerai-beraikan; mendekatkan kita dengan kita, bisa juga menjauhkan kita dengan mereka. Hal ini bergantung pada suasana hati saat menyaksikan kelahiran ataupun kehadiran pribadi tersebut; kalau kelahiran/kehadiran itu direncanakan dan diharapkan jelas dia akan menarik, menjadi berita gembira tetapi bila sebaliknya, penderitaanlah yang akan kita saksikan. Mateus berkisah, satu hari entah kapan dua ribu tahun silam, dituntun oleh cahaya bintang, tibalah para majus di Yerusalem. Mereka datang dari Timur untuk bertemu dan menyembah raja yang baru lahir. Di sini bintang berperan sebagai penerang perjalanan mereka, penunjuk ke arah mana mereka mesti berlangkah dan menandakan hadirnya sang penyelamat. Sebagai wakil bangsa-bangsa kafir, para majus menunjukkan keterbukaan kaum kafir terhadap kedatangan sang penyelamat. Perjalanan jauh yang ditempuhnya menjadi bukti betapa besar kerinduan banyak orang untuk bertemu dengan Allah yang kita imani dan mereka punya keinginan besar untuk mengalami situasi selamat. Selain itu, para majus hendak mengingatkan kita bahwa kita hanya akan menyaksikan kelahiran, hidup baru, perubahan, perwujudan mimpi kita bila kita mau berjuang dan membuka diri, belajar dari dunia di sekitar kita, pandai membaca tanda-tanda alam, tanda-tanda jaman. Reaksi sebaliknya, kita temukan pada diri Herodes dan orang-orang Yahudi; mereka melihat kehadiran bintang sebagai sesuatu yang biasa seperti apa yang mereka saksikan pada malam-malam yang sudah mereka lewati dan kehadiran raja baru dilihat sebagai ancaman. Reaksi ini menunjukkan bahwa karena enggan keluar dari diri sendiri dan bersikap tertutup. Karena melihatnya sebagai hal biasa, mereka sulit membaca apa yang dihadirkan oleh tanda-tanda di sekitar mereka. Lebih dari itu karena merasa dirinya mapan, mereka lalu melihat kehadiran sesama sebagai ancaman terhadap kemapanannya; sehingga tidak jarang sesama dilihat sebagai musuh yang harus disingkirkan dengan cara apapun. Sikap Hero-des dan orang Yahudi sebenarnya mewakili sikap kebanyakan dari kita. Kita sering merasa terganggu atau terancam bila kita mendengar tentang kesuksesan sesama. Seperti Herodes dan orang-orang Yahudi, hal ini kita tunjukkan dengan menggunakan kata-kata yang baik untuk menyelimuti niat buruk dalam hati kita; pergi dan selidikilah, lalu beritakan kepadaku supaya akupun datang untuk menyembahnya. Para majus dan Herodes menggunakan kata yang sama ‘meyembah’ dengan maksud yang tidak sama. Lalu, siapakah kita dalam kesehadiran kita? Salah satu dari para majus ataukah Herodes-Herodes kecil jaman ini yang mejadi duri dalam daging kehidupan sesama?

Kita punya bintang dan kita punya peluang untuk menjadi bintang dalam kebersamaan. Di sekitar kita ada begitu banyak majus kecil yang merindukan kehadiran bintang-bintang kecil yang dapat menghantar mereka untuk menemukan Tuhan yang kita imani. Bila kita tidak dapat menjadi raja baru yang mempersatukan biarlah kita menjadi bintang penerang, penunjuk ke arah mana mereka mesti berlangkah dan tanda kehadiran sang penyelamat. Bila kita tidak dapat menjadi bintang biarlah kita menjadi orang-orang yang memiliki keterbukaan para majus yang mampu membaca tanda-tanda kehadiran Tuhan dan punya kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan. Bila kita tidak dapat menjadi seperti para majus, jangan kita memperpanjang barisan Herodes-Herodes jaman ini yang melihat sesamanya sebagai musuh yang mesti disingkirkan. Semoga karena kehadiran kita yang berpesan, mereka yang merasakannya dapat berkata, ‘kami telah melihat bintang dan kamipun ingin menyembah Dia.

[ back ]