Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 30-12-2016 | 00:00:23
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : SELAMAT TAHUN BARU

Luk 2:6-21; Minggu, 1 Januari 2017

SELAMAT TAHUN BARU. Ucapan Selamat Tahun Baru mungkin masih terngiang di telinga, masih segar dalam ingatan kita. Dan mungkin anda baru saja selesai melayani tamu yang datang berkunjung ataupun baru kembali ke rumah setelah seharian keluar untuk menyalami tetangga dan sahabat kenalan. Selamat tahun baru; kata-kata ini merupakan kata-kata yang sudah biasa kita ucapkan entah langsung, melalui kartu dan SMS ataupun via telepon kepada mereka yang kita kenal. Kata-kata ini sering kita ucapkan sambil mengulurkan tangan, memberi rangkulan dan ciuman. Kata-kata ini dengan segala ekspresinya mengisyaratkan; luapan syukur karena kita telah melampaui tahun lama dengan baik dan boleh memasuki tahun yang baru dalam keadaan sehat walafiat. Kata-kata yang sama mengungkapkan keterbukaan dan kerelaan kita untuk melepaskan tahun yang lama dengan segala pahit dan manisnya. Kita siap menyongsong tahun yang baru yang masih menyimpan 1001 teka-teki yang mesti diungkap. Selain itu, di balik kata-kata ini terbersit harapan setiap kita; semoga tahun yang baru ini membawa berkat dan keselamatan bagi diri sendiri dan bagi mereka yang menerimanya. Si penerima dan kita sendiri memperoleh sejahtera di tahun yang sedang mulai kita tapaki. Lebih jauh dari itu; mau diungkapkan kenyataan bahwa sudah tidak ada lagi rintangan yang menciptakan jurang pemisah antara saya dengan anda. Sebagaimana berlalunya sang waktu; tidak ada lagi saling marah, iri, dendam, cemburu dan rasa-rasa lain yang memisahkan kita dengan kita. Heran, teknologi telah membuat semua tidak berbatas dan begitu gampang dijangkau, dia mendekatkan yang jauh dan mengeratkan yang dekat tetapi mengapa kita yang menggunakannya begitu sulit untuk bertemu dan begitu sering membuat banyak pembatas tidak kelihatan. Mestinya yang lama kita tinggal tanggalkan dan kita coba mengenakan manusia baru; manusia-manusia yang dikuasai oleh kasih yang menyatukan segala perbedaan; manusia-manusia yang kehadirannya membawa berkat selamat dan selamat bagi orang lain. Ungkapan ini jadi basa-basi bila masih ada rintangan antara saya dengan anda, kita dengan mereka. Kita lakukan ini ataupun kita menyampaikan kata-kata ini sekedar pamer dan mengarus.

Tahun baru yang kita nantikan sedang kita tapaki dan sebentar lagi akan menjadi masa lampau ketika kita kembali masuk dalam rutinitas kita. Yang penting bagi kita bukan barunya tahun tetapi adanya perubahan dalam diri kita, adanya sesuatu yang baru dalam diri kita. Setelah mendengar berita yang dibawa malaikat, para gembala langsung bergegas ke Betlehem menyaksikan kelahiran Yesus dan di sana mereka mengatakan apa yang disampaikan malaikat kepada mereka tentang DIA. Lalu sesudah itu apa yang mereka saksikan mereka bagikan kepada orang-orang yang mereka temui dengan penuh rasa syukur dan pujian. Kita baru saja merayakan natal; seperti para gembala, kitapun baru kembali dari Betlehem kita masing-masing, menyak-sikan peristiwa kelahiran Yesus dirayakan. Kenyataan ini mesti membuat kita merasa terpanggil untuk memberi warna baru bagi tahun yang lorong-lorongnya mulai kita telusuri. Pesan-pesan natal harusnya sudah menemukan wujudnya dalam laku, hidup dan kata kita. Mungkin saja kerlap-kerlip lampu hias di kandang natal tidak lagi semenarik hari-hari kemarin, tetapi kita sendiri, kehadiran kita mestinya sudah menghadirkan kerlap-kerlip itu, cahaya-cahaya kecil dalam keseharian kita; di mana kita hadir di sana kita menjadi sumber terang dan pembawa kegembiraan bagi sesama. Inilah pemandangan yang sudah harus disaksikan di awal tahun yang baru ini. Apa artinya perubahan angka tahun bila hidup kita sendiri tidak berubah? Apa artinya Selamat Tahun Baru kalau hati kita masih dipenuhi paket-paket tahun yang lama; dendam, cemburu, iri, kemalasan, keangkuhan dan pengabdian penuh pengkotakan? Kepada Harun, Allah berkata; bangsa Israel akan menjadi bangsa yang terberkati, dilindungi dan damai sejahtera akan dilimpahkan kepada mereka. Tetapi untuk semuanya itu mereka terlebih dahulu harus membuka diri untuk menerimanya. Dan ini hanya mungkin bila mereka bersedia meninggalkan masa lalunya, meninggalkan kenangan-kenangan padang gurun. Seperti Allah yang bersedia mem-berkati semua orang; demikian juga mereka mesti menjadi berkat bagi sesamanya, orang-orang di sekitarnya. Jaman Harun sudah lama berlalu, di tahun yang baru ini, seperti Harun, kitapun diingatkan untuk menjadi berkat bagi sesama; karena bila dahulu Allah berbicara melalui para nabi dan PuteraNya; pada jaman ini, di tahun yang baru ini kitalah yang dipanggil Allah untuk berbicara atas namaNya. Kitalah Harun-Harun jaman ini, yang mesti menjadi saluran rahmat dan berkat bagi sesama. Tetapi untuk itu kita mesti belajar bagaimana beriman seperti yang ditunjukkan Maria, wanita yang dipilih menjadi bunda Allah, bunda penebus kita. Dia dipilih menjadi bunda penebus dengan alasan yang sederhana, dia terbuka terhadap kehendak Allah; karena segala sesuatu yang didengarnya, yang dilihatnya disimpannya dalam hati dan dire-nungkannya. Dia membiarkan hidupnya berkata-kata tentang kasih dankebaikan Tuhan. Kita kita dapat menjadi seperti dia, pengaruh ucapan selamat yang kita sampaikan akan terlihat dalam cara hidup, tutur kata dan laku kita; di mana kita hadir di sana sesama merasa diberkati, menikmati kedamaian dan mengalami suasana selamat.

Tahun lama telah berubah menjadi kenangan dan kanvas tahun baru mulai kita warnai. Banyak yang sudah meninggalkan tahun yang lama tapi tidak sedikit dari kita yang masih mengenakan manusia lama. Banyak orang yang masih gelisah karena tidak sedikit soal tahun lama yang belum tuntas. Sedangkan kita sedang menikmati suasana tahun baru, ada kegem-biraan, ada pula kecemasan karena karena tahun yang baru ini ibarat sebuah rimba yang harus dijelajahi, sarat rahasia dan penuh teka-teki. Kecanggihan teknologi telah membuat dunia tidak berbatas mestinya kita yang menggunakannyapun tidak lagi membuat pembatas-pembatas yang memisahkan kita dari sesame. Untuk tidak tersesat, kita butuh kompas penunjuk jalan. Gereja telah memilih orang yang pas untuk tugas ini. Bila kita seperti Maria; rendah hati dan terbuka terhadap rahmat Allah, ucapan selamat tahun baru bukanlah satu ucapan sekedar basa-basi tetapi sungguh bermakna karena kita sungguh mau menjadi pembawa berkat dan selamat bagi sesama. SELAMAT TAHUN BARU.

 

 

[ back ]