Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 10-12-2016 | 09:06:18
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "KATAKAN TERUS TERANG"

Mat 11:2-11, Minggu, 11 Desember 2016

Lidah manusia tak bertulang sehingga mudah bagi kita untuk memutar balik apa yang mesti kita katakan. Kita suka berputar, hasilnya orang tidak mengerti apa yang kita maksudkan. Karena itu, “KATAKAN TERUS TERANG”.

Mendengar topik ini, kita sepertinya diingatkan akan syair lagu Kous Plus;’mari-mari..berterus terang...jangan lewat pintu belakang....kata-kata ini sederhana tetapi di balik kesederhanaannya, ia hendak menunjukkan bahwa hidup ini tidak sesederhana yang kita bayangkan. Kita cenderung berputar-putar dalam menyampaikan sesuatu sehingga kita sulit dimengerti dan apa yang disampaikan tidak mudah dimengerti. Kita menyangka semua orang dengan sendirinay me-ngerti apa yang kita sampaikan. Berterus terang bukan satu pekerjaan yang mu-dah, karena hal ini berhubungan langsung dengan diri kita dengan segala manifestasinya. kita mesti bergulat dengan diri sendiri; ada aneka alasan dan beragam pertimbangan untuk itu atau mungkin kita punya pengalaman mengecewakan berhubungan dengan hal ini, keterbukaan kita justeru menjadi bumerang bagi diri sendiri. Kata-kata ini memberi jawaban mengapa kita menemukan banyak soal dalam kebersamaan; kata-kata kita sering tidak menjadi wakil yang baik dari apa yang ada dalam hati kita atau tidak mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. Karena itu, kata-kata inipun dapat dijadikan dorongan agar kita lebih bersikap terbuka; mengatakan apa adanya tanpa mengada-ada bila kita menghendaki ceri-tera hidup ini berubah. Bila hal ini kita lakukan, banyak soal dapat dihindari, tidak sedikit masalah dapat diatasi. Kita merin-dukan terang dan selalu berada dalam terang tetapi kita belum mampu berterus terang. Untuk itu kita mesti mengalahkan diri kita sendiri.

Masa adventus adalah moment berahmat....saat di mana kita dihadapkan pada aneka cermin untuk menata kembali hidup kita; tidak saja untuk menyambut kelahiran sang juru selamat tetapi juga untuk menyongsong kelahiran kita sendiri sebagai manusia-manusia baru. Hari ini kita memasuki minggu ketiga masa adventus, hari ini kita diajak untuk berbicara tentang terang secara terus terang. Listrik yang padam menghilangkan terang dan menempatkan kita dalam kegelapan dengan aneka komentar. Kita merindukan terang dan ingin selalu berada dalam terang tetapi kerinduan ini belum juga mampu mendorong kita untuk berbicara terus terang tentang terang; menampilkan diri kita apa adanya, tanpa mengada-ada dan tanpa basa-basi. Untuk itu gereja kembali mengingatkan kita bahwa sebagai orang-orang beriman, di mana saja kita hadir di sana kita mesti berani berbicara tentang terang secara terus terang, tentang Yesus cahaya yang kehadiranNya selalu merubah jalan ceritera hidup manusia dengan bersedia hadir sebagai manusia-manusia baru; manusia-manusia yang mau berterus terang; memberi kesaksian bahwa yang akan lahir bukanlah Yesus tetapi kitalah yang mau lahir baru sebagai terang hidup bagi mereka yang ada di sekitar kita. Salah satu cara untuk membuktikan hal ini adalah dengan mengurangi kebiasaan berputar-putar dalam menyampaikan sesuatu. Dalam hal ini, kita mesti belajar dari Yohanes Pembaptis. Saat banyak orang mempertanyakan siapa dia; dengan terus terang ia mengatakan bahwa ia bukan mesias yang dinantikan; ia hanya pewarta yang menyiapkan kedatangan mesias. Di sini kata sikap ‘berterus terang’ menjadi nada dasar pesan ini. Berterus terang berarti tidak berputar-putar; mengatakan apa adanya tanpa mengada-ada; apa yang kita katakan, itulah yang kita hidupi dan apa yang kita hidupi, itulah yang kita katakan. Tekanan ini merupakan awasan bagi kita untuk berhati-hati dengan kecenderungan kita yang lebih berdampak negatif ketimbang positif. Kita cenderung menari dengan irama lain di bibir lain di hati. Sikap terus terang memungkinkan kita terhindar dari salah paham atau salah tafsir terhadap apa yang disampaikan. Yohanes dengan tegas dan jelas menyatakan siapa dia; dia hanya bersaksi tentang orang yang mereka nantikan tetapi dia bukan orang yang mereka nantikan. Seperti Yohanes, kita dipanggil untuk menjawabi kebingungan sesama atas kehadiran kita; kita harus menunjukkan bahwa kita orang-orang kristen bukan hanya dalam kata-kata tetapi lebih dalam hidup. Hidup kita harus menjadi bukti kesejatian kita sebagai orang-orang kristen; orang-orang yang bersaksi tentang terang, Kristus yang sedang datang lewat hidup.

Disadari ataupun tidak, wajah kebenaran semakin sulit dilukiskan sehingga hidup kitapun semakin menggelisahkan. Sebagai orang-orang yang mengimani Allah yang adalah sumber kebenaran, kitalah yang mesti merasa terpanggil untuk mengumpulkan serpih-serpih kebenaran yang tercecer, membangkitkan semangat untuk berterus terang tanpa mengada-ada. Untuk itu, kita mesti mengalahkan diri sendiri. Bila dua ribu tahun silam, Yesus adalah terang yang diwartakan, sekarang dan di sini kitalah yang mesti menjadi terang itu. Bila dua ribu tahun silam, Yohaneslah yang diutus untuk berbicara tentang terang itu, sekarang dan di sini kitalah yang bertugas berbicara tentang terang itu secara terus terang. Kalau kita tidak bisa berterus terang biarlah kita menjadi orang yang mau belajar hidup apa adanya tanpa mengada-ada. Kalau kita tidak bisa menjadi terang, biarlah kita berusaha untuk selalu berterus terang....Bila tidak, jangan suka berputar-putar karena dunia yang sudah bingung akan semakin bingung oleh sikap kita yang membingungkan.

[ back ]