Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 02-12-2016 | 19:38:08
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "LURUSKAN JALAN BAGINYA"

Mateus 3:1-12; Minggu; 4 Desember 2016

Setiap kita punya hati tetapi tidak semua kita menggunakan hatinya untuk berelasi dengan dunia. Mengapa kita menjumpai banyak soal dalam hidup? Karena kita hanya mau mengikuti kata hati kita tanpa bersedia membuka hati kita terhadap dunia luar. Kita ingin orang lain merasakan apa yang kita rasakan tetapi kita tidak membiarkan hati kita ikut merasakan apa yang sedang dirasakan sesama, kita mau dimengerti tetapi kita tidak berusaha untuk bisa memahami dunia orang lain. Dalam diri kita sendiri ada perang kepentingan antara keakuan kita di satu sisi dan sosialitas kita di pihak lain; kita lebih mudah mengor-bankan sesama demi kepentingan diri ketimbang kesediaan kita untuk berkorban demi kepentingan bersama. Tidak heran bila begitu sering kita ditolak dan kehadiran kita lebih banyak mendatangkan penderitaan bagi sesama ketimbang menjadi sumber kegembiraan bagi mereka. Ingat, hati adalah tempat tumbuh aneka rasa yang kemudian membidani lahirnya aneka efek bagi kehadiran kita di antara yang lain. Ia dapat menjadi tempat tumbuh kasih dengan seribu satu ceritera tentang dahsyatnya pengaruh rasa yang satu ini dan tempat yang sama dapat menjadi lahan subur tumbuhnya rasa benci dengan segala dampaknya yang selalu menciptakan mendung pada langit hidup kita. Situasi akan kembali normal, ceritera hidup kita akan berubah menjadi jauh lebih baik, bila hati kita kembali diberi peran saat kita hendak membuat sejarah.

Apakah hidup kita sudah jauh lebih baik dari hari-hari kemarin? Adventus adalah kesempatan untuk menata kembali ruang hati kita yang selama ini telah dijadikan tempat tumbuh rasa-rasa yang mencerai-beraikan. Sudah sejauh mana hati kita berperan positif untuk merubah kisah hidup ini; memberi warna yang khas bagi kehadiran kita dalam kebersamaan? Agar tidak kehilangan orientasi hidup, di hari-hari penantian ini, kita tidak hanya diminta untuk menanti tetapi juga digugah untuk melakukan sesuatu dalam mengisi hari-hari penantian itu. Penantian itu bernilai bukan karena lamanya tetapi karena apa yang kita buat selagi kita menanti. Dan hidup baru tidak bergantung dari lamanya kita menanti tetapi ditentukan oleh sejauh mana kita memanfaatkan hari-hari penantian itu untuk merubah, membaharui relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Karena itu kita diminta untuk bertobat; berusaha mengosongkan ruang hati kita yang telah dipenuhi dengan aneka rasa yang menjadi sebab terciptanya bukit dan lembah dalam relasi kita dengan yang lain, memisahkan kita dengan kita. Kerajaan Allah hanya mungkin dirasakan kehadirannya saat bukit keangkuhan dan lembah kecongkakan kita diratakan dan dijembatani; rasa iri, benci, dendam dan cemburu diganti dengan rasa saling memahami, pengampunan dan kasih, mata kita yang memandang sesama sebagai musuh yang harus ditaklukan mesti diganti dengan mata yang melihat mereka yang lain sebagai sahabat yang harus dikasihi. Tuhan yang kita nanti hanya ingin bertemu dengan kita di tempat rata, arena hidup tanpa pengkotakan, keanekaan suku tanpa konflik, kemajemukan budaya tanpa sikap superior, wilayah penuh perbedaan tanpa kecenderungan untuk mempertajam kenyataan, punya satu hati di mana kasih persaudaraan menjadi bingkainya. Adventus hanya mungkin berarti bila saat-saat berahmat ini dijadikan kesempatan untuk dibaptis ulang; dilihat sebagai peluang untuk membaharui komitmen kita saat dibaptis; mengakui hanya satu Allah yang kita sembah, menolak setan dengan segala manifestasinya. Inilah model hidup dan penantian yang menghasilkan buah. Perlu disadari bahwa kitalah yang menjadi sebab lahirnya aneka masalah dalam hidup karena itu kita jualah yang harus menjadi penyembuh situasi suram ini. Kehadiran kita mesti menjadi isyaratkan pentingnya pertobatan diri menuju hidup baru. Dunia akan berubah kalau kita mau berubah, kerajaan surga akan kita alami, kalau kita mau memberinya sedikit ruang dalam hati kita. Bila tidak nasib kita akan seperti jerami yang cocok menjadi umpan api.

Kelahiran baru, hidup yang dipenuhi rasa damai dan kasih sedang menjelang. Adventus; kesempatan untuk menata kembali ruang hati kita yang telah diracuni aneka sikap yang merusak relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Hidup baru hanya mungkin dan kisah hidup ini akan berubah bila ruang hati kita terlebih dahulu dirubah. Hati menjadi kunci segalanya, ia menentukan ada tidaknya perubahan. Untuk itu, tidak perlu menyerukan pertobatan seperti apa yang dilakukan oleh Yohanes pembaptis, cukup kita memulai seruan itu dengan merubah pola hidup kita sendiri. Karena boleh jadi, suara hidup kita berseru lebih nyaring dari pada suara yang keluar dari mulut kita. Bila hidup dan relasi kita sudah diberi wajah baru, dengan sendiri kehadiran kita akan berubah menjadi satu seruan pertobatan.

[ back ]