Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 02-04-2016 | 01:43:09
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "COBA RUBAH HALUAN"

Yoh 21:1-19, Minggu, 10 April 2016

Saya tidak tahu apakah anda berjiwa musik atau tidak, yang saya tahu hampir semua kita suka akan musik tentu saja dengan selera yang beraneka; ada yang suka akan irama lagu yang menghentak-hentak, ada lagi yang suka akan musik jazz dan yang lain lagi yang suka akan musik klasik. Tetapi ini tidak saya maksukkan saat saya mau berbicara tentang topik di atas. Saya ingin mengajak anda melihat sedikit teori musik, saya mau berbicara tentang modulasi. Modulasi dalam musik berarti perpindahan nada dasar di tengah lagu. Perpindahan ini tentu saja punya alasan; membuat lagu tidak monoton atau sang musisi ingin mempertegas intisari dari lagu tersebut; sebuah pemberontakan atau satu jurang musik perubahan suasana. Dan menurut para musisi, enaknya lagu ada di dalam pertukaran itu. Di balik semuanya itu, kalau musik merupakan ekspresi situasi batin manusia; modulasi menunjukkan dinamika kehidupan manusia, kadang kita butuh perpindahan atau perubahan irama untuk menemukan perubahan irama hidup agar lagu ke-hidupan ini tidak membosankan. Masuk ke dunia nyata, kita menemukan bahwa kadang kita frustrasi karena apa yang kita perjuangkan tidak membuahkan hasil. Di sini seharus-nya tiap kegagalan mendorong kita untuk membuat evaluasi untuk menemukan alasan yang tepat mengapa kita gagal. Bila kita mau membuat evaluasi yang serius kita bisa me-nemukan beberapa kenyataan yang dapat membantu kita mengatasi kegagalan kita; pertama, kita gagal karena usaha kita tidak didukung. Kedua, kita gagal karena keinginan kita lebih besar dari pada kemampuan yang kita miliki. Ketiga, kita gagal kita tidak mau belajar dari kegagalan kita; pola kerja kita yang menyebabkan kegagalan itu tidak dirubah padahal ada begitu banyak pola kerja yang dapat merubah mimpi kita menjadi kenyataan. Menghadapi kenyataan ini; variasi, modulasi dalam irama kerja dirasakan perlu; agar kerja kita tidak membosankan dan pendekatan baru dapat merubah hasil usaha kita.

Dua minggu telah berlalu, kemeriahan pesta Paska kembali tenggelam dalam kesibukan harian kita di mana diharapkan pesan-pesan Paska mulai menemukan wujudnya dalam laku dan kata kita. Seharusnya semakin jauh kita meninggalkan ruang pesta ini, gaung pesta ini semakin menyatu dengan denyut nadi kita, mempengaruhi hidup dan relasi kita dengan dunia. Mestinya sudah ada modulasi-modulasi kecil dalam irama kehidupan kita, kemeriahan Paska sudah nampak dalam keceriahan relasi kita dengan Tuhan dan sesama; mereka mestinya sudah bisa melihat pengaruh pesta ini dalam hidup dan karya kita. Tetapi bagaimana mungkin kita mengalami modulasi dalam hidup kalau kita masih setia pada irama hidup yang lama; bagaimana perubahan bisa kita rasakan kalau kita sendiri tidak mau berubah; kita ingin relasi kita yang retak dibaharui tetapi kita masih saja setia mengungkit-ungkit kesalahan sesama, pandangan negatif kita tentang mereka tidak berubah. Irama hidup ini tidak akan membosankan kalau kita siap berubah haluan, merubah pola pandang dan pendekatan kita terhadap hidup dan berhadapan dengan sesama. Kisah injil hari ini, menunjukkan hal ini. Haluan perahu hidup kita perlu berubah. Suatu ketika entah kapan 2000 tahun silam, saat kebingungan tak bisa diajak kompromi; Petrus mengajak murid yang lain untuk melaut. Setelah semalaman bekerja mereka tidak mendapat seekor ikanpun. Saat kekecewaan sedang memuncak, Yesus menampakkan diriNya. Atas perintahNya, perahu-perahu berubah haluan dan banyak ikan yang ditang-kap. Pertama, Petrus mengajak murid-murid yang lain untuk pergi menangkap ikan. Beban hidup ini diringakan bila kita mau melihatkan sesama. Banyak kali kita berbuat nekad karena kita mau jadi pahlawan dengan mengandalkan diri sendiri. Kedua, Petrus dan teman-temannya menangkap begitu banyak ikan karena bersedia beralih lokasi penangkapan. Begitu sering kita gagal meraih apa yang kita harapkan karena kita menutup diri terhadap sesama dan tidak rela perubahan merubah hidupnya. Perubahan hanya mungkin bila kita bersedia merubah haluan dan punya kesediaan mendengarkan sesama. Ketiga, saat itu mereka mengenal Yesus. Perubahan haluan hidup menghantarkan kita pada pengakuan akan peran sesama dalam hidup kita. Kita gagal bertemu dengan Dia, mengartikan peran sesama karena kita lebih melihat, membuang banyak waktu mempersoalkan kegagalan kita ketimbang belajar dari kegagalan untuk meraih sukses. Di sini kesibukan bukanlah alasan untuk tidak bertemu dengan Tuhan; kesibukan harusnya menjadi jalan bagi yang lain untuk dapat bertemu dengan Tuhan. Kita begitu berkonsen-trasi kepada rutinitas kita lalu lupa bahwa Tuhan dapat ditemui di mana saja.

Kita punya banyak impian untuk diwujudkan. Namun banyak kali kita gagal karena kita hidup dalam kebersamaan tetapi kita tidak bersedia menerima kehadiran sesama, mengakui peran positif mereka. Selain itu, kita juga gagal membuat mimpi kita menjadi kenyataan karena kita tidak mau menerima anjuran dari yang lain dan tidak rela berubah haluan. Tidak jarang kesibukan diri untuk membuat impian kita menjadi kenyataan, menjadi sebab mengapa kita sulit mengenal Tuhan dan kehadiranNya. Bila semuanya ini adalah kelemahan kita; sudah saatnya kita berubah haluan kalau yang kita inginkan adalah keberhasilan. Hanya orang-orang yang siap berubah haluan yang akan merupakan orang-orang yang memiliki sejarah. Hanya orang-orang yang tidak saja melihat kepen-tingan diri, yang akan mampu bertemu dengan Yesus yang bangkit. Tuhan punya cara sendiri untuk memperkenalkan diriNya dan kita harus punya cara sendiri bagaimana bisa mengenal Dia.

“Bila anda siap berubah haluan, segalanya akan ikut berubah. Karena perubahan dalam diri anda, ikut mempengaruhi perubahan dalam hidup sesama”.

[ back ]