Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 18-03-2016 | 22:27:50
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "TUHAN TIDAK BERUBAH"

Luk 24:1-12; Sabtu, 26 Maret 2016

Saling berkirim surat sudah menjadi keseharian kita dan mungkin juga sudah ditinggalkan dengan adanya HP yang menghemat waktu, mempersempit jarak. Dari satu SMS terbaca: “Sahabat lama sudah kita tak jumpa, walau demikian saya tidak akan pernah melupakanmu. Engkau adalah pelita suka akan nyala, satu bunga api yang pernah hadir dalam kegelapan hidup saya. Sulit untuk mencari kata yang pas untuk melukiskan pengaruh kehadiranmu dalam hidup saya selain dengan menggunakan perbandingan-perbandingan. Jarak dan waktu boleh memisah-kan kita tetapi nilai persahabatan yang pernah kita bangun tak pernah akan lapuk. Memang ada banyakperbedaan di antara kita yang membuat kita silang pendapat tetapi itu ekspresi kekayaan yang kita miliki dalam kebersamaan. Selagi masih ada waktu selama itu pula kerinduan saya untuk bersua denganmu. Teman, saya masih seperti yang dahulu”. Boleh jadi SMS ini menarik untuk disimpan, menggoda kita untuk bernostalgia; berlari ke masa lalu; bapa-mama tersenyum mengenang saat-saat indah dahulu, para muda kembali diingatkan akan SMS-SMS yang mem-buat mereka tersenyum dalam tidur dan gelisah selagi duduk. Itulah nilai sebuah kehadiran bagi mereka yang pernah dan sedang merasakannya. Inilah ungkapan tulus seorang yang merasa bernilainya kehadiran orang lain dalam hidupnya. Itulah makna abadi dari pencarian manusia untuk mendapatkan kebahagiaan yang pernah dirasakan. Aku masih seperti dahulu; suatu ajakan untuk kembali ke titik awal; di mana semuanya baik tanpa banyak warna masalah; perbedaan sebagai kekayaan, semuanya dinikmati bersama, satu pernyataan apakah sudah ada perubahan di sana? Satu isyarat bahwa kehadiran kita di antara yang lain perlu dipersoalkan lagi; bagaimana dengan pengaruh kehadiran kita dalam kebersamaan?

Inilah kisah dua anak manusia yang tidak kekal, demikian pula seharusnya relasi kita dengan Tuhan. Bila kita merenungkan semua bacaan yang sudah kita dengar dan melihat kem-bali seluruh perjalanan hidup kita, kita akan mengakui bahwa Tuhan tidak pernah berubah. Dia masih ingin; “MELIHAT SEMUANYA SUNGGUH AMAT BAIK”. Dan di hari inipun Dia mau mengatakan bahwa semuanya masih dalam keadaan baik. Semakin kita menjauh dariNya, Dia semakin mendekatkan diriNya pada kita, semakin kita berusaha untuk tidak mengenal Dia, Dia punya seribu satu jalan untuk memperkenalkan diriNya. Kalau kita tidak lagi mencintai Dia, Dia masih tetap mencintai kita. Sejarah Israel membuktikan bahwa Allah yang mereka imani masih seperti dahulu, Allah yang menghendaki sahabat-sahabatNya selamat. Dalam kesulitan menghadapi laut Merah hidup ini, Dia hadir sebagai pemberi jalan keluar, mereka menyeberangi laut Merah tanpa harus berenang mengarunginya. Di saat kebersamaan manusia tidak lagi men-janjikan harapan akan kebahagiaan karena manusia lebih suka memenangkan kepentingan diri, melalui utusanNya, Ia menawarkan pemecahannya; ‘bila kamu bersedia berjalan melalui jalanKu niscaya kamu akan tetap hidup. Di sini kita disadarkan bahwa adanya banyak soal dalam hidup bukan karena kita tidak sanggup menghindarinya tetapi karena kita sendiri mencari dan menciptakannya. Bila kamu bersedia berjalan dalam terangKu kegelapan tidak akan pernah menguasaimu bahkan sebaliknya kamu akan menjadi seperti cahaya di tengah badai, pelita di ujung terowongan. Ketika hati manusia sudah tidak lagi menjadi lahan yang baik tempat kebaikan dan segala manisfestasinya bertumbuh; Allah hadir melalui nabiNya dengan pernyataan sikap;’ kejahatanmu tidak akan mengurangi cintaKu padamu, bila orang lain mencintai engkau selagi mereka ada di sampingmu, Aku tetap mencintaimu meskipun engkau menjauh dariku. Bila mereka mencintai engkau demi dirinya sendiri, Aku mencintai engkau supaya engkau menjadi dirimu sendiri. Aku masih seperti dahulu. Hatimu yang sudah menjadi sarang kejahatan akan Kutukar dengan hatiKu sendiri; hati yang sabar, suka akan damai, siap mengampuni, tidak menyom-bongkan diri, hati yang melihat sesama sebagai kembaran diri yang patut dikasihi. Ketika maut menjadi sumber ketakutan bagi hidup manusia, melalui PuteraNya Dia hadir meyakinkan bahwa maut tidak akan menguasai hidup karena Dia adalah hidup itu sendiri dan kematian hanyalah sebuah titian untuk memasuki hidup yang baru bagi mereka yang sungguh percaya akan Dia dan hidup menurut kehendakNya. Ketika para wanita mempersoalkan kuburan kosong, melalui para malaekat Dia meyakinkan mereka bahwa hidup baru bukan soal kubur kosong tetapi bagaimana bisa menjumpai Dia di Galilae keseharian kita…di sisi lain Dia hendak mengatakan bahwa hidup ini bukan soal bagaimana menggulingkan batu tetapi masalah bagaimana menghindari batu dan tetap yakin akan kemahakuasaan Allah. Seharusnya hari ini di hadapan kisah bangsa Israel, kita bercermin diri, mempertanyakan kembali bagaimana relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Bila dari dahulu hingga saat ini cinta Tuhan kepada kita tidak berubah, bagaimana cinta kita terhadap Tuhan dan sesama? Masihkah kita memiliki kesetiaan seorang Abraham? Bersediakah kita menjadi jalan keluar bagi sesama untuk bisa menyeberangi lautan soal yang terbentang di hadapan mereka? Masih mungkinkah hati kita menjadi tempat tumbuh kebaikan dan segala manifestasinya? Relahkah kita menjadi seberkas sinar dalam hidup sesama yang mungkin makin kelam? Mampukah kita menghindarkan batu-batu hidup yang terkadang menjadi penghalang sesama meraih sukses dan bertemu dengan Yesus di Galilea kehidupan kita?

Paska, pesta perubahan sudah kita rayakan, pesta kebangkitan ini tengah usai dan merdunya nyanyian paska mulai kehilangan daya magisnya. Malam-malam katekese dan latih nyanyi sudah menjadi kenangan. Kristus telah bangkit dan Allah telah membuktikan bahwa Dia tidak berubah. Sanggupkah kita kembali ke titik awal di mana relasi kita dengan Tuhan dan sesama tidak diwarnai dengan banyak persoalan? Hidup baru hanya mungkin bila kita bersedia meninggalkan hidup kita yang lama. Memang tidak mudah melepaskan apa yang sudah kita hidupi bertahun-tahun tetapi bila kita mau bangkit bersama Kristus ataupun bertemu dengan Dia di Galilea keseharian kita; hidup lama harus rela kita tinggalkan.

“Tuhan tidak pernah berubah, Dia tetap sama dahulu, sekarang dan akan datang, yang berubah adalah kita sehingga kita harus menghadapi aneka soal dalam hidup”.

[ back ]