Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 18-03-2016 | 22:22:25
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "MENGAPA KITA BERSANDIWARA"

Yoh 18:1-19:42; Jumat, 25 Maret 2016

“Mengapa kita bersandiwara”, kata-kata ini mengundang kita untuk melihat ke dalam diri, mengevaluasi sudah sejauh mana kita menampilkan diri apa adanya tanpa mengada-ada. Kata-kata ini juga mengisyaratkan kenyataan bahwa sudah begitu sering kita bersandiwara. Inilah yang menjadi sebab mengapa ada banyak soal terjadi di antara kita. Karena apa yang kita katakan bukanlah apa yang kita hidupi dan apa yang kita hidupi bukanlah apa yang biasanya kita katakan. Di mana kita hadir di sana kita belum menghadirkan seluruh diri dan hati kita. Kita dibaptis dalam nama Yesus tetapi kita belum menjadikan hidup Yesus sebagai hidup kita. Kita punya hati tetapi begitu sering kita tidak berhati-hati, berlaku tanpa hati, kita punya mata tetapi sering kita bertindak seperti mereka yang buta, kita punya rasa tetapi terkadang kita berlaku tanpa perasaan. Kita punya banyak kesempatan untuk berterus terang tetapi banyak kali kita berbohong, kita suka berputar-putar. Banyak orang di sekitar kita yang sedang menderita, kita tahu itu tetapi tidak jarang kita berpura-pura tidak tahu atau lebih buruk lagi kita memanipulasi penderitaan mereka untuk menarik keuntungan bagi diri kita sendiri. Kita bebuat seolah-olah kita begitu memperhatikan mereka tetapi sebenarnya perhatian kita tidak berhati. Apa keuntungan dari bersandiwara selain mempermainkan diri sendiri? Hidup dan apa yang kita lakukan berbicara banyak tentang kita ketimbang apa yang kita katakan tentang diri kita sendiri.

Dari sebuah sandiwara, kita beralih kepada perayaan hari ini; Yesus disalibkan. Hari ini kita memperingati sengsara dan wafatnya Yesus Kristus. Pada tadi kita beramai-ramai menghadiri acara jalan salib; ketika Yesus menyusuri lorong-lorong Yerusalem menuju Golgota. Upacara ini sebenarnya mengundang kita untuk berkaca diri; siapakah bagi sesama di jalan salib kehidupan ini? Mungkinkah kita adalah orang-orang Yahudi lebih suka melepaskan Barabas dan menyalibkan Yesus, gampang berubah sikap seperti berubahnya cuaca ataukah kita adalah Pilatus yang suka mencuci tangan untuk membebaskan diri dari segala soal dan tanggung jawab? Peristiwa hari ini menciptakan seribu satu rasa dalam hati kita; marah, sedih, kecewa teapi apakah rasa yang sama kita miliki saat kita tahu bahwa kehadiran, kata dan laku kita mendatangkan penderitaan bagi sesama? Kita membenci Yudas yang menyerahkan Yesus kepada orang-orang Yahudi tetapi apakah dalam kebersamaan kita jauh lebih baik dari Yudas ataukah kita adalah Yudas-Yudas kecil jaman ini yang mudah mengkhianati sesama, mengabaikan janji-janji kita demi kepentingan-kesenangan diri? Kita mengejek Petrus karena tidak berani mengakui Ye-sus sebagai gurunya tetapi pada saat yang sama kita sendiri tidak berani mengakui kekurangan dan kelemahan kita. Kita marah terhadap para serdadu yang berlaku secara berlebihan terhadap Yesus tetapi apakah kita sendiri sudah berlaku adil terhadap orang-orang di sekitar kita? Bila kita jujur, kita adalah orang-orang yang sedang mengarak sesama menuju penyaliban. Kitalah orang-orang yang begitu mudah menjatuhkan vonis pada sesama karena kebaikan mereka membongkar kebobrokan kita, begitu gampang kita melupakan kebaikan sesama. Selain itu perayaan hari inipun hendak mengingatkan kita bahwa menjadi orang baik dan berbuat baikpun tidak mudah, terkadang kebaikan kita menghantar kita pada penyaliban tetapi kesulitan ini tidak boleh membuat kita berhenti berbuat baik. Yesus sendiri tetap berbuat baik saat Dia berada di atas salib. Lalu mengapa kita masih terus merayakan peristiwa hari ini sedangkan penderitaan kita tidak pernah berakhir. Karena, perayaan hari ini kita ikuti tanpa melibatkan seluruh diri dan hati kita. Kita masih tetap menyalibkan Yesus. Seandainya tiap tahun, dalam perayaan ini yang kita salibkan adalah kekurangan, kelemahan, salah dan dosa kita; ceritera hidup ini sudah jauh berbubah. Membenci Pilatus tetapi tetap menghidupi mental Pilatus, kebencian kita tidak punya daya rubah. Mengejek Petrus tetapi suka menyangkal kebaikan sesama, ejekan kita tidak banyak berarti. Marah terhadap Yudas tetapi membiarkan mental Yudas tumbuh subur dalam diri kita, Yudas akan tetap hidup di antara kita.

Yesus sudah wafat di salib, Dia mati untuk membebaskan kita. Apakah kita juga bersedia untuk menyalibkan segala dosa dan kesalahan kita pada salib kehidupan ini? Apakah kita sudah menemukan siapa kita sebenarnya dalam kebersamaan dan peran apa yang sedang kita lakonkan? Bersediakah kita berubah peran ataukah kita lebih suka bertahan pada peran yang sedang kita pentaskan? Sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus telah terjadi 2000 tahun silam. Yang patut kita lakukan adalah melihat dalam sengsara-penderitaan dan kematian Yesus; penderitaan-sengsara dan kematian sesama karena ulah kita. Mengapa kita bersandiwara karena peristiwa hari ini bukan sandiwara; di jalan salib yang kita ikuti, kita menemukan siapa kita sebenarnya di hadapan sesama. Perayaan hari ini akan sangat bermakna bila kita sungguh menyadari siapa diri kita dan punya kesediaan untuk berkorban demi sesama. Jangan takut memikul salib, takutlah bila saat ini anda sedang menyalibkan sesama anda pada salib kehidupan ini.

“Hidup ini bukan sandiwara, apa ayng kita lakukan, apa yang kita hidupi itulah kita dan siapa sebenarnya kita bagi mereka yang ada di sekitar kita”.

[ back ]