Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 11-03-2016 | 21:06:06
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "JANGAN CEPAT MENGHAKIMI"

Yoh 8:1-11, Minggu, 13 Maret 2016

Sadarkah kita bahwa pada diri kita ada aneka kecenderungan? Kita memiliki seribu satu kecenderungan dalam berelasi dengan dunia dan yang lain baik. Kecenderungan inipun punya dampak yang beragam bagi kehidupan manusia dan relasinya. Dia bisa berdampak positif maupun bisa juga sebaliknya negatif. Ada yang bisa dikembalikan tetapi adapula yang berubuah menjadi satu pandangan hidup. Ada orang yang cenderung untuk meniru, belajar bagimana bisa sama dengan orang lain dalam menyiasati hidup ini. Ada yang cenderung membuka diri hanya kepada orang-orang yang disenangi dan gampang sekali mencurigai orang lain lantaran mereka tidak dikenal. Ada yang cenderung untuk menganggap diri lebih baik dari orang lain lalu berujung pada sikap meremehkan sesama dan mengabaikan kebaikan yang diterimanya sambil mengagungkan apa yang diperbuatnya kepada orang lain. Ada lagi yang suka mencari-cari alasan untuk mengabaikan kelebihan sesama dan ada lagi yang cenderung melihat kesalahan orang lain, menghakimi dan lupa bahwa dirinya tidak jauh berbeda dari mereka yang diadili. Kecenderungan-kecenderungan ini masih pada batas toleransi dalam arti masih bisa diatasi atau dikendalikan. Ia berdampak negatif bila berubah menjadi pandangan hidup atau optio fundame-talis; bukan lagi kecenderungan tetapi kebiasaan. Bagaimana dengan kecenderungan-kecende-rungan dalam diri anda?

Hari-hari puasa yang kita jalani sedang mendekati garis batas. Dalam sebuuah perbandingan, menghitung hari dan melihat usaha yang sudah kita jalankan; mestinya sudah mulai terlihat adanya perubahan dalam diri kita, dalam relasi antara kita, Tuhan dan sesama. Kebiasaan-kebiasaan kita yang lama sudah mulai kita tinggal tanggalkan dan kebiasaan-kebiasaan hidup baru sudah mulai nampak dalam keseharian kita sebagai orang-orang yang sipa bangkit bersama Kristus yang bangkit. Hal ini merupakan satu keharusan karena puasa itu sendiri merupakan kesempatan untuk berbenah diri, saat berahmat untuk membaharui relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Hari-hari tobat ini, mestinya kita gunakan untuk meningkatkan kesadaran bahwa dalam kebersamaan kehadiran kita mesti memberi warna yang kkhas bagi diri sendiri maupun bagi kebersamaan itu. Jangan menghakimi, kata-kata ini menggarisbawahi salah satu kecenderungan kita dalam relasi dengan yang lain. Kita suka dan mudah sekali menghakimi sesama dan menjatuhkan vonis. Jangan menghakimi, pertama-tama sebagai larangan: kita tidak boleh begitu gampang menghakimi sesama karena kita tidak punya hak untuk menghakimi orang lain mengingatnya nasibnya ada di tangannya sendiri, apa yang dilakukannya adalah tanggung jawabnya sendiri, selain itu, yang meng-hakimi harus jauh lebih baik dari pada yang dihakimi. Ingat setiap kita punya potensi yang sama untuk melakukan kesalahan. Sering tindakan ini kita lakukan tidak dilandasi oleh motivasi murni; kita menghakimi sesama hanya untuk menu-tupi kekurangan diri sendiri dn mengabaikan kebaikan sesama. Kedua, kata-kata ini hadir sebagai awasan agar kita berhati-hati dengan kecenderungan yang satu ini. Jangan menghakimi, bila kita melihat sepintas, kata-kata ini seolah-olah meminta kita untuk membiarkan yang jahat bertambah dan yang baik dikenda-likan atau dengan kata lain kita diminta untuk mentolerir kesalahan yang mereka lakukan. Di sini kita diingatkan untuk berlaku adil bila kita memang mau mengha-kimi. Kita boleh menghakimi sesama bila ada bukti kuat yang memberatkan dia bukan dengan alsan yang dicari-cari. Perlu kita ingat bahwa kesalahan sesama tidak berarti berakhirnya riwayatnya. Keseharian kita menunjukkan bahwa sering kita begitu mudah menghakimi sesamanya tanpa alasan yang kuat. Kita lebih mudah melihat kesalahan, lebih mudah mengeritik sesama ketimbang mengakui kesalahan diri sendiri; serbuk di mata sesama lebih besar dari balok yang membendung penglihatan kita. Dalam banyak hal kita berlaku tidak adil terhadap sesama.

Jangan menghakimi, kata-kata ini tidak dimaksud agar kita membiarkan orang lain berbuat sesuka mereka. Kita hanya diminta untuk berlaku adil dalam membuat penghakiman. Kalau kita begitu gampang menghakimi sesama, kita juga harus lebih mudah memohon pengampunan atas salah dan dosa yang kita lakukan kepada mereka. Selain itu, kita mesti punya alasan yang kuat untuk melakukan hal ini terhadap sesama. Di samping itu kita sendiri diminta untuk bersikap adil terhadap diri sendiri; di hadapan hukum semua sama. Kita perlu berhati-hati karena kita punya potensi untuk melanggar hukum dan aturan yang ada jangan sampai tindakan kita kepada sesama jadi bumerang bagi diri kita. Mungkin baik sebelum mengeluarkan serbuk dalam mata sesama kita keluarkan terlebih dahulu balok yang ada di mata kita.

[ back ]