Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 05-08-2015 | 20:49:19
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "BUKAN LAGI KITA YANG HIDUP"

Yoh 6:41-51, Minggu, 09 Agustus 2015

Kita sudah biasa mendengar bahasa kiasan, mungkin juga kita sudah biasa menggunakannya dalam obrolan kita. Bahasa kiasan adalah bahasa yang mengundang setiap kita berpikir lebih dari satu kali untuk memahami maknanya. Agar tidak terjebak dalam memaknainya, si pembaca/pendengar mesti menbaca apa yang tidak ditulis di balik huruf-huruf yang dideretkan, mendengar apa yang tidak dikatakan di balik kata-kata yang terucap dan melihat apa yang tidak diperlihatkan di balik hal-hal yang direkam mata kita Bahayanya tidak semua kita mampu memahami apa yang tersirat dari yang disuratkan. “Bukan lagi kita yang hidup”, satu awasan bahwa hidup Yesus belum menjadi hidup kita, iman kita belum menjadi bagian dari hidup kita, kata-kata kita belum menyata dalam tindakan kita sehingga keberagamaan kita dipertanyakan, iman kita diragukan dan kata-kata kita tidak punya daya magis. Inilah jawaban mengapa muncul banyak soal dalam keseharian kita. Kata-kata ini juga merupakan percikan harapan bahwa kita punya peluang untuk menjadikan hidup Yesus sebagai hidup kita sendiri, hidup yang kita impikan dapat menjadi kenyataan, dunia yang nyaman dihuni dapat kita ciptakan, perang yang memusnahkan kehidupan dapat diatasi, ketidaksetiaan yang menyakitkan dapat dihindari.

Orang-orang Yahudi memberi reaksi keras, ketika Yesus menyamakan tubuh dan darahNya dengan makanan dan minuman yang mesti di makan bila orang hendak memperoleh hidup yang kekal. Lebih lanjut mereka lalu mempersoalkan asal usulnya. Secara harafiah reaksi ini wajar karena pernyataan Yesus, ini menggiring kita ke kanibalisme walaupun dalam kenya-taannya kita memang sedang memangsa sesama dengan cara kita sendiri. Makna kisah ini menarik untuk ditelusuri bila kita hubungkan dengan topik renungan ini. Yesus mengatakan, “Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya…”. Penggalan ini mengisyaratkan tiga hal; pertama; Yesus belum cukup hidup dalam hidup kita. Kalau Yesus sudah cukup hidup dalam diri kita maka akan terjadi, “bukan lagi kita yang hidup”. Kita belum sampai pada tahap ini karena seperti orang-orang Yahudi, kita hanya mendengar dan mempersoalkan apa yang dikatakan Yesus, kita belum berusaha menangkap makna. Di sini lain kita juga masih membuang banyak waktu untuk mempersoalkan asal usul sesama ketimbang belajar dari kebaikan mereka untuk bisa berbuat baik. Seperti makanan yang kita santap dan menjadi bagian dari hidup kita demikian juga hidup dan kehadiran Yesus harus menjadi bagian dari hidup dan keseharian kita bila yang kita dambakan adalah hidup yang kekal. Apakah hidup Yesus sudah menjadi hidup kita? Tubuh dan darah Kristus kita terima hampir setiap minggu bahkan tiap hari, tetapi apakah tubuh dan darahNya telah menjadi tubuh dan darah kita sendiri masih merupakan satu pertanyaan yang sulit dijawab.

Menerima tubuh dan darah Kristus tanpa membiarkannya menjadi bagian dari diri dan hidup kita adalah salah satu bentuk pelecehan. Mestinya hari demi hari hidup Yesus makin nampak dalam hidup kita bukan sebaliknya. Tetapi kenyataannya kekeristenan kita hanya berlaku pada waktu, tempat dan di hadapan orang-orang tertentu, di luar dari ketertentuan ini kita tidak jauh berbeda dari mereka yang tidak beragama bahkan mungkin jauh lebih buruk dari mereka karena mereka masih punya hati nurani. Hidup kita ibarat syair lagu yang belum diberi notasi. Kalau Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup; kita juga mesti menjadi jalan pulang bagi mereka yang tersesat, pembawa kebenaran bagi mereka begitu sering ditipu, kelugu-annya dimanipulasi, dan pemberi semangat hidup bagi mereka yang telah kehilangan daya juang. Kedua, penggalan di atas menyadarkan kita bahwa ada kemungkinan Yesus bisa hidup dalam diri kita, ada kemungkinan “bukan lagi kita yang hidup…”. Hal ini bisa terwujud bila kita mau membiarkan dan berusaha sedapat mungkin menjadikan hidup Yesus menjadi hidup kita di mana dalam kehadiran kita dan apa yang kita lakukan orang dapat merasakan kehadiran Yesus. Ketiga; penggalan di atas mau menggarisbawahi kenyataan bahwa Yesus sendiri mau hidup dalam diri kita, Yesus sendiri mau bahwa dalam kebersamaan “bukan lagi kita yang hidup…”. Untuk itu Yesus senantiasa mengingatkan, mengundang kita untuk menjadikan diriNya bagian hidup kita, sehingga seperti Dia, kitapun bisa menjadi “roti-roti hidup” bagi dunia.


Dunia yang sedang kita huni sudah bosan menghitung berapa banyak kali kita menerima tubuh dan darah Kristus, ia membutuhkan orang-orang yang hidupnya seperti hidup Kristus. Dunia tempat kita mengais hidup bukan saja sedang kekurangan pangan tetapi juga kehabisan roti-roti hidup yang mampu memuaskan laparnya baik jasmani maupun rohaninya, kitalah yang mesti merasa terpanggil untuk membagi sedikit kebaikan yang kita untuk mengisi ruang ketia daan mereka. Kalau Yesus yang kita imani siap menjadi santapan hidup kekal; mengapa kita yang menerima tubuh dan darahNya hampir setiap hari tidak sanggup menjawabi kebutuhan sesama?

[ back ]