Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 22-07-2015 | 21:37:41
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : BUKAN SOAL JUMLAH

Yoh 6:1-15, Mingu, 26 Juli 2015

Di sadari ataupun tidak, dunia tempat kita ada dan mengais hidup sedang sakit. Kenyataan ini dibeberkan oleh Cedric Rebello dalam bukunya "The Other Eucharist". Ia menulis; dunia kita sedang sakit sebagai akibat; perbedaan yang ada telah menciptakan jurang yang memisahkan kita dengan kita, orang tidak lagi melihat perbedaan sebagai kekayaan tetapi menjadikannya sebagai alasan sebuah konflik; persaudaraan lebih banyak dijadikan bahan ceramah dari pada dihidupi; gereja telah dijadikan tempat parade mode; banyak orang berbicara tentang orang miskin tetapi tidak peduli dengan nasib orang-orang miskin; keadaan orang-orang miskin justeru dimanipulasi demi keuntungan diri; cinta kasih telah dicekik oleh persaingan, didangkalkan oleh kemudahan fasilitas, dibekukan oleh huruf-huruf mati, dibabat habis-habisan oleh media massa dan diperdagangkan sebagai komoditi. Lalu dalam situasi seperti ini; masih adakah orang-orang kristen di sana? Kalau ‘ya’ apa yang sedang mereka lakukan; menyembuhkan situasi ini ataukah memperparah keadaan? Mestinya dalam situasi seperti ini kesejatian kekristenan kita ditampakan; tidak sekedar teori tetapi lebih sebagai praktek hidup; tidak cukup dengan rasa prihatin tetapi harus ada tindakan nyata. Kitalah yang mesti menyembuhkan situasi ini bila kita menghendaki ceritera hidup ini berubah. Peluang selalu ada, yang menjadi soal adalah apakah kita bersedia mengartikannya atau tidak.

Kalau kita jeli membaca situasi hidup ini, banyak hal dalam hidup yang mendesak kita untuk melakukan sesuatu. Di sini kita tidak hanya membiarkan hati kita bicara tetapi juga harus diikuti dengan satu tindakan nyata. Karena keprihatinan tidak cukup untuk satu perubahan. Kebersamaan menuntut kepekaan kita untuk membaca situasi hidup sesama dan kesiapan kita untuk menjawab sedapat mungkin apa yang mereka butuhkan. Inilah jalan untuk melestarikan hidup bersama sekaligus memberi arti bagi kehadiran kita di antara yang lain. Untuk itu kita diingatkan agar tidak takut dalam berbuat baik karena apapun tindakan yang kita ambil semuanya selalu punya konsekuensi. Dalam kisah perbanyakan roti, Yohanes menggambarkan bahwa pertama, kita siap berbuat baik tanpa takut bila kita bersedia menyebrang; keluar dari diri kita sendiri. Hanya dengan keluar dari diri sendiri, meninggalkan kemapanan diri kita dapat menjumpai sesama dalam situasinya yang sebenarnya, di mana kita disadarkan bahwa rasa prihatin saja tidak cukup. Kalau orang lain tidak dapat menolong dirinya sendiri, kitalah orang-orang yang mesti merasa terpanggil untuk menolong mereka ataupun untuk mencari orang yang dapat mengurangi beban hidup mereka, membawa mereka ke hadapan Yesus. Apa kita memiliki sikap prihatin seperti ini? Boleh jadi kita punya keprihatinan tetapi kita tidak mengambil langkah lebih lanjut karena kita masih menghitung untung rugi yang akan kita peroleh. Kita lebih banyak mempersoalkan jumlah yang kita miliki ketimbang mempermasalahkan apakah kita punya kesediaan untuk berbagi atau tidak. Di sisi lain, kita sulit berbuat baik ataupun takut berbuat baik karena kita tidak siap menyebrang, kita merasa aman dengan diri sendiri. Kita hanya memperhatikan kebutuhan diri lalu lupa keadaan sesama di sekitar kita. Kita menyangka bahwa kebaikan sama dengan sejumlah ketul roti yang habis kalau dibagi. Padahal kebaikan yang siap dibagi bukan seketul, semakin dibagi dia akan semakin berlipat ganda. Di sini, peristiwa perbanyakan roti sebenarnya merupakan peristiwa pergandaan kebaikan, kebaikan yang siap dibagi akan berubah menjadi sumber air yang tak pernah akan mengering, semakin ditimbah ia akan semakin membual. Kedua, kita hanya dapat berbuat baik bila sesama menyadari situasi dirinya dan bersedia untuk ditolong. Lima ribu orang dikenyangkan dengan 5 buah roti karena mereka menyadari dirinya dan membuka diri terhadap ulurun tangan orang lain. Kita sulit menolong/ditolong karena kita tidak mau menyadari situasi diri kita dan kita tidak bersedia untuk menolong/ditolong. Harga diri kita begitu tinggi. Kita tidak mau berhutang budi, gengsi-gengsian. Ketiga, kita tidak akan takut berbuat baik bila kita menjauhi sikap para murid yang lebih mempersoalkan jumlah roti yang ada ketimbang mempermasalahkan kesediaan kita untuk berbagi, ikut merasakan apa yang sedang dirasakan sesama. Banyak soal dalam hidup tidak dapat diselesaikan karena kita masih mengukur kebaikan dengan jumlah yang kita miliki padahal kebaikan tidak dapat ditakar dengan satu ukuran kuantitas. Di sini mukjizat perbanyakan roti sebenarnya merupakan mukjizat pergandaan kebaikan. Jangan takut berbuat baik karena kebaikan anda membuat anda tidak akan mati dalam ingatan setiap saat kebaikan anda diceritakan orang.

Ada begitu banyak orang di sekitar kita yang sedang lapar dan haus akan banyak hal dan dalam berbagai tingkatan; lapar dan haus akan kasih sayang, perhatian, penghargaan dan kesempatan untuk mengekspresikan dirinya. Kitalah yang mesti merasa terpanggil untuk menjawabi kebutuhan situasi ini bila kita menghendaki ceritera hidup ini berubah. Untuk itu kita perlu menjauhkan diri dari sikap para murid yang mempertentangkan kebaikan dengan jumlah roti yang dimiliki. Boleh jadi kita cuma memiliki lima buah roti kebaikan dan dua ekor ikan tetapi bila kita bersedia membagi, lima ketul kebaikan ini akan berlipat ganda. Karena kebaikan selalu punya nilai lebih, berbuat baik selagi mungkin karena setiap saat kebaikan anda diceriterakan di saat yang sama anda hidup walaupun anda telah tiada.

"Jangan takut berbuat baik, takutlah bila kesempatan untuk berbuat baik anda lewatkan tanpa diartikan".

[ back ]