Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 17-07-2015 | 23:27:03
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : MARI, KE TEMPAT SUNYI

Markus 6:30-34, Minggu, 19 Juli 2015

Dapatkah anda menjelaskan secara tepat bagaimana kita bertumbuh? Secara ilmiah mungkin tetapi apakah anda mampu memberikan keterangan yang pasti kapan rambut anda yang hitam perlahan tetapi pasti berubah warna jadi putih. Yang dapat saya duga anda terkejut saat melihat diri anda di cermin dan ternyata ada warna lain di antara rambut anda yang hitam. Kesibukan ternyata membuat kita terkadang lupa melihat sendiri perkembangan diri kita, lupa untuk mengevaluasi segala yang sudah kita lakukan mana yang mesti ditingkatkan mana yang harus diatasi. Untuk itu, kadang kita perlu menyepi, menyendiri supaya kita sendiri bisa merasakan betapa berartinya hidup bersama atau betapa pentingnya kehadiran orang lain. Diam-menyepi dapat melahirkan aneka pandangan. Sikap ini boleh jadi mengisyaratkan tidak adanya kehidupan, takut menghadapi kenyataan tetapi bisa juga menjadi tanda bahwa awal suatu hidup baru sedang dimulai. Ketika anda diam, diammu akan melahirkan sebuah tanda tanya. Bukankah dasar sebuah anak sungai hanya bisa terlihat jelas bila airnya tenang dan jernih? Anda hanya dapat berkaca diri pada permukaan air yang tenang. Dengan menyepi dan berada dalam diam anda akan menemukan banyak hal. Detak jantungmu hanya bisa dirasa ketika anda berada di saat-saat hening. Anak manusia dirajut dalam diam. Bunga-bunga dengan pesona keindahannya tumbuh, mekar dan gugur dalam diam. Rasa cinta dengan pengaruhnya yang dahsyat dan sulit dideteksi kapan mulainya merajut sutranya dalam heningnya sebuah hati. Jutaan lukisan indah tercipta di atas kanvas sebuah keheningan, ribuan syair yang mengusik nubari terangkai dalam diam. Matahari terbit dan terbenam dalam diam, anak sungai mengalir dari hulu ke muaranya dalam diam. Allah yang kita imani mengadakan segalanya dari ketiadaan dalam diam.

“Mari, ke tempat yang sunyi”. Pernahkah kita bertanya, mengapa hari Sabtu orang berhenti dari segala aktifitas rutin mereka-ada weekend? Banyak waktu yang sudah dihabiskan untuk kepentingan umum dengan segala dampaknya, kita juga butuh waktu untuk urusan pribadi; beristirahat, membuat evaluasi, menimbah kekuatan baru sebagai bekal untuk kegiatan minggu berikutnya. Hitunglah berapa banyak keluarga yang sedang diincar keretakan karena karier mendominasi keseharian. Dan urusan keluarga hanyalah garansi ketika orang menemui jalan buntu. Cobalah kita meneliti alasan me-ngapa kenakalan remaja semakin meningkat, pendidikan anak terbengkalai dan kekerasan terhadap anak-anak hampir sebanding dengan lajunya perkembangan perkotaan. Kita begitu sibuk mengejar target lalu lupa bahwa kita butuh waktu untuk bermenung, mengevaluasi apa yang telah sukses kita raih dan sisi mana yang mesti diberi porsi perhatian yang lebih. Markus berkisah bahwa ketika murid-muridNya kembali dari perutusannya, Yesus mengumpulkan mereka dan mengajak mereka untuk menyepi, pergi ke tempat sunyi. Alasan Yesus jelas, Ia tidak mau para muridNya tenggelam dalam kesibukan, lupa akan dirinya lalu kehilangan orientasi atau bangga akan diri lalu lupa bahwa mereka masih berada dalam dunia nyata atau larut dalam rasa sesal karena kegagalan. Mereka butuh menyepi untuk melihat sudah sejauh mana efektivitas kehadiran dan karya mereka, pengaruh karya mereka terhadap diri dan sesama. Terkadang kita kelihatan begitu sibuk atau berbuat seolah-olah roda dunia tidak dapat berputar tanpa kehadiran kita, kita ingin merangkul semua tugas dalam genggaman kita lalu lupa bahwa jari tangan kita hanya sepuluh dan genggaman tangan kita tidak terlampau besar. Padahal kita hanya bisa memberikan jawaban yang tepat terhadap kebutuhan situasi bila kita mengambil jarak darinya untuk mengetahui apa maunya. Mengapa para pengamat lebih tahu dari mereka yang berada langsung di lapangan? Ketika mereka mendarat, melihat banyak orang yang mencari mereka, Yesus prihatin dan mengajar mereka banyak hal tentang hidup.

Mungkin selama ini kita merasa bahwa kita tidak membutuhkan suasana sunyi, menyepi, menarik diri dari kesibukan dan keramaian. Tetapi mulai sekarang kita mesti sadar betapa pentingnya menyepi dari kebisingan kehidupan. Banyak peristiwa yang telah dikisahkan terjadi dalam diam dan banyak kisah yang telah jadi peristiwa itupun diam. Diam-menyepi itu dahsyat, di sana 1001 kisah bisa dihadirkan. Diam-menyepi itu hulu dan muaranya hidup. Banyak hal telah terjadi dan tercipta dalam diam. Saudara, untuk merasakan pengaruhnya, tinggalkan apa yang sedang anda kerjakan, diamlah sejenak, dengarlah apa yang sedang terjadi di sekeliling anda…..cintailah saat diam-menyepi …karena dalam diam-menyepi anda dapat merekam denyut jantungmu, denyut kehidupan…..

“Mari, ke tempat sunyi karena dari sana anda bisa melihat segalanya dengan lebih jelas”

[ back ]