Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 06-07-2015 | 01:50:17
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : MARI, LAWAN ARUS

Mrk 6:7-13,  Minggu, 12 Juli 2015

Hujan deras yang berlangsung sudah beberapa hari ditambah tiupan angin yang sulit diprediksi arahnya membuat riak laut berubah menjadi gelombang yang mencapai beberapa meter tingginya. Kenyataan ini mendorong BMG melarang para nelayan melaut dan kapal-kapal penyeberangan  beroperasi. Untuk sementara transportasi laut dihentikan dan harga ikan di pasar perlahan menunjukkan grafik naik. Lalu kalau begini kenyataannya, masih beranikah kita melaut, melawan arus? Ini satu pertanyaan yang menantang. Bagi mereka yang sudah bosan hidup, situasi ini mungkin dapat dijadikan peluang untuk mengakhiri segalanya tetapi bagi mereka yang masih mau menikmati indahnya hidup, lebih baik mengikuti perkembangan ataupun membiarkan diri terbawa arus ketimbang harus melawan arus ataupun menyabung nyawa. Bila dihubungkan dengan hidup dan peran kita dalam kebersamaan, di satu sisi tindakan ini cukup bijaksana tetapi di sisi lain, akan nyata bahwa peran yang harusnya kita manikan tidak jalan, kita tidak punya pendirian dan lebih dari itu dengan tahu dan mau kita membiarkan segala ketidakberesan hidup ini terus berlangsuung. Boleh jadi karena kita takut kehilangan muka dalam kebersamaan ataupun karena kita sendiri cenderung tidak mau ketinggalan jaman atau dianggap kolot, takut disingkirkan dari kebersamaan, dianggap aneh. Lalu di manakah peran pribadi kita yang mestinya punya pendirian sendiri.

Kita semua telah dibaptis dalam nama Kristus. Sebagai orang-orang yang telah dibaptis dalam nama Yesus, sejak awal kita telah dipanggil dan diutus ke dalam kebersamaan untuk bisa melawan arus tentu saja dengan cara-cara yang dilandasi dengan nilai-nilai kristiani. Kalau dunia cenderung tenggelam dalam arus, kita harus menghadirkan diri secara lain, orang-orang Kristen harus berani melawan arus, bukan dengan kata-kata tetapi lebih lewat hidup dan karya kita. Hidup kita harus memberi gambaran lain bahwa kebahagiaan yang ingin kita cari tidak akan pernah diraih melalui jalan kekerasan ataupun jalan pintas. Bukankah mengikuti arus dan membiarkan diri diha-nyutkan arus telah membawa banyak orang terbelit pasal-pasal hukum dan harus selalu menghadapi gelombang demonstrasi. Tidak sedikit  yang terbawa arus hingga ke pintu penjara. Untuk menghindari hal ini terjadi di kalangan para muridNya, ketika mengutus para muridNya Yesus memberi mereka kiat bagaimana bisa melawan arus. Mereka di-beri kuasa untuk menaklukkan roh-roh jahat. Ada pada setiap murid Kristus, kita-kita kuasa ini tetapi mengapa roh-roh jahat sulit ditaklukkan dan semakin banyak gen-tayangan dalam keseharian kita? Karena kita telah membiarkan roh-roh jahat itu meng-huni rumah diri kita. Para  murid  diingatkan untuk tidak membawa apa-apa di perja-lanan; uang, bekal, dua helai baju. Kita membutuhkan uang, makanan dan pakaian. Ini tuntutan hidup. Tetapi uang, makanan dan pakaian harus dilihat sebagai sarana bukan tujuan. Banyak orang yang terbawa arus karena melihatnya sebagai tujuan bukannya sarana. ‘Apa artinya memiliki segalanya tetapi kehilangan semua yang lain’. Dan justru hal ini telah memporakporandakan kebersamaan kita, keluarga, masyarakat dan bangsa kita. Ia juga berpesan agar mereka tinggal di tempat di mana mereka diterima. Yesus mengisyaratkan bahwa setiap utusan mesti berusaha merasa kerasan, at home dengan tugasnya, beradaptasi dengan lingkungan ke mana ia diutus. Belajar tentang orang-orangnya, budaya dan kebiasaannya. Di sini banyak dari kita gagal  karena kita tidak bersedia beradaptasi dengan lingkungannya. Kita tidak mengajar mereka mulai dari apa yang mereka tahu tetapi dari apa yang kita tahu, kita tidak mulai membangun dengan apa yang mereka miliki tetapi dengan apa yang kita miliki, sehingga apa yang kita lakukan tetap asing bagi mereka yang seharusnya kita bantu. Hasilnya  kita sulit dipercaya dan ujungnya kita ditolak. Akhir kisah, para murid karena mengikuti kiat ini dan menerapkan dalam tugas mereka; banyak roh jahat ditaklukkan, tidak sedikit orang sakit disembuhkan dan mereka sendiri diterima di mana-mana.

Riak kehidupan ini telah berubah menjadi gelombang yang begitu sering menggulung dan menenggelamkan kita ke dalam pusarannya. Sebagai orang-orang yang telah dibaptis dalam namaNya dan telah dikarunia untuk menaklukkan segala, kita mesti menyadari kenyataan ini dan tahu untuk menaklukkan situasi ini kita diutus. Tsunami yang menimpah saudara/i kita membuat kita bergidik, takut. Bencana ini merusak segala baik fisik maupun psikis. Pernahkah kita berpikir bahwa tsunami-tsunami kecil ciptaan kita perlahan-lahan mulai memporak-poandakan kebersamaan kita? Kemalasan, kekerasan, ketidakrukunan ketidakadilan, ketidaksetiaan, korupsi, kolusi dan nepotisme adalah arus yang sedang mengganas menggulung kebersamaan kita. Melawannya atau digulung olehnya. Pilihan ada di tangan kita, Yesus telah memberikan kiatnya, bersediakah kita mengikutinya? Kalau kita tidak bisa melawannya, jangan pernah membiarkan diri dihanyutkan olehnya.

“Kita bisa menjadi arus ataupun gelombang, kita juga punya potensi untuk meredam gelombang dan arus kehidupan ini”.

[ back ]