POST: 01-10-2021 Jam: 13:15:35 WITA - Dari: WEBMASTER, Kepada: Netizen dan Pendengar TIRILOLOK, INFORMASI: Website Radio TIRILOLOK sedang dalam perubahan konstruksi. Beberapa halaman web mungkin tidak ditemukan sebab masih dalam konstruksi. Terima kasih

Hari ini:

whatsapp
3 Pengunjung Online

NEWS

Berkunjung ke Dekranasda NTT, Yudi: "Kupang Bikin Rindu"





Wakil Ketua Dekranasda NTT Ny Maria Fransiska Nae Soi bersama rombongan muhibah budaya jalur rempah 2022 di Dwkranasda NTT Minggu 26/6/22).

Kota Kupang, 26-06-2022 || REGIONAL

Rombongan Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 dalam pelayarannya mengelilingi Indonesia menyinggahi Kota Kupang. Selama dua hari berada di Kupang rombongan berkunjung ke SMKN 04 dan hari ini le Dekranasda NTT. Saat berkunjung di Dekranasda NTT Minggu (26/6/22) rombongan diterima diterima Wakil Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT Nyonya Maria Fransiska Nae Soi di pintu masuk Sekretariat Dekranasda. Selanjutnya rombongan dibawa keliling ke seluruh Galeri Dekranasda untuk melihat kekayaan tenunan NTT yang dipajang di setiap stand.

Ada 22 stand yang mewakili setiap kabupaten di NTT

Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Pendidikan Kemendikbudristek RI Yudi Wahyudin, SS, M.Hum dalam ketrangan kepada Media mengatakan, Kupan selalu bikin rindu.

"Bikin rindu karena ternyata budayanya dijadikan lokomotif bukan aksesories ya. Dan ini bisa kita lihat Dekranasda sudah menjadi miniatur NTT. Ini menunjukkan tata kelola dekrasanda di Kupang bisa menjadi acuan", ujarnya.

Hal lainnya, kata dia yakni, perlu ada pemetaan talenta-talenta, baik yang otodidak maupun akademis.

"Talenta, bakat dan lain - lain karena ada yang otodidak dan akademis. yang otodidak harus disetarakan dengan akademis biar secara akademis diakui semua pihak dan kesejahteraannya seimbang dengan yang lain. Jangan sekali - kali memaknai tradisi itu kuno. Tradisi itu modern. Itu intelektual banget gitu ya. Masa lalu itu bukan primitif. Kalo primitif menapa nenek moyang kita bisa membangun candi Borobudur", kata dia.

Direktur Perlindungan Kebudayaan Kemenristek RI Irini Dewi Wanti, SS. M.SP menambahkan, kehadirannya di NTT bukan sekedar menjadi peserta, tetapi memang benar-benar ingin mengunjungi NTT.

"Kekayaan intelektual dari NTT tahun 2021 lalu sedang diusulkan ke Unesco sebagai warisan tak benda dunia. Namun ada prosedur yang harus kita taati sehingga prosesnya tidak mendadak artinya begitu kita usulkan langsung diterima gitu", ujarnya.

Ia mengakui bangga dengan kekayaan NTT yang luar biasa sebagai kekayaan intelektual bangsa Indonesia.

"Karena bicara tenun, bukan hanya sebagai benda dalam artian kemahiran menenun. saya katakan penenun itu bukan pekerja tapi seniman", jelasnya.

Wakil Ketua Dekranasda NTT Nyonya Maria Fransisa Nae Soi mengatakan, kekayaan tenun ikat NTT bukan hanya Sumba tetapi masih ada tenunan dari daerah lain seperti yang dipamerkan di Galeri Dekranasda NTT.

"Saya tadi keliling dengan ibu Riin terkagum-kagum. ibu Rini menyanka itu hanya tenun Sumba yang sering muncul di publik, sehingga yang diusulkan ke Unesco itu hanya tenun Sumba ternyata ada yang luar biasa", urainya.

Ia berharap kemendikbud RI memberikan perhatian bagaimana menggerakkan hati anak muda untuk melanjutkan budaya menenun.

"Tahun lalu kami sudah melatih 1000 anak muda untuk menenun tersebar di 22 kabupaten Kota. Dana dari Dinas pendidikan", katanya.

PLT Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Inna Laiskodat mengatakan, setelah melihat kekayaan budaya NTT Peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 akan menceritakan kepada orang lain sehingga kunjungan ke NTT akan semakin tinggi.

"saya berterimakasih kepada pak Direktur dan ibu direktur yang sudah memilih Kupang sebagai titik kunjungan bagi adik- adik laskar rempah untuk mampir ke Kupang. minimal akan diceritakan kepada sahabat kenalan daerah mereka. Pariwisata sudah ditetapkan Gubernur dan Wakil Gubernur sebagai prime mover maka dengan kedatangan adik-adik akan mengundang banyak orang datang ke NTT", terangnya.

Salah satu Peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 asal Ambon menyatakan bangga bisa berada di Kupang dengan toleransi yang sangat tinggi.

"Tidak memandang perbedaan apapun baik agama, suku, ras semuanya tersatu padu", ucapnya.

ADMIN: Yosintus Fahik