POST: 01-10-2021 Jam: 13:15:35 WITA - Dari: WEBMASTER, Kepada: Netizen dan Pendengar TIRILOLOK, INFORMASI: Website Radio TIRILOLOK sedang dalam perubahan konstruksi. Beberapa halaman web mungkin tidak ditemukan sebab masih dalam konstruksi. Terima kasih

Hari ini:

whatsapp
1 Pengunjung Online

NEWS

HUT Ke-27 KSP KOPDIT Sta. FAMILIA DiWARNAI DENGAN PELUNCURAN BUKU MUTIARA DARI FLOBAMORRATASS





Peluncuran Buku Mutiara Dari Flobamorratass

Kupang, 15-01-2022 || REGIONAL

Acara Bedah dan Peluncuran Buku Mutiara Dari Flobamorratass yang berisi Aneka Dongeng Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) digelar di Aula Paroki Sta. Familia Sikumana, Kamis (13/1/2022).  Acara ini bertepatan dengan Hari Ulang Tahun yang ke-27 Koperasi KSP Kopdit Familia yang menjadi sponsor penulisan buku ini.

Ketua Pengurus KSP Kopdit Familia, Drs. Yohanes  R. Dekresano, MA, menurutnya bagi insan koperasi kredit, buku ini memiliki dua kegunaan yaitu: Pertama, Media yang mempromosikan KSP Kopdit Familia beserta produk- produknya. Kedua, Media sosialisasi prinsip, dan nilai koperasi karena berbagai nilai yang terdapat cerita dalam buku Mutiara Flobamorratass sejalan dengan nilai koperasi kredit.

Lebih jauh Jhon Dekrasano mengatakan, suatu kehormatan bagi KSP Kopdit Familia (Pengurus, Pengawas dan Manajemen, red) untuk berada dalam acara Bedah Buku dan Peluncuran Buku Flobamorratass dimana sebuah buku berisi aneka legenda dongeng masyarakat NTT.

“Mungkin ada yang bertanya; ‘Mengapa, atau apa hubungannya? Pada bulan Oktober Tahun 2021, Pak Hendro menghubungi saya tentang kemungkinan KSP Kopdit Familia mensponsori penerbitan Buku Cerita rakyat berjudul Flobamorratass yang ditulis beliau. Permintaannya, kalau bisa KSP Kopdit Familia dapat mensponsorinya. Saya tidak langsung menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’, karena harus dibahas bersama pengurus dan pengawas dalam rapat. Tetapi karena kami masih melakukan beberapa agenda pada bulan Oktober dan November 2021 maka kami belum menanggapinya secara bersama.

Pada pertengahan bulan Desember 2021, tepatnya kami undang Bung Hendro ke kantor untuk membahas rencana penerbitan. Dan kami sepakat waktu pertemuan untuk mendengar penjelasan dari penulis dan editornya dalam forum rapat pengurus dan pengawas. Dan rapat menyepakati sponsorsip tersebut karena Kopdit Familia juga dipromosikan di dalam buku tersebut.

Pada pertemuan itu, kami mengusulkan agar bedah buku dan peluncurannya dapat dilakukan pada tanggal 13 Januari, bertepatan dengan hari ulang tahun yang ke-27 KSP Kopdit Familia. Memang Koperasi Kredit Familia dilahirkan di tempat ini tepatnya tanggal 13 Januari 1995 dari rahim Paroki  Santa Familia. Kebetulan, saya juga salah seorang pendirinya,”  tutur Jhon Dekrasano.

Ia mengungkapkan apresiasi terhadap cerita rakyat pada umumnya dan cerita rakyat NTT pada khususnya,  “dalam sambutan kami dalam Buku Mutiara Dari Flobamorratas menunjukkan betapa besar kepedulian dan kebanggan kami pada nilai- nilai yang ada dalam cerita rakyat karena memberikan sumbangan berarti bagi pembentukan karakter selain menyuguhkan hiburan bagi anak-anak kita. Ada beraneka nilai yang dapat kita simak. Ada nilai positif seperti murah hati, ramah, toleran, tulus, rendah hati dan masih banyak nilai lain yang kita inginkan agar dimiliki anak,” terangnya.

Sedangkan nilai- nilai yang buruk menurutnya akan mendatangkan mala petaka seperti sombong, iri hati, serakah, dan lain-lain. “Dihimbau agar dalam pendidikan karakter anak kita pacu anak-anak kita untuk gemar membaca cerita rakyat. Saya memang sangat tertarik pada cerita rakyat sampai sampai menerjemahkan 18 cerita rakyat yang ditulis Pedro Pablo Sacristan, seorang penulis Spanyol dalam buku A Flower A Day,” ungkapnya.

“Pendidikan karakter anak merupakan tanggungjawab kita bersama termasuk pemerintah dan pemerintah daerah. Komitmen pemerintah terhadap pembentukan karakter termuat dalam peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter dan Peraturan Daerah Provinsi NTT, dalam PERDA Nomor 5 Tahun 2021 tentang Pengembangan Budaya Literasi. Ini menunjukan perhatian pemerintah dan Pemerintah Daerah akan pentingnya pembentukan karakter anak bangsa. Sedangkan dalam PERDA dirinci 6 (enam)  Literasi Dasar antaralain: Literasi Budaya dan Kewargaan. Pada penjelasannya, PERDA tersebut mendefinisikan literasi budaya sebagai pengetahuan dan kecakapan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa.

Disini dapat disimpulkan bahwa perhatian dan apresiasi terhadap budaya termasuk cerita rakyat dengan semua nilai –nilai yang terkandung di dalamnya, merupakan tanggungjawab setiap warga negara,” pungkasnya.

Kepala BP Paud dan Dikmas Provinsi NTT, Maria B. Adventia, SH, M.Hum mengapresiasi yang tinggi kepada penulis.

“Saya menyambut baik dan memberi apresiasi atas usaha dan kerja kerasnya (Bung Hendro, red) dalam menghimpun dan menulis Buku Mutiara Dari Flobamorratass (Aneka Legenda Dongeng Masyarakat NTT). Peluncuran Buku Mutiara Dari Flobamorramorratass hari ini, kami menilai bahwa di dalam buku ini sangat berfaedah dan bermanfaat bagi anaka-anak zaman sekarang, dimana di dalam buku ini banyak sekali cerita rakyat yang belum tentu semua; seumuran saya, kemudian yang milenial sekarang ini mengetahui isi dari cerita dari daerah masing masing, sehingga dengan peluncuran buku ini memberikan edukasi atau membuka kembali sejarah  daerah masing- masing yang perlu diketahui oleh anak- anak zaman sekarang. Dan juga  satu yang lebih mendasar adalah bagaimana kita memberikan sesuatu;  budaya dalam hal ini budaya  literasi, kepada anak kita untuk mereka mencintai buku, tidak saja hp yang mereka pegang tapi  mereka juga harus pegang buku. Karena  di dalam buku itu, banyak hal yang yang tadinya mereka tidak tahu mereka menjadi tahu,” ungkap Bertha.

“Mari kita bersama sama untuk membangun budaya literasi di NTT teristimewa mengembangkan karakter anak kita mulai dari usia dini. Karena di dalam buku itu baiknya tokoh-tokoh positif yang bisa diadopsi oleh anak- anak sehingga mereka  bisa belajar menjadi tokoh yang baik, dengan demikian pola tingkahlaku mereka akan berubah sesuai dengan  tokoh yang mereka baca minimal seperti itu,” harap Bertha.

Ia juga menambahkan, usul saran atau masukan buat penulis agar mungkin perlu  dilihat  juga dari segi undang undang, bahwa sebuah karya tulis itu harus memenuhi syarat-  syarat apa; soal tulisan, sampul, kertas dan lain sebagainya, itu juga  harus menjadi perhatian sehingga itu butuh benar benar  bisa menjadi edukasi dan juga mentaati aturan yang diharuskan.

Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi NTT Komisi V, Ana Waha Kolin, SH mengatakan, terkait dengan Peluncuran Buku Mutiara Dari Flobamorratass hari ini, “Kami sangat  mendukung penuh karena ini mencerminkan budaya yang ada di Nusa Tenggara Timur, yang selama ini masih terselam dan belum diangkat  kepermukaan,” ujar An Kolin.

“Ketika Bung Hendro  menulis ini, kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya, dan memberikan support  yang luar biasa kepada penulis karena ini jarang orang menulis. Ketika ada seorang penulis mengangkat soal dongeng, artinya sebuah mutiara, berarti ini memberikan hal yang positif bagi pembelajaran anak-anak didik kita semua. Sekalipun seperti yang disarankan  tadi mungkin dibentuk dalam animasi animasi tetapi ini harus terus digalakkan diupayakan untuk lebih membuming lagi di NTT bahkan diseluruh Indonesia sehingga  orang tahu secara utuh tentang Nusa Tenggara Timur,” pungkas Ketua KPPI Provinsi NTT itu.

Sementara penulis Buku, Yohanes A. R. Teme yang akrab disapa Bung Hendro Teme mengatakan bahwa alasan menulis  dongeng  NTT,

“Saya belum lihat ada dongeng  yang diambil dari seluruh pulau dan kabupaten  di NTT. Sehingga saya mengambil inisiatif itu, memang ada mutiara dari Timor, dari Flores, Sumba, tapi belum menjadi dongeng NTT,  dong hanya daerah,  maka itu alasan pertama saya menulis dongeng. Lalu alasan yang kedua, saya sering terima buku dari orang. Jadi saya malu tu terima buku, jadi hukum beri dan menerima itu mestinya ada. Alasan yang ketiga, ikut membudayakan literasi di NTT, karena dengan membaca orang akan tau,” ujar Bung Hendro.

Ia menambahkan, “tujuan saya menulis ini supaya menanamkan nilai-nilai pendidikan; karakter, budi pekerti, cinta lingkungan, cinta sesama, mengembangkan sikap sikap yang baik. Tujuan yang kedua, saya wujudkan permintaan anak, istri, cucu. Karena saya pensiun dari Tirilolok. Mereka bilang; ‘Bapa’ menulis buku. Kami akan dukung.  Saya sebenarnya menulis empat buku; Mutiara Dari Flobamorratass, Kisah Perjalanan Jurnalis di NTT, Sekolah Rumah Tangga, dan dari Pendengar Jadi Penyiar. Yang terwujud sekarang Mutiara Dari flobamorratass,” jelas Bung Hendro.

“Kita  jangan selalu distigma miskin, bodok. Kita tidak bodok, kita tidak miskin, NTT kaya sekali.  NTT ini istilah yang dari leluhur kita disebut negeri susu madu; pah oni susu; negeri susu dan madu. Tuhan memberikan negeri ini kaya raya. Tidak ada Komodo di tempat lain, tidak ada kelimutu di tempat lain, tidak ada kain tenun seperti ini di tempat lain, hanya ada di NTT. Lalu kita satu leluhur. Jadi mari kita tetap menjaga nusa terindah toleransinya, nusa titipan Tuhan,” tegasnya.

Hadir  pada kegiatan tersebut Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat  Setda Provinsi NTT, Dra. Bernadeta Meriani Usboko, M. Si, mewakili Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat,  Editor Valerius P. Guru, Layout  Yarid J. Saudila, Prolog Kepala Pusat Studi  Budaya dan Pariwisata Undana, Dr. Marsel Robot , M. Si, TNI, Polri, Forkopimda NTT, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Pegiat Koperasi, Wartawan. (TD/ RANAKANEWS)

ADMIN: Cornelis Kiik