POST: 01-10-2021 Jam: 13:15:35 WITA - Dari: WEBMASTER, Kepada: Netizen dan Pendengar TIRILOLOK, INFORMASI: Website Radio TIRILOLOK sedang dalam perubahan konstruksi. Beberapa halaman web mungkin tidak ditemukan sebab masih dalam konstruksi. Terima kasih

Hari ini:

whatsapp
2 Pengunjung Online

SERMON

APAKAH ANDA ORANG YANG TULUS?




Ilustrasi Mat 1:18-24
RENUNGAN, 18-12-2021 || DAILY SERMON

‘Apakah anda orang yang tulus?’, pertanyaan sulit kita jawab kalaupun kita coba menjawabinya mungkin saja jawaban kita bertentangan dengan kenyataan hidup kita sendiri. Pertanyaan ini se-benarnya menggugat peran hati kita saat kita dihadapkan satu kenyataan yang menuntut kita untuk menentukan sikap di mana mesti ada yang harus dikorbankan; waktu, materi, perasaan dan harga diri. Mungkin kita punya segalanya tetapi apakah kita mau berkorban tanpa banyak per-hitungan? Banyak kali terjadi kita kembali berhadapan dengan masalah yang sama walaupun segala jalan sudah ditempuh dan sudah banyak kali kita duduk bersama untuk menyelesaikannya entah itu secara hukum ataupun secara kekeluargaan. Hal ini karena kita tidak melibatkan hati kita saat kita duduk bersama dan tidak punya kesediaan untuk berkorban. Bila kita punya hati yang tulus, lesediaan untuk berkorban, jalan terbaik yang akan ditempuh dan penyelesaian soal tidak berlarut-larut. ‘Anda, orang tulus hati?’, pertanyaan ini di satu sisi mengisyaratkan  adanya permintaan buat kita untuk mengevaluasi diri, sudahkah kita melibatkan hati kita saat hendak membuat sejarah? Di sisi lain kita diingatkan bahwa kita belum memiliki ketulusan hati dalam menghadapi ataupun menyelesaikan soal-soal dalam hidup kita. Tulus bisa berarti satu sikap pri-badi di mana orang rela, bersedia, terbuka melakukan sesuatu yang positif bagi orang lain tanpa memperhitungkan untung rugi; rela berkorban demi kepentingan sesamanya tanpa memikirkan apa yang akan diperolehnya sebagai imbalan. Kita belum punya hati yang tulus karena apa yang kita lakukan selalu penuh dengan perhitungan. Kesediaan dan kerelaan kita masih ditunggangi maksud tersembunyi. Selain itu kita lebih suka mengorbankan sesama ketimbang mengorbankan diri sendiri. Di sisi lain, kata-kata ini merupakan cetusan harapan, kita punya potensi untuk pu-nya hati yang tulus. Kalau banyak soal terjadi karena kita tidak tulus hati, soal-soal ini dapat kita hindari atau kurangi bila kita punya hati yang tulus, bila kita selalu mengikutsertakan hati saat kita hendak membuat sejarah.


Masa Adventus, masa di mana kita mendapat peluang untuk membersihkan ladang hati kita bukan mengoyakkan pakaian kita, meratakan relasi kita yang lekak lekuk, meluruskan kehidupan kita yang penuh aneka kelokan dan menjembatani jurang-jurang kecil yang memisahkan kita dengan kita akibat ulah kita atau arogansi sesama. Mungkina saja tanpa kita sadari, hari demi hari jurang-jurang ini semakin melebar dan kian sulit untuk dijembatani. Mengapa? Ada banyak jawaban untuk pertanyaan yang sederhana ini. Tetapi dari sekian banyak jawaban yang kita peroleh boleh jadi ada satu yang lebih mendasarkan dan perlu diperhatikan secara serius; kita perlu menumbuhkembangkan ketulusan dalam hati kita. Karena dalam banyak hal kita belum tulus, kita terlalu melihat ke dalam diri, memperhitungkan kepentingan diri ketimbang menem-patkan diri pada posisi mereka berada di sekitar kita. Lalu apakah begitu sulit bagi kita untuk jadi orang yang tulus hati? Sebenarnya tidak sesulit yang kita bayangkan. Anda dan saya, kita punya hati, kita juga masih punya perasaan yang bisa mendeteksi apa yang sedang dirasakan sesama, soal muncul karena kita belum punya kesediaan untuk menggunakan hati dan perasaan kita dalam membangun relasi dengan sesama. Dalam hal ini kita bisa belajar dari St. Yosef, si tulus hati, sikapnya dijadikan cermin bagaimana menata hati dan hidup kita dalam hubungan dengan sesama. Yosef dikatakan sebagai orang yang tulus hati karena dia punya beberapa keistimewaan dalam relasinya dengan sesama yang diwakili oleh Maria tunangannya itu. Dia tulus hati karena dia bukan tipe orang yang suka membesar-besarkan soal; dengan tenang dia menyadari adanya soal, memikirkan jalan keluar terbaik dan apa konsekuensi dari tindakan yang akan diambil. Yosef tulus hati karena dia tidak cepat mempersalahkan, mempermalukan dan menjatuhkan vonis bagi sesamanya. Dalam situasi sulit sekalipun, dia masih memiliki keterbukaan dan kesedian untuk mendengarkan orang lain-ia bersedia mendengar bisikan malaekat dan menja-lankannya tanpa banyak tanya. Di sini, boleh jadi keinginan kita untuk jadi orang-orang yang tulus hati mendapat hambatan; di satu sisi kita cenderungan membesar-besarkan soal, ge-mar membuat isu tetapi di sisi lain kita juga begitu sering pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa kita ada soal. Selain itu hal ini sulit bagi kita karena kita kadang bertindak tanpa mem-perhitungkan konsekuensi yang akan terjadi, cenderung ikut arus tetapi tidak tahu mengapa kita mengikuti arus. Lebih dari itu, terkadang kita menutup diri terhadap bisikan malaekat yang datang ke telinga kita melalui sesama. Hal ini makin parah ketika sikap lain di bibir lain di hati telah menjadi bagian dari hidup kita.


Banyak hari yang sudah kita lalui. Mungkinkah hidup dan hati kita sudah jauh lebih baik dari hari-hari kemarin? Sudahkah kita membiarkan ketulusan hati mendapat tempat di hati dan hidup kita? Apakah kita punya sedikit kerelaan untuk berkorban demi orang lain dan demi kepentingan umum? Masihkah kita bersedia membuka hati dan telinga kita untuk menerima masukan positif dari orang lain demi kebaikan publik? Apakah seperti Kristus yang sedang kita nantikan kedatanganNya, kita punya kerelaan untuk mendahulukan kepentingan sesama? Mungkinkah hati kita sudah memiliki sedikit ketulusan untuk merubah wajah dunia ini mulai dari dunia diri kita? Bila belum, kita belum terlambat, kita dapat bercermin diri pada sikap hidup St. Yosef orang yang tulus hati, punya kerelaan untuk berkorban. Semoga dengan bercermin pada hidupnya kita dapat mejadi orang-orang yang tulus hati dalam keseharian kita dan mampu menghadirkan diri apa adanya pada saat merayakan Natal.

“Ketulusan bikan satu kebodohan ataupun kelemahan tetapi satu kebijaksaan yang mampu membantu kita mengatasi banyak soal hidup ini. Yang penting kita punya kerelaaan untuk berkorban”.

SERMONER: Erminold Manehat, SVD

Pastor SVD, Direktur Utama Radio TIRILOLOK Kupang


ADMIN: Cornelis Kiik
SOUND: APAKAH ANDA ORANG YANG TULUS?
LOADING AUDIO

Bila tidak respon: KLIK dan BUKA pakai VLC