POST: 01-10-2021 Jam: 13:15:35 WITA - Dari: WEBMASTER, Kepada: Netizen dan Pendengar TIRILOLOK, INFORMASI: Website Radio TIRILOLOK sedang dalam perubahan konstruksi. Beberapa halaman web mungkin tidak ditemukan sebab masih dalam konstruksi. Terima kasih

Hari ini:

whatsapp
1 Pengunjung Online

SERMON

SIKAP YANG JELAS




Ilustrasi Mat 11:16-19
RENUNGAN, 10-12-2021 || DAILY SERMON

Bacaan Injil: Mat 11:16-19

 

Dalam Humanisme, berdasarkan penelitian, dikatakan ada perbedaan antara pola pikir orang Barat dan orang Timur. Orang Barat akan mengatakan secara langsung apa yang mereka kehendaki dan apa yang tidak mereka sukai; kalau “ya”, “ya” kalau “tidak”, “tidak”. Sedangkan kita orang Timur dengan pola berpikir siklisnya, kita tidak akan mengatakan secara langsung kita mau atau tidak, kita akan menyatakan apa yang kita maksudkan dengan cara berputar-putar de-ngan harapan lawan bicara kita dapat menarik kesimpulan sendiri apa sebenarnya sikap kita. Dua pola pikir ini punya kelebihan sekaligus punya kekurangan; yang satu menekankan keterus-terangan dan yang lain menjaga agar sedapat mungkin apa yang disampaikan tidak melukai la-wan bicara walaupun kadang yang berputar-putar ini lebih menyakitkan ketimbang penyam-paikan langsung. Pola pikir siklis inilah yang kadang turut mempengaruhi sikap kita dalam mengambil keputusan. Kadang antara “ya” dan ‘tidak” tidak jelas karena kita selalu mengambil keputusan dengan melihat perkembangan situasi atau memperhitungkan kemungkinan-kemung-kinan yang mungkin terjadi. Di satu sisi, sikap ini membantu kita untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan tetapi di sisi lain kita mempersulit orang lain dalam menempatkan kita pada posisi yang tepat. Karena sikap ini kadang kita dicap orang yang tidak punya pendirian, plin-plan, orang yang sulit dipegang kata-katanya dan pribadi yang sulit dipercaya. Ujung-unjung kita lebih sering diabaikan dari pada dilibatkan dalam mengambil satu keputusan. Seba-liknya sikap yang jelas punya dampak yang jelas. Orang-orang yang masuk dalam kelom-pok ini biasanya dapat dipercaya, disegani dan pendapatnya biasanya didengar. Karena apa yang mereka katakana sudah dipikirkan matang-matang dan itulah yang akan mereka hidupi atau apa yang mereka hidupi itulah yang akan mereka katakana. Kehadiran dan sikapnya jelas selalu mem-berikan kepastian dan tempat mereka jelas. Sulit untuk menemukan wilayah abu-abu dalam diri mereka. Dalam satu point penting adalah sikap yang jelas memudahkan orang untuk dapat dipercaya. Tanpa sikap ini kehadiran kita akan lebih banyak diabaikan.

 

Hari-hari adventus sedang kita tapaki. Kita sebenarnya sedang bercermin diri untuk menata kembali hidup kita yang mungkin telah jauh keluar dari rel kehidupan Kristen dan apa yang dikehendaki orang-orang di sekitar kita karena tuntutan kehidupan ini. Disadari ataupun tidak begitu sering kita memperlihatkan sikap yang tidak jelas dalam kehidupan bersama sehingga kita sulit mendapat tempat di hati orang-orang yang dengannya kita ada bersama. Kadang kita ber-pikir, kita ditolak karena orang tidak suka dengan kita. Kita lebih melihat alasan di luar diri kita ketimbang mengevaluasi hidup dan laku kita sendiri. Kita lupa bahwa kadang kitalah yang men-jadi penyebab adanya penolakan terhadap kehadiran kita dan kehadiran kita dibaikan, tidak di-hargai. Selain sikap yang tidak jelas, kadang kita tidak mendapat tempat dalam kebersamaan ka-rena kita suka mempersoalkan apa yang seharusnya tidak dipersoalkan lalu mengabaikan apa yang seharusnya kita perhatikan demi perubahan dalam diri kita sendiri. Karena itu hari ini kita diminta untuk menjauhkan sikap yang ditunjukkan oleh mereka yang mengeritik apa yang dila-kukan Yesus dan Yohanes. Mereka hanya menilai apa yang mereka lihat, mereka tidak melihat  lebih jauh untuk menemukan apa maksud kehadiran dari apa yang mereka lihat dan mereka juga tidak berusaha menempatkan dirinya pada posisi orang-orang yang mereka kritik.  Melalui kisah ini pertama, Yesus hendak menyadarkan kita bahwa begitu sering muncul soal dalam kehidupan kita, merusak relasi kita dengan sesama karena kita begitu mudah menjatuhkan vonis, menilai sesama hanya berdasarkan apa yang kita saksikan tanpa mau berusaha untuk melihat nilai lain dari apa yang mereka lakukan. Kedua,  perbandingan yang dibuat Yesus hendak menggambarkan bah-wa tidak sedikit soal yang sulit diselesaikan karena kita menunjukkan siapa yang tidak jelas. Situasi sekitar tidak sanggup menggugah hati kita. Kita hidup tanpa hati sehingga kita tidak bisa merasakan apa yang sedang dirasakan sesama. Tidak ada rasa prihatin yang tidak memungkinkan kita untuk merasa terdorong untuk melakukan sesuatu. Ketiga, banyak hal yang bisa kita pelajari dari keseharian kita untuk menjadikan hidup kita jauh lebih baik; tindakan Yohanes dan Yesus sebenarnya mengingatkan kita akan apa yang seharusnya kita lakukan dalam kebersamaan; kadang kita perlu bermati raga supaya bisa memahami kehidupan sesama dan tugas lain adalah mendekati mereka yang dijauhkan dari kebersamaan kelompok orang piunggiran. Untuk bisa mengetahui situasi yang sebenarnya kita harus bersedia untuk menyebrang.

 

Hidup kita dipenuhi dengan aneka masalah tetapi ini tidak berarti kita harus hidup dengan masalah. Ada banyak jalan yang dapat kita tempuh untuk bisa meredam adanya masalah dan tidak sedikit peluang yang memungkinkan kita menyelesaikan soal yang ada tanpa harus meng-hadapi soal baru. Adventus adalah kesempatan berahmat untuk berbenah diri, peluang yang bernilai untuk membaharui dan menjembatani jurang-jurang yang selama ini memisahkan kita dengan kita karena sikap kita yang tidak jelas dan ketidaksediaan kita untuk melihat nilai lain di balik kenyataan yang kita hadapi. Untuk itu kita dapat belajar dari apa yang dilakukan oleh Yohanes dan Yesus; kadang kita perlu bermati raga untuk bisa ikut merasakan apa yang dira-sakan sesama dan bersedia menyebrang memasuki dunia sesame untuk bisa mengetahui situasi mereka yang sebenarnya dan sebagai jalan untuk membawa mereka kembali ke jalan yang benar. Untuk itu kita mesti menunjukkan sikap yang jelas.

 

“Tanpa usaha untuk merasakan apa yang dirasakan sesama, kita akan begitu gampang menja-tuhkan vonis dan member nilai yang tidak adil terhadap sesama”.


SERMONER: Erminold Manehat, SVD

Pastor SVD, Direktur Utama Radio TIRILOLOK Kupang.


ADMIN: Cornelis Kiik