POST: 01-10-2021 Jam: 13:15:35 WITA - Dari: WEBMASTER, Kepada: Netizen dan Pendengar TIRILOLOK, INFORMASI: Website Radio TIRILOLOK sedang dalam perubahan konstruksi. Beberapa halaman web mungkin tidak ditemukan sebab masih dalam konstruksi. Terima kasih

Hari ini:

whatsapp
1 Pengunjung Online

SERMON

JANGAN MENGADA-ADA




Ilustrasi Lukas 11:37-41
RENUNGAN, 12-10-2021 || DAILY SERMON

Lukas 11:37-41


Kita ingin orang lain mendapat kesan bahwa kita adalah orang-orang baik entah itu dalam kata maupun dalam laku. Untuk itu segala jalan kita tempuh, kita berusaha sedemikian rupa agar hal ini dapat dicapai. Bahayanya bila hal ini berubah menjadi sikap hidup, kita tidak lagi menya-dari bahwa kita sedang mengelabui orang lain. Karena itu kita diminta untuk bersikap, berlaku apa adanya, tidak mengada-ada. Permintaan ini mengisyaratkan situasi du-nia kita dewasa ini; situasi penuh kepura-puraan, situasi aspal-asli tapi palsu, situasi serba imitasi. Kata-kata ini mengajak kita untuk melihat ke dalam diri, sudah sejauh mana kita mengekspresikan keaslian-kesejatian diri kita dalam kebersamaan. Kadang kita bersikap begitu ramah tetapi se-benarnya di balik keramahan itu, kita menyembunyikan dendam yang mematikan. Disadari ataupun tidak, sikap ini telah menjerumuskan orang-orang lugu yang tanpa prasangka mempercayai setiap tutur kata dan laku kita. Karena kepolosannya mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang meng-hadapi satu dunia semu. Keprihatinan yang kita perlihatkan hanyalah bagian dari teknik meme-nangkan diri kita sendiri. Sebagai orang-orang kristen mestinya sikap ini kita jauhi. Bagi kita hidup Yesus mestinya menjadi cermin hidup kita; kita harus hidup sebagaimana Kristus hidup.

Yang kita kejar dalam hidup ini adalah satu bentuk hidup yang lebih baik dari hidup yang sedang menggetarkan ada kita. Kita berusaha untuk mencari yang lebih baik dari yang sudah baik, yang lebih benar dari yang sudah benar dan yang lebih adil dari yang sudah adil. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa tidak mudah bagi kita untuk menjadi yang lebih baik dari yang sudah baik, yang lebih benar dari yang sudah benar dan yang lebih adil dari yang sudah adil kalau menjadi baik, benar dan adil saja sudah begitu sulit. Mencapai situasi seperti ini, kita butuh kesediaan untuk berkorban, kemauan untuk mengalahkan keinginan diri yang suka menang sendiri. Lalu apakah sebagai orang kristen kita mesti ikut tenggelam dalam situasi semacam ini? Saya kira tidak. Apapun situasinya, sebagai orang beriman, kita dipang-gil untuk bisa menam-pakkan gambaran hidup yang lebih baik dari pada apa yang sedang dihidupi oleh umum, berla-wanan dengan dunia saat ini walau kita sedang me-ngais hidup dalam dunia yang sama. Sebagai orang beriman hidup keagamaan kita mesti lebih benar dari mereka yang lain. Bila yang lain lebih mementingkan kerapih-an lahiriah, kita sendiri harus punya prinsip dn berusaha agar yang lahiriah itu merupakan cerminan dari yang batiniah; baik luar dalam. Bila kaum Farisi menekan-kan kebersihan lahiriah, apa yang nampak, kita mesti menyadari bahwa kerapihan lahiriah mesti merupakan cerminan keapikan batiniah. Bersihkan dan rapihkanlah hati anda karena dari sanalah yang baik dan yang buruk bisa mengalir. Bila hati anda dipenuhi kebaikan dalam wajahnya yang aneka maka dari sana akan mengalir kebaikan dengan segala daya pikatnya dan sebaliknya bila hati anda menjadi sumber keburukan dari sana akan mengalir kejahatan dalam segala bentuknya. Apakah hidup kita sudah jauh lebih baik dari hidup kaum Farisi dan ahli Taurat? Kalau kata-kata dan hidup mereka tidak sejalan, kata-kata dan hidup kita mesti seirama; saling menjiwai, saling mewakili; apa yang kita katakan adalah apa yang kita hidupi dan apa yang kita hidupi itulah yang mesti kita katakan. Kalau mereka lebih pandai mengumber teori, kita mesti menunjukkan bahwa kita tidak saja pandai berteori tetapi juga mampu meng-hidupi apa yang kita katakan dalam keseharian kita. Kalau mereka suka menilai kehi-dupan orang lain, kita harus berusaha agar hidup kita yang baik menjadi contoh bagi sesama untuk menata hidupnya sendiri. Kalu mereka suka mengada-ada, kita mesti hidup apa adanya karena di sanalah letak sejati tidaknya kita. Sebab kebesaran sese-orang tidak terletak pada apa yang dikatakannya tetapi apa yang dihidupinya. Hidup kitalah yang menentukan benar tidaknya apa yang kita katakan. Kata-kata boleh hebat membuai tetapi bila tidak diimbangi dengan hidup yang mempesona, kita tak jauh berbeda dari gong yang berkumandang.

Yang kita cari dalam hidup adalah kebahagiaan. Sebagai orang beriman untuk meraih kebahagiaan kita diundang untuk menghidupi hidup keagamaan kita secara benar, hidup yang jauh lebih baik dari hidup kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat. Semua ini tidak mudah untuk dijalani karena kita sudah terlanjur meng-hidupi mental kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat. Kita telah dipanggil untuk menjadi terang dalam dunia yang gelap, cermin bagi sesama untuk menata hidupnya. Untuk menjadi yang lebih baik dari yang sudah baik, yang lebih benar dari yang sudah benar dan yang lebih adil dari yang sudah adil, kita harus siap berperang dengan diri kita sendiri.


SERMONER: Erminold Manehat, SVD

Pastor SVD, Direktur Utama Radio TIRILOLOK


ADMIN: Cornelis Kiik
SOUND: JANGAN MENGADA-ADA
LOADING AUDIO

Bila tidak respon: KLIK dan BUKA pakai VLC