POST: 01-10-2021 Jam: 13:15:35 WITA - Dari: WEBMASTER, Kepada: Netizen dan Pendengar TIRILOLOK, INFORMASI: Website Radio TIRILOLOK sedang dalam perubahan konstruksi. Beberapa halaman web mungkin tidak ditemukan sebab masih dalam konstruksi. Terima kasih

Hari ini:

whatsapp
1 Pengunjung Online

OPINI

Pilkada Kota Kupang (Uji Coba Mesin Politik)





Lhokseumawe, 29-06-2007 || Andre Therik

BEBERAPA saat yang lalu melalui proses yang panjang dan berliku, masing-masing calon walikota dan Wakil Walikota Kupang akhirnya telah memilih jenis mesin politik apa yang akan dipakai dan ada keyakinan bahwa dengan mesin politik serta jaringan yang dipilih dapat memberikan hasil yang terbaik, agar sang calon dapat memenangkan pertarungan balap politik baik itu cuma satu putaran atau pun dua putaran.

Ada sebuah pertanyaan klasik yang sering muncul pada saat pilkada berlangsung, yaitu apakah hanya mesin partai politik sajakah yang bisa membawa seorang calon walikota dan wakil walikota bisa memenangkan pertarungan? Atau adakah indikator ataupun variabel lain yang bisa memberikan pembuktian bahwa mesin partai politik itu hanya penting karena terikat peraturan, tetapi sesungguhnya superioritas sebuah mesin politik sudah tidak lagi menjadi indikator utama kenapa seorang calon walikota dan wakil walikota bisa terpilih.

Fakta menunjukkan di beberapa daerah di Indonesia yang belum lama melangsungkan pesta demokrasi secara langsung untuk pemilihan kepala daerah, baik gubernur ataupun bupati/walikota, bahwa mesin politik partai tidak lagi menjadi jaminan utama untuk membawa seorang calon dapat terpilih menjadi kepala daerah, tetapi ada faktor-faktor pendukung lain seperti popularitas figur, keahlian dan militansi tim sukses, program pembangunan yang dijual, isu-isu kedaerahan yang diangkat dan lain lain. Profil seorang calon walikota dan wakil walikota berhubungan erat dengan stigma yang telah dibangun selama ini dan untuk mempertahankan citra dan kredibilitas dari seorang calon walikota dan wakil walikota dibutuhkan sebuah proses yang cukup lama untuk memastikan bahwa seorang calon itu sudah sepantas dan selayaknya terpilih dan duduk untuk menjadi kepala daerah.

Dari sisi pemikiran parsial, membangun dan mempertahankan sebuah citra atau stigma adalah dengan mengangkat isu-isu kedaerahan yang berkaitan dengan nuansa SARA. Sebagai contoh kalau sang calon berasal dari suku Rote ataupun Timor, maka semua pemilih yang bersuku Rote dan Timor di Kota Kupang diharapkan secara otomatis memilih sang calon tersebut. Tentunya pemikiran tersebut sangat keliru, karena warga Kota Kupang ingin merasakan adanya bentuk dan pola lain dari program-program pembangunan yang lebih merakyat dan menyentuh semua elemen lapisan masayarakat tanpa memandang bahwa pemimpinnya berasal dari suku ataupun agama tertentu.

Sekarang ini stigma bahwa calon harus bebas KKN, pro kepentingan rakyat dari seorang walikota dan wakil walikota semakin populer dibicarakan, sebab telah terjadi perubahan budaya politik masyarakat di Kota Kupang yang menginginkan untuk melihat figur baru yang bisa memperjuangkan kepentingan rakyat dan mau merubah sistim pemerintahan yang kaku dan seolah-olah dikuasai oleh kepentingan dan oknum-oknum tertentu dan sudah sepantasnya warga Kota Kupang didorong untuk tidak mendukung calon yang berstigma buruk, karena ini akan merugikan rakyat dan kerugian ini akan memakan waktu dan energi yang cukup lama untuk membangun kembali demokratisasi di Kota Kupang.

Parpol sebagai mesin politik dalam pilkada sangat diharapkan untuk membuka akses yang cukup terbuka dan demokratis. Jangan sampai terjadi superioritas partai politik lokal dan superioritas kekuatan uang, yang akhirnya mengganjal kearifan politik lokal yang diharapkan oleh seluruh warga Kota Kupang. Pendek kata, hasil Pilkada Kota Kupang nantinya perlu disimak, apakah pemenang di arena balap politik adalah figur politik yang bersih dan pro rakyat dengan mesin partai politik kecil atau memang figur politik yang besar masih juga memerlukan mesin partai politik yang besar untuk mengawalnya menjadi pemenang? Hanya pemilih di Kota Kupang yang bisa menjawab dan membuktikannya.


WRITTER: Andre Therik

Penulis, adalah warga kota Kupang yang sedang bertugas di Lhokseumawe


ADMIN: Admin TIRILOLOK