POST: 01-10-2021 Jam: 13:15:35 WITA - Dari: WEBMASTER, Kepada: Netizen dan Pendengar TIRILOLOK, INFORMASI: Website Radio TIRILOLOK sedang dalam perubahan konstruksi. Beberapa halaman web mungkin tidak ditemukan sebab masih dalam konstruksi. Terima kasih

Hari ini:

whatsapp
2 Pengunjung Online

SERMON

"TAHU DIRI"





RENUNGAN, 15-09-2015 || DAILY SERMON

Mrk 8:27-33, Minggu, 13 September 2009

Kami bertemu secara kebetulan, kami berkenalan lalu diikuti dengan pertemuan-pertemuan maka di sana lahirlah pelangi kenangan yang tidak mudah untuk dilupakan. Mengenal ataupun dikenal adalah satu keinginan yang sangat manusiawi. Mungkin juga saat ini anda sedang memikirkan orang yang baru dikenal atau jurus-jurus mana yang mesti digunakan untuk mendekati pribadi tertentu yang mulai mencuri hatimu dan membuat anda melewatkan detak-detik sang waktu dalam gelisah. Mengenal/dikenal merupakan tuntutan ada bersama. Bahayanya bisa saja terjadi kita mengenal begitu banyak orang tetapi kita tidak mengenal siapa kita sebenarnya. Kita begitu mengenal sesama secara detail tetapi kita buta akan pengetahuan tentang diri sendiri. Mengenal sesama adalah tuntutan hidup bersama sama seperti mengenal diri sendiripun adalah tuntutan kebersa-maan. Kalau kita berusaha mencari kesempatan untuk bisa mengenal orang lain, hal yang sama mesti kita lakukan untuk diri kita sendiri. Menempatkan diri secara tepat dalam kebersamaan; mengenal diri adalah tuntutan yang paling azasi; satu conditio sine quo non. Ada kunci untuk menghindarkan kita dari banyak soal yakni kunci 3K; kenal diri, kenal tempat dan kenal tugas. Ketiganya berbeda tetapi yang satu menentukan yang lain. Yang kenal diri akan kenal tempatnya dan yang kenal tempatnya akan kenal tugasnya. Soal muncul ketika manusia tidak menge-nal siapa dirinya. Mengenal yang lain tanpa mengenal diri sendiri, kita akan kehilangan jati diri/keaslian diri. Mengenal diri tanpa mengenal yang lain adalah mustahil; kita akan terjebak dalam keakuan dan yang lain akan kehilangan arti.

Kita sudah biasa mendengar kata-kata ini, ‘tak kenal maka tak sayang’. Ini berarti disukai ataupun tidak bergantung dari kadar pengenalan kita akan sesuatu atau seseorang. Dan pentingnya mengenal diri bukan saja baru disadari oleh manusia-manusia era globalisasi ini tetapi sudah sejak adanya manusia. Mengenal diri merupakan langkah awal, kunci merubah dunia. Markus berkisah, suatu hari entah kapan dua ribu tahun silam, ketika mendekati Kaisarea Filipi Yesus bertanya; kata orang dan katamu ‘siapa Aku ini?’ Lewat pertanyaan ini, Yesus hendak mengetahui tanggapan orang dan para murid tentang diriNya, pengaruh kehadiranNya di antara mereka. Berdasarkan pandangan mereka, Ia ingin mengevaluasi diriNya. Di samping itu, pertanyaan ini dimaksudkan juga sebagai peluang memurnikan motivasi para muridNya dalam mengikuti Dia. Kalau kamu mau mengikuti Aku kamu harus mengenal siapa Aku dan harus punya keberanian untuk mengenal diri sendiri. Dengan mengenal siapa Aku, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan-dengan mengenal dirimu sendiri, kamu dapat melihat kekuatan dan kelemahanmu dalam menjalankan tugasmu. Lebih dari ini penyebutan nama tempat Kaiserea Filipi, hendak ditekankan bahwa kapan dan di mana saja, kita mesti bertanya diri dan tahu pasti siapa kita. Hal ini dilakukan Yesus, karena Dia tidak mau mereka mengikuti Dia secara buta; Ia tidak mau mereka tenggelam dalam massa, ikut-ikutan. Putusan untuk mengikuti Dia harus merupakan putusan pribadi berdasarkan pengalaman ada bersama Dia. Mengikuti seseorang tanpa mengenal orang itu, ini satu tindakan yang koyol. Mengenal seseorang tanpa tahu menem-patkan diri di hadapannya adalah kebodohan. Pengenalan akan Yesus memung-kinkan para murid untuk mengetahui kewajibannya sendiri, apa yang harus mereka lakukan, bagaimana menempatkan diri mereka dalam kebersamaan. Di samping itu, menerima tugas dari seseorang tanpa mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan diri sendiri adalah satu tindakan yang fatal, kita menjebak diri sendiri, membunuh diri sendiri. Memang benar kita tidak hidup berdasarkan pandangan orang lain tetapi kita juga membutuhkan pandangan sesama untuk lebih mengenal siapa kita sebenarnya. Untuk itu kita butuh keterbukaan dan kerendah-an hati. Tanpa sikap ini, hidup kita tidak akan diperkaya dan kehadiran kita akan punya nada yang sama dengan ketidakhadiran kita, kita tidak akan tahu siapa sebenarnya kita dalam kebersamaan dan untuk apa kita ada dalam kebersamaan itu.

Apakah kita punya cukup keberanian untuk bertanya, ‘menurut kamu siapakah aku ini? Boleh jadi kita punya nyali untuk itu tetapi yang kita harapkan adalah yang baik-baik saja tentang kita. Karena itu pertanyaan Yesus mesti menjadi pertanyaan kita walaupun kita takut mendengar yang negatif tentang kita. Bila pertanyaan yang sama diajukan kepada kita, apa jawaban kita? Kita sudah mengenal begitu banyak orang tetapi kita belum cukup mengenal Yesus dan diri sendiri, kita baru berada pada tahap mengetahui siapa Yesus dan siapa kita. Bila kita sudah cukup mengenal Dia dan paham akan diri sendiri tentu kita tahu apa yang harus kita lakukan dalam kebersamaan. Kalau kita mengenal diri dan tahu apa yang harus kita lakukan dalam kebersamaan, ceritera hidup ini pasti lain. Dunia akan berubah kalau kita siap berubah, perubahan itu hanya mungkin bila dimulai dari diri sendiri. Untuk itu mengenal diri adalah jalan satu-satunya.


SERMONER: P. Balthasar Erminold Manehat, SVD

Pastor SVD, Direktur Utama Radio TIRILOLOK - Kupang


ADMIN: Cornelis Kiik
SOUND: "TAHU DIRI"
LOADING AUDIO

Bila tidak respon: KLIK dan BUKA pakai VLC