POST: 01-10-2021 Jam: 13:15:35 WITA - Dari: WEBMASTER, Kepada: Netizen dan Pendengar TIRILOLOK, INFORMASI: Website Radio TIRILOLOK sedang dalam perubahan konstruksi. Beberapa halaman web mungkin tidak ditemukan sebab masih dalam konstruksi. Terima kasih

Hari ini:

whatsapp
3 Pengunjung Online

SERMON

SIKAP KITA MENENTUKAN PERUBAHAN




SERMON
RENUNGAN, 27-06-2009 || WEEKLY SERMON

Mrk 5:21-43

Hari kembali pagi, satu hari baru lagi kita tapaki, ada perubahan dalam waktu, ada kekhasan dalam hari karena namanya sudah turut berganti bersama perginya sang malam. Ternyata segala sesuatu ada waktunya. Lalu bagaimana dengan kita sendiri? Adakah pegantian sang waktu turut mempengaruhi perubahan dalam hidup dan relasi kita? Kalau kita sendiri menghendaki adanya perubahan dalam hidup, mestinya segala perubahan yang terjadi di sekitar kita menjadi sumber inspirasi, mendorong kita untuk mewujudkan apa yang kita rencanakan. Mengapa sampai saat ini relasi kita dengan sesama masih belum berjalan mulus, mengapa kisah hidup kita masih seperti kemarin? Karena yang berubah Cuma waktu tetapi kita sendiri masih tinggal di masa lalu, kita punya keinginan untuk berubah tanpa kesediaan untuk berubah. Di sini kita mesti menyadari bahwa sikap batin kita, mental kita menentukan segalanya. Program boleh bagus, rencana boleh serapih mungkin dan keinginan setinggi langit tetapi hati kita masih tetap tertutup, semuanya akan mubazir, sia-sia. Hal ini diperparah dengan sikap kita yang tidak mau menerima diri kita apa adanya, sulit bagi kita untuk menerima bahwa pada diri kita ada banyak kekurangan yang mesti dibenahi. Inilah sebabnya mengapa kekurangan kita sulit diatasi dan penyelesaian banyak soal menemui jalan buntu.

Ada banyak hal di luar diri kita yang sebenarnya mendukung keinginan kita untuk berubah tetapi semuanya bergantung dari sikap dan mental kita. Untuk itu kita perlu dengan rendah hati menerima diri kita apa adanya. Kita harus tahu bahwa berarti tidaknya kehadiran kita di antara yang lain sangat bergantung dari sikap kita dalam menghadapi apa dan siapa saja yang mengitari kita. Kebaikan hanya mungkin tercipta bila ada kerja sama dan kesalingan di antara kita; yang satu menyadari keadaan dirinya dan melihat kebaikan dalam diri sesamanya dan yang lain punya rasa prihatin dan kesediaan untuk menolong. Yang terpenting adalah menyadari dalam situasi apa kita ini, kesediaan kita mengungkapkannya dan kerendahan hati kita untuk mengakui keungulan sesama. Anak kepala rumah ibadat dihidupkan dan wanita yang sakit pendarahan disembuhkan karena mereka menyadari keadaan dirinya dan percaya bahwa Yesus dapat menolong mereka. Kisah ini menegaskan betapa pentingnya sikap kita-ada keterbukaan, usaha untuk mengenal siapa kita dan arti sebuah kehadiran, mengakui keunggulan sesama serta membuka diri terhadap uluran tangan sesama. Sebagai orang-orang beriman, kehadiran kita mesti bernilai tambah; sesama bukan saja disadarkan bahwa kita berarti bagi mereka tetapi juga menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berbuat yang sama. Sikap ini mesti menjadi warna dasar kebersamaan kita. Untuk itu kita perlu bercermin pada sikap dan kehadiran Yesus; ke mana Dia pergi ke sana orang selalu berebutan menemui Dia. Di mana Dia hadir di sana uluran tanganNya dinantikan, yang sakit disembuhkan, yang mati dibangkitkan, yang tidak percaya diyakinkan. Sejauh ini, apakah kehadiran Yesus sudah menjadi bagian keseharian dan kehadiran kita? Ataukah di mana kita hadir di sana sahabat beralih jadi musuh, yang sehat jadi sakit, yang hidup kehilangan daya juang dan mati perlahan-lahan? Sanggupkah kita menjadikan hidup dan kehadiran Yesus, hidup dan kehadiran kita sendiri? Ternyata di hadapan Yesus, hidup kita mesti ditata ulang, iman kita perlu diberi darah baru.

Pada deker sebuah jembatan bersandarlah seorang yang telah lanjut usianya. Matanya menatap ke bawah jembatan itu, mengikuti aliran air yang mengalir dari hulu ke muara melewati bebatuan, menyelinap di cela-cela rerumputan yang tumbuh di sekitar daerah aliran anak sungai itu. Keasyikannya mengikuti irama air yang mengalir, terganggu oleh kehadiran dan pertanyaan temannya; "mengapa kamu menatap ke bawah, apakah ada sesuatu yang menarik? Dengan tatapan yang menerawang jauh, sang kakek menjawab; "saya sedang belajar dari kehadiran air ini. Lihatlah ke mana saja air ini mengalir di sana ada hidup. Anda dan saya, kitapun tidak dapat hidup tanpa air. Tetapi apakah kita pernah belajar mengha-dirkan diri seperti air ini? Seandainya kita bisa belajar dari kehadiran air ini; kehidupan kita tak pernah akan mengalami musim kemarau.


SERMONER: Erminold Manehat, SVD

Pastor SVD, Direktur Utama Radio TIRILOLOK - Kupang


ADMIN: Cornelis Kiik