Untitled Document
Home SVD Curia SVD TIMOR LESTE SVD JAWA SVD ENDE SVD RUTENG Today's Sermon
Hot NEWS
 
Misi Sebagai Dialog Ke Dalam Diri Sendiri
Pengauditan Keuangan Provinsi dan Komunitas
Mengelola Lembaga Pendidikan yang Mandiri
Yayasan Pendidikan Aryos Nenuk Diresmikan
Perayaan Pelepasan 6 Karyawan Purnabakti
Uskup Agung Makassar Siap Terima SVD Timor
Di Luar Aku Kamu Tidak Bisa Berbuat Apa-Apa Untuk Misi
Dari Kapitel Ke-18 Provinsi SVD Timor
Rumah Baru di Soverdi Kupang, Hadiah Pancawindu Imamat P. Paulus Ngganggung, SVD dari Keluarga Manggarai
JPIC Provinsi SVD Timor Perluas Misi untuk TKI/TKW di Malaysia
 
 
BPT No. 147/2015
PENTINGYA DIALOG DALAM KEHIDUPAN
P. Vincentius Wun, SVD

(Provincial SVD Timor )

Konfrater yang terkasih,


Pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman hidup dan karya menyangkut pentingnya dialog dalam kehidupan. Pernah ada seorang ibu rumah tangga datang pada saya untuk meminta bantuan pranic healing karena ia sulit tidur (insomia). Ternyata ia mengalami nasib yang sama seperti ke dokter dan psikiatrik karena tetap tidak bisa tidur. Akhirnya kami coba mengolah masalah hidup keluarganya dan  ternyata akar masalahnya adalah tidak adanya dialog antara ibu itu dan suaminya. Ketika ada masalah di dalam keluarganya, mereka selalu menyikapinya dengan marah, bertengkar lalu menghindar tanpa ada pembicaraan lanjutan secara bersama-sama untuk klarifikasi. Penyembuhannya hanya bisa terjadi kalau kedua pihak bertemu, menahan emosi serta mau berbicara dengan teman hidup secara terbuka, siap untuk terluka kalau dinilai dan mengungkapkan segala unek-unek yang tersimpan dan terpendam serta mencari jalan penyelesaian. Minggu terakhir ini sudah ada informasi bahwa ibu itu sudah bisa tidur dengan baik. Dari kisah pengalaman ibu itu, kita pun dapat bertanya diri: Beranikah kita untuk berdialog dengan sesama kita dalam hidup dan karya kita sebagai orang yang membaktikan hidup untuk misi gereja?


Kapitel Provinsi kita dalam rangka mengimplementasikan Arah Kongregasi selaras hasil Kapitel General XVII tahun 2012 sudah kita selesaikan. Kita patut bersyukur kepada Tuhan Yang Mahaesa karena berkat bimbingan-Nya Kapitel kita telah berakhir dengan baik. Namun rasa syukur itu akan semakin berlipat ganda dampaknya kalau dibarengi dengan niat baik dari setiap anggota untuk menjalankan dengan setia segala yang sudah disharingkan/diskusikan bersama sebagaimana yang telah dituangkan dalam resolusi dan rekomendasi hasil Kapitel kita. Selain bersyukur kepada Tuhan, saya patut menyampaikan syukur dan terima kasih kepada semua Anggota Dewan Provinsi SVD Timor dan semua sama saudara yang telah turut terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam menyukseskan Kapitel kita.


Follow up dari Kapitel kita sangat penting. Kita mendapat mandat dari Kapitel untuk dijalankan dalam karya perutusan kita, baik pada tingkat Rumah, Distrik maupun Provinsi. Untuk itu sebagai Putra-putra Arnoldus Janssen dalam menjalankan mandat Kapitel kita perlu ingat  pernyataan Arnoldus Janssen ini: ”True Love and real trust from the basis of all team work.” Pendapat Arnold ini kiranya menjadi pegangan bagi kita sekalian dalam mengaktualisasikan segala yang kita  gariskan dalam Kapitel kita yang lalu. Program konkrit hendaknya disusun dalam kebersamaan sebagai satu komunitas maupun unit sehingga apa yang kita lakukan sungguh mengenai sasaran dan dapat diukur keberhasilannya. Kebiasaaan yang kurang terpuji tapi yang sudah menjadi kebiasaan buruk dalam serikat kita adalah rencana sendiri, berjuang sendiri tanpa mau mendengarkan pertimbangan orang lain. Padahal Konstitusi kita menetapkan: “Kita semua memikul tanggung jawab bersama demi kehidupan dan karya kita sebagai biarawan-misionaris. Oleh karena itu para pembesar hendaknya senantiasa mengadakan pembicaraan bersama dalam suasana persaudaraan tentang hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama, berunding dengan sama saudara-sama saudara serta mempertimbangkan pendapat mereka sehingga bersatu dalam doa mereka dapat mengetahui kehendak Allah” (Kons. 606). Mari kita belajar berdialog dalam merencanakan dan membuahkan sesuatu yang berguna untuk serikat kita.


Dalam Kata Pengantar Superior General, P.Heinz Kuelueke, SVD pada Arnoldus Nota edisi Mei 2015 di bawah judul:” God’s Word and Inter-Religious Dialogue”, bagi saya, bahan itu merupakan suatu masukan yang amat berharga untuk kita perhatikan dalam mewujudkan mimpi kita bersama tentang masa depan Provinsi kita. Hidup bersama tanpa dialog bagaikan hidup di dalam “neraka”.  Kebenaran gambaran itu sudah terungkap sejak awal kemanusian. Cerita Kain dan Abel dalam Kitab Kejadian menggambarkan secara jelas sekali hidup tanpa dialog dan akibatnya (Kej. 4). Sikap hati yang tidak diungkapkan dapat digantikan dengan tindakan kekerasan. Tendensi yang sama terjadi di kalangan para murid Yesus, pada saat Yakobus dan Yohanes menunjukkan reaksi mereka  ketika orang Samaria menolak kunjungan kerja Yesus ke kota mereka, ke dua murid mengajukan usul kepada Yesus agar menjatuhkan api dari langit bagi kota itu ( Bdk. Luk. 9:52-56).


Situasi tanpa dialog dan akibat seperti cerita Kitab Suci di atas itu masih berkelanjutan hingga dunia kita dewasa ini, bahkan dalam komunitas biara kita. Ada sekian banyak peristiwa yang terjadi di dunia sekitar kita yang dapat saya katakan “neraka” karena unsur terpenting dari kehidupan kita untuk menciptakan perdamaian akibat vakumnya dialog. Ribuan Pengungsi Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh yang melarikan diri dari negaranya untuk mencari perlindungan di negara tetangga lain karena tiadanya sikap dialog antara penguasa dan kaum kecil yang tersisihkan. Ada etnis dan agama tertentu yang mengklaim agama dan kelompok  mereka sebagai yang paling benar dan karena itu dengan cara yang sangat tidak manusiawi atas nama Allah menghabisi hidup sesama yang tidak searah dengan keyakinan mereka. Di sinilah tugas dan panggilan kita  untuk mengembangkan pentingnya dialog antar budaya dan agama dalam karya kia. Tugas mulia itu hanya bisa kalau kita belajar berdialog mulai dari komunitas kita masing-masing.


Mengapa kita harus berdialog? Terinspirasi dari Sabda Allah kita menyadari bahwa Allah mendekati manusia dengan mengajukan pertanyaan sebagai awal dari sebuah dialog. Pertanyaan-pertanyaan  yang diajukan Allah kepada Kain menyangkut kasus pembunuhan adiknya Abel tidak sekedar sebuah investigasi namun lebih dari itu yaitu merupakan proses pencerahan untuk memahami duduknya persoalan yang sebenarnya. “Pertanyaan” juga adalah satu tahap pengenalan yang terbaik akan pihak lain  bahkan tak jarang lewat pertanyaan itu ada hal yang tidak diketahui sebelumnya pun bisa terungkap. Kalau Allah sendiri mendekati kita dengan dialog apalagi kita sebagai seorang SVD yang memiliki semangat dialog profetis dalam berhadapan dengan kaum tersingkirkan (Bdk Suara P.General, Arnoldus Nota edisi Mei 2015).
Seharusnya sebagai seorang SVD, kita tidak mengalami kesulitan untuk membangun sikap dialog dengan sama saudara di dalam komunitas atau juga dengan rekan kerja kita di tempat kerja kita masing-masing. Sebagaimana sudah kita ketahui bersama bahwa dalam dialog hal yang pelu diperhatikan adalah kesediaan untuk menemui sesama kita. Orang yang tidak bersedia menemui sesamanya menutup kemungkinan untuk suatu dialog. Tentang hal ini Paus Fransiskus mengingatkan kita dalam Surat Apostolik untuk hidup bakti : “Belajar menemui sesama”, “hayati semangat hidup menemui sesama” (I,2). Menemui sesama, mendengarkan dan memahami dan dapat membangun dialog di situlah berita gembira Allah dimaklumkan.


Pater Superior General memberikan pesannya bahwa semakin hari semakin penting membangun semangat dialog dalam hidup antar budaya dan agama di dunia kita dewasa ini (Bdk. Pengantar Arnoldus Nota Mei 2015). Maka hendaknya kita belajar menghayati semangat berdialog itu mulai dari dalam komunitas sendiri. Kita juga hendaknya tidak boleh bekerja sendirian,  tetapi kita perlu banyak belajar untuk bekerja sama dalam team karena dalam team itulah kita akan terus membina semangat dialog kita. Semoga ada banyak program konkrit yang sudah dibuat oleh setiap Rektorat, Distrik, dan Rumah/komunitas menyangkut kegiatan ‘ad intra’ dan ‘ad ekstra’ sehingga berhasil atau tidak berhasilnya program tersebut sedapat mungkin bisa diukur dan dievaluasi. Apabila ada masalah yang belum terselesaikan dengan baik, maka kita perlu membangun sikap mau menemui sama saudara, mau  belajar mendengar dan memahami sampai pada dialog untuk penyelesaiannya. Mari belajar berdialog, belajar bekerja dalam team work dan jadilah cahaya dialog bagi dunia di mana kita berkarya. Semoga dengan bantuan Tuhan karya sama saudara dapat berhasil dengan baik demi kemuliaan Allah.

Salam persaudaraan dalam Sang Sabda

SELEKSI POSTNGAN EDISI [ 1 ] [ 2 ] [ 3 ] [ 4 ] [ 5 ] [ 6 ] [ 7 ] [ 8 ]

 

About Us | Contact Us | ©2007 Radio TIRILOLOK
s