Untitled Document
Home SVD Curia SVD TIMOR LESTE SVD JAWA SVD ENDE SVD RUTENG Today's Sermon
Edisi: BPT No. 147/2015
22-09-2015 | 05:30:45
 
PERISTIWA UTAMA
 
  MISI SEBAGAI DIALOG KE DALAM DIRI SENDIRI
 
25.jpg
Suasana Rekoleksi Umum Keuskupan Atambua

(Dari Rekoleksi Umum Keuskupan Atambua, 9-11 Juli 2015 di Biara SVD Nenuk)

DUNIA senantiasa berubah seturut berlalunya waktu. Karya misi gereja pun tak luput dari perkembangan dan perubahan zaman. Demikian juga pola pewartaan gereja tidak lagi ditujukan untuk orang-orang kafir, tetapi pertobatan dari si pewarta atau misionaris itu sendiri dan bila perlu terjadi relasi komunikasi timbal-balik antara pewarta dan umat yang mendengar pewartaan dari para misionaris. Demikian benang merah dari ceramahnya Romo Dr. Oktovianus Naif, Pr, yang berjudul “Adhebreos Ad Gentes Inter Gentes, Ad et Inter Atambuensis” yang dibawakan pada acara Rekoleksi Umum Keuskupan Atambua di Aula Biara SVD Nenuk, Jumat 10 Juli 2015.

Romo Okto Naif, Pr, dalam ceramahnya hari itu, memaparkan secara panjang lebar menyangkut pengertian Ad Gentes dan latarbelakang lahirnya dokumen Ad Gentes serta perubahan paradigma dalam bermisi dan mengajak para hadirin yang adalah biarawan-biarawati yang berkarya di Keuskupan Atambua untuk memahami misi Inter Gentes. Berkaitan dengan misi Ad Gentes, Romo Okto memperkenalkan beberapa istilah untuk disimak.  Missio Ad Gentes dalam konteks Keuskupan Atambua, meliputi: pertama, Missio ad intra: misi ke dalam diri sendiri atau injili diri sendiri lebih dulu sebelum menginjili orang di luar diri; bertobat lebih dulu sebelum minta orang lain bertobat; ubah diri sendiri sebelum mengubah orang lain. Kedua, Missio ad extra: misi keluar dari diri sendiri lalu bergerak menuju yang lain dan berjumpa dengan yang lain demi “pertukaran mengagumkan”. Ketiga, Missio ad altera: misi mencari dan menemukan mereka yang adalah “lain” atau mereka yang dijadikan “lain” dan menjadikan mereka itu sebagai sesama kita dan sahabat kita. Keempat, Missio ad altum: misi ke kedalaman: pendalaman ajaran-ajaran iman; pendalaman ajaran spiritual-moral; para misionaris dalam komitmen misionernya untuk mencari pendekatan baru namun sehat yang bisa bawa Injil hingga di hati. Kelima, Missio ad vulnera: gerak menuju pingggiran dan mendekati mereka yang terpinggirkan, lalu membawa pulang kaum terpinggir itu ke sentrum kehidupan Gereja.


Sedangkan Misi Inter Gentes, lanjut Romo Okto menjelaskan bahwa Inter dalam frase missio inter gentes berarti antara, di antara atau di tengah-tengah. Gentes berarti bangsa dan umat.  Missio intergentes bisa berarti misi antara umat, misi di antara atau di tengah-tengah umat.  Missio inter gentes disebut juga missio cum gentibus atau misi bersama dengan umat. Missio Inter Gentes dalam konteks Keuskupan Atambua meliputi (1) Missio inter gentes berarti misi membangun jembatan antara misionaris dan umat. Jembatan itu bernama “reciprocal relation.” Aktivitas misioner dalam Gereja Lokal berarti two-way activity yang dilakukan misionaris kepada umat dan yang dilakukan umat kepada misionaris. Itu adalah mutual mission: baik misionaris maupun umat sama-sama “melakukan misi”.(2) Missio inter gentes berarti evangelisasi timbal balik. Dengan menginjili umat, misionaris juga diinjili oleh umat. Efektivitas karya misioner para misionaris bergantung juga pada kerendahan dan keterbukaan hati para misionaris untuk diinjili oleh gentes.  Mengakui kebaikan dan kekudusan gentes di luar komunitas religius  itu hal baik. Hal ini dilakukan oleh Yesus: Yesus memuji orang Samaria yang murah hati (Luk 10:33-35); orang lepra (Samaria) yang tahu bersyukur (Luk 17:17-18); Yesus memuji serdadu yang punya iman mantap (Mat 8:10), dst. Para misionaris mesti berani buka hati dan budi untuk ditransformasikan secara spiritual, intelektual dan cordial oleh gentes. Dengan demikian yang menginjili bisa diinjili dan yang diinjili bisa menginjili. (3) Missio inter gentes juga berarti missio cum gentibus. Usaha para misionaris untuk wujudkan kerajaan Allah yang damai, adil, sejahtera dalam sebuah Gereja Lokal nampaknya  belum juga terwujud. Misionaris berseru-seru “syalom… syalom namun nyatanya wa en syalom = damai sejahtera…damai sejahtera tapi nyatanya tidak ada damai sejahtera.  Nampaknya tanpa kolaborasi dengan gentes dari berbagai latar belakang yang berbeda, damai sejahtera sulit terlaksana. Musuh bersama semua budaya dan agama adalah kemiskinan, ketidak-adilan, kekerasan , budaya kematian, ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan dalam aneka bidang kehidupan.


Lebih jauh, Romo Okto mengatakan bahwa antara Ad Gentes  dan Inter Gentes memiliki hubungan timbal balik yang disebut dengan misi dalam deep dialogueyang perlu dihidupi oleh seorang misionarisDisebut Deep Dialogue karena terdapat tahapan dialog hingga tingkat transformasi hidup dan tingkah laku yang harus dilalui seorang misionaris. Tahapan deep dialogue itu meliputi:  (1) Perjumpaan radikal dengan yang lain (misionaris bertemu dengan yang lain sama sekali dengan dirinya - asing). (2) Yang lain mulai memasuki diri (misionaris bertransformasi melalui empati). (3) Mengalami yang lain (misionaris bertransformasi ke dalam yang lain tanpa menjadi lain). (4) Kembali dengan sebuah visi yang diperluas (misionaris kembali ke rumah/ komunitas/pastoran dengan pengetahuan baru). (5)Kesadaran dialogis (misionaris bertransformasi dari dalam). (6)Kematangan dan kedewasaan (misionaris masuk ke dalam diri, sesama dan dunia). (7) Transformasi hidup dan tingkah laku (misionaris hidup dan bertindak dalam kesadaran baru).
Para misionaris perlu menghidupi Spiritualitas Misioner Ad Gentes, sebagaimana dikemukakan oleh P. Stanis Kofi, SVD dalam renungannya pada hari pertama dimulainya Rekoleksi Umum Keuskupan atambua, Kamis 9 Juli 2015. Menurut Pater Stanis, spiritualitas misioner Ad Gentes mengandaikan adanya proses adaptasi dengan kehidupan sosial -budaya, adat-istiadat, politik dan ekonomi umat yang dilayani. Santu Paulus adalah seorang yang memiliki spiritualitas yang mendalam, harus «Berlaku ramah seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawat anaknya… bukan saja rela mewartakan Injil Allah, tetapi juga membagi hidupnya sendiri, karena ia mengasihi mereka» (1Tes 2:7-8). Dengan demikian St. Paulus menegaskan bahwa panggilan misioner adalah suatu panggilan untuk berbagi hidup dan membangun communio, yang bernafaskan «kebenaran dan keadilan, kesucian dan belas-kasih, cinta dan damai.

Praktek hidup misioner, kata Pater Stanis, adalah suatu tindakan iman (fides qua creditur), berdasarkan rahmat pembaptisan (fides quae creditur). Dengan itu setiap orang yang dibaptis adalah misionaris, sebagaimana Gereja sebagai persekutuan umat beriman, «pada hakekatnya misionaris».
Oleh partisipasi misionernya orang dapat masuk dalam pengabdian yang lebih besar kepada Allah, menikmati cinta Allah yang lebih besar,  aman dan nyaman tinggal dalam Allah, bekerja dengan hasil yang lebih besar dan memiliki kepekaan iman dan disermen yang lebih besar. Untuk itu, orang/misionaris perlu menjernihkan pikiran dan beningkan hati agar dapat masuk dalam pengalaman rohani yang lebih mendalam. Sebagaimana dikatakan Victor Frankl bahwa dunia saat ini kehilangan arah dan orientasi karena terjebak dalam satu mata rantai kecemasan tanpa alasan dan terlilit dalam suatu kebingungan tanpa batasan. Dan kerinduan terbesar masyarakat  dewasa ini adalah «inner-peace» atau kedamaian Batin. Dan pencariaan itu bertujuan untuk menemukan makna dari setiap aksi dan mencapai tujuan dari setiap perjuangan. (Bruder John Tanouf, SVD)

   
 
[ back ]
 
About Us | Contact Us | ©2007 Radio TIRILOLOK