Untitled Document
Home SVD Curia SVD TIMOR LESTE SVD JAWA SVD ENDE SVD RUTENG Today's Sermon
Edisi: BPT No. 147/2015
22-09-2015 | 05:14:35
 
PERISTIWA UTAMA
 
  MENGELOLA LEMBAGA PENDIDIKAN YANG MANDIRI
 
23.jpg
P. Laurens Da Costa, SVD

PADA hakekatnya pendidikan itu bersifat sosial bukan untuk mencari keuntungan finansial. Namun tidak dilarang bahwa sebuah lembaga pendidikan dapat menghidupkan dirinya sendiri bahkan dapat memberikan keuntungan finansial sekedarnya bagi pemilik dan pengelolanya. Hal itu dikemukakan oleh P. Laurens Da Costa, SVD ketika membawakan materinya yang berjudul “Pendidikan dan Kemandirian” pada kegiatan Kapitel Provinsi SVD Timor ke-18, Selasa 21 April 2015 lalu.


Menurut Pater Laurens Da Costa, lembaga pendidikan di Indonesia yang sanggup menghidupi dirinya sendiri bahkan mendatangkan keuntungan bagi pemilik dan pengelolanya hampir semuanya terdapat di Jakarta, Surabaya, Medan dan Bandung. Sekolah- sekolah itu sering dikenal dengan nama Sekolah Nasional Plus dan Sekolah Internasional. Sekolah-sekolah itu sekarang berganti nama menjadi sekolah-sekolah kerjasama. Sekolah-sekolah tersebut di atas umumnya dikelola oleh dua badan hukum yaitu PT (Perseroan Terbatas)dan Yayasan. PT adalah pemilik fasilitas-fasilitas fisik seperti tanah, gedung dan perlengkapan-perlengkapan sekolah. Sedangkan Yayasan menguasai perihal pendidikan. Dengan demikian, kalau sekolah mengalami kebangkrutan maka PT tetap memiliki fasilitas-fasilitas fisik dan tidak dapat diambilalih oleh pemerintah. Sedangkan Yayasan dan haknya dapat diambilalih oleh pemerintah dan diserahkan ke pihak lain.


Sekolah-sekolah di luar 4 kota itu, Lanjut Pater Laurens yang juga mantan Provinsial Ende, pada umumnya sulit untuk memperoleh keuntungan finansial, kalaupun ada, biasanya dalam jumlah yang kecil. Karena itu, untuk mencukupi kebutuhan operasionalnya, dibutuhkan: (1) usaha internal: perkebunan dan peternakan, koperasi, kantin, fotocopy, toko alat-alat tulis. (2) Bantuan dari pihak lain: misalnya, bantuan dari pemerintah melalui dana BOS dan beasiswa serta fasilitas sekolah; laboratorium, ruang kelas, computer,dan lain-lain. Karena itu, untuk mendirikan sekolah-sekolah di luar 4 kota itu, pemilik sekolah harus memikirkan cara-cara untuk memperoleh dana untuk membiayai sekolah-sekolah tersebut. Artinya, sekolah-sekolah kita seperti Unwira Kupang, STM Nenuk, SMA Syuradikara, STMK Larantuka tidak bisa hidup hanya dari uang sekolah peserta didik.


Untuk mencapai upaya kemandirian, diperlukan suatu proses pendidikan dan pembentukan karakter demi terjadinya perubahan mentalitas  di dalam diri setiap orang. Sejauh pengamatan Pater Laurens, kita masih sangat bergantung pada bantuan dari generalat. Muncul pertanyaan, mengapa keluarga-keluarga miskin di kampung, termasuk kita dulu dan tarekat-tarekat pribumi di Indonesia bisa mandiri secara relatif sementara kita tidak? Salah satu sebab, barangkali sikap mental kita “yang ingin selalu dilayani-mental pejabat-mental proposal”. Karena itu, untuk mandiri, kita harus ubah mental (revolusi mental) dengan usaha-usaha konkrit. Sikap-sikap mental yang perlu dikembangkan seperti penghematan, mental proposal ke mental kerja, mental boros ke mental hemat, mental santai ke mental serius dan kerja keras, waktu rekreasi yang berlebihan ke mental pemanfatan waktu secara efektif dan efisien, mental yang melihat waktu sebagai kairos bukan sekedar kronos. Sementara upaya-upaya konkrit seperti upayakan beasiswa, tanam-tanaman produktif. Produktivitas yang digalakkan, antara lain, menanam porang, kelor, gaharu, jati, kemiri, singkong emas, ternak lele, sapi, babi, ayam. (jt)

   
 
[ back ]
 
About Us | Contact Us | ©2007 Radio TIRILOLOK