Untitled Document
Home SVD Curia SVD TIMOR LESTE SVD JAWA SVD ENDE SVD RUTENG Today's Sermon
Edisi: BPT No. 147/2015
22-09-2015 | 01:01:22
 
PERISTIWA UTAMA
 
  DI LUAR AKU KAMU TIDAK BISA BERBUAT APA-APA UNTUK MISI
 
19.jpg
Lensa Kapitel Provinsi Timor ke-18

Oleh: Pater Edu Dosi, SVD

(Kotbah pada misa penutupan Kapitel Provinsi Timor, 22 April 2015).

BERHASIL atau tidak berhasil dalam karya perutusan kita sebagai SVD merupakan faktor manusiawi yang sangat tergantung pada cara dan strategi bagaimana SVD saat ini berpikir tentang, bersikap terhadap, dan bersikap menghadapi masa depan itu dengan berlandas kepercayaan kepada penyelenggaraan ilahi dan bersatu dengan Allah, Sang Pokok Anggur.
Allah sebagai faktor ilahi dalam karya kita tentu saja adalah faktor yang pada akhirnya menentukan segala-galanya. Namun, Ia sendiri tidak akan memaksakan kehendak dan rencana-Nya pada manusia. Hanya sejauh manusia mendengar dan mengikuti kehendak-Nya, di sanalah terjadi peristiwa-peristiwa besar dalam hidup. Maka sebagai seorang anggota SVD, kita yakin akan peranan Sang Sabda dalam perutusan kita. Yesus mengatakan diri-Nya sebagai pokok anggur yang benar dan kita carang-carang-Nya. Yesus meminta kita agar menyatu dengan diri-Nya sehingga kita memiliki dasar pijak yang kuat dari sebuah hidup dan perutusan ilahi. Yesus bilang, “...di luar Aku, kamu tidak bisa berbuat apa-apa untuk misi” (bdk. Yoh 15:5b).


Jika SVD ingin tetap relevan sekarang dan masa-masa mendatang seratus tahun ke depan, tidak ada pilihan lain daripada menyatu dengan pokok anggur dan berusaha untuk secara lebih konsekuen lagi “belajar” dari Sang Sabda tentang bagaimana cara atau strategi terbaik untuk senantiasa hidup dalam peristiwa Paska-Nya/kebangkitan. Karenanya pula kita perlu membangun nilai-nilai kebangkitan, nilai-nilai positif seperti kejujuran, komitmen, loyal kepada pimpinan (sharing Bpk Gabriel Olin), kerjasama, kerja cerdas (Bpk Kristo Blasin), loyalitas, kualitas, profesionalisme (Bpk Tisera), semua ini sebagai wujud kultur kehidupan paska/kebangkitan. Sharing Bpk Guido Fulbertus: (1) perlu kemauan keras, mulai dengan langkah pertama (Plato), (2) idealisme, merobah diri duluan (Leo Tolstoy), (3) Ethos kerja: tahu sedikit, omong bual, kerja malas, harapa besar, nafsu besar tenaga kurang, (4) integritas. Kata Nabi Muhammad, tanda orang munafik ada tiga perkara: ia berdusta bila ia bicara, mungkir apabila berjanji dan berkhianat apabila dipercayai.
Dari pengalaman SVD berkarya di kawasan ini, sejak tahun 1913 di Timor, 1914 di Flores, kita bisa menyaksikan bahwa hanya karya SVD yang berlandaskan roh Allah, Roh Inkarnasi, roh Arnoldus Janssen, roh SVD dengan visi dan misi awal SVD yang universal serta berwawasan lintas waktu, lintas tempat dan budaya, lintas daerah dan suku serta ras, menembus primordialisme dan kepentingan sesaat, justru bertahan dan berkembang. Sedangkan karya-karya SVD berdasarkan roh duniawi yang menghidupi kultur kematian, karya-karya yang ekslusif, yang tak punya komitmen, tak jujur, easy going, munafik, bersarang (nesting), konsumtif ngemis-ngemis, yang Cuma berdasarkan keinginan sendiri dan kesenangan, eksklusif etnisitas-primordialisme dengan horison misi yang sempit hampir tak ada yang bertahan dan tak ada buah yang lestari bahkan mendapat karmanya sendiri.


Musyawarah-musyawarah terakhir dan kapitel terakhir menunjukkan dengan jelas bahwa kepribadian utama dari para sama saudara SVD adalah revitalisasi komitmen terhadap panggilan misioner SVD sesuai dengan arah Serikat. Pemahaman-pemahaman tersebut mendesak para SVD untuk mendengarkan secara baru tuntutan Roh Kudus. Ada tiga hal yang penting: pertama, kemampuan membaca tanda-tanda zaman (ad ekstra). Kedua, kepekaan terhadap Roh dengan cara mendengarkan Sabda Allah (ad intra). Ketiga, kesadaran yang lebih besar akan pentingnya disermen bersama.


Oleh karena itu, kita perlu terbuka kepada Roh Allah nafas segala ciptaan, angin perubahan yang menghembus melalui hidup kita, yang membuka diri kita kepada visi dan harapan baru, membuka diri kepada hidup baru di dalam Yesus, sang pokok anggur. Kita perlu revolusi mental: berubah dari pikiran tertutup, hati yang tertutup, berubah dari kemunafikan yang berlindung dibalik tata cara rutinitas kesalehan tanpa makna kekudusan. Berubah dari hal-hal yang menghalangi insight baru, yang lebih suka tinggal di masa lalu ketimbang apa yang Allah kehendaki untuk dilakukan besok di Galilea kehidupan kita, Allah sudah bangkit dan mendahului kita ke Galilea. Marilah kita ke Galilea bertemu dengan Allah yang bangkit dalam kehidupan kita yang real di komunitas pelayanan kita di unit-unit kerja.

   
 
[ back ]
 
About Us | Contact Us | ©2007 Radio TIRILOLOK