Untitled Document
Home SVD Curia SVD TIMOR LESTE SVD JAWA SVD ENDE SVD RUTENG Today's Sermon
Edisi April-Juni 2014
12-11-2014 | 00:00:00
 
PERISTIWA UTAMA
 
  JPIC PROVINSI SVD TIMOR PERLUAS MISI UNTUK TKI/TKW DI MALAYSIA
 
16.jpg
  • Foto bersama bapak Ronald Menik, Konsul  General  Indonesia di Penang dan TKW asal NTT - NTB yang lari dari majikan dan mendapat suaka di kantor kedutaan  R.I.
  • Uskup Sebastian Francis, D.D – Uskup Keuskupan Kepulauan Pineng bersama umat TKI/TKW  asal Flores dan Timor dalam safari Pastoral Migrant untuk umat Flores dan Timor di Perkebunan sawit.


Liputan:  P. Pieter Dile Bataona, SVD


CIKAL BAKAL agenda kerja JPIC Provinsi SVD Timor dan kunjungannya ke Malaysia ini dicetuskan di Sri Langka bulan November tahun 2012 dari sebuah pembicaraan yang serius dan mendesak antara saudara Peter Barnabas, pegawai pada kantor Migrant dan Overseas ministry Keuskupan Pulau Penang - Malaysia dengan P. Paul Rahmat SVD, Direktur Pelaksana Vivat International Indonesia dan koordinator JPIC Provinsi SVD Jawa. Dikatakan mendesak karena adanya suatu kebutuhan pastoral yang konkrit bagi umat yang lazim dikenal dengan TKI/TKW asal Flores dan Timor. Kebutuhan ini berdasarkan keprihatinan pihak keuskupan pulau Pineng  akan sejumlah migrant dan overseas workers atau TKI/TKW asal Indonesia khususnya Flores dan Timor . Mereka menyebar di beberapa Paroki di wilayah keuskupan tersebut. Tawaran digulirkan oleh pater Paul Rahmat, SVD kepada koordinator JPIC SVD Timor untuk melakukan kunjungan dengan biaya transportasi dan akomodasi dari kantor Migrant dan Overseas Worker Keuskupan Pulau Pineng. Kontak dibangun bersama P. Paul dan pada akhirnya saudara Peter Barnabas menghubungi saya selaku koordinator JPIC SVD Timor untuk memenuhi undangan mereka dari pulau Pineng- Malaysia, untuk melakukan suatu pendekatan awal dengan kegiatan rekoleksi, Ibadat Tobat dan pengakuan dalam rangka persiapan Natal dan Tahun Baru untuk umat-umat Indonesia khususnya yang berasal dari Flores dan Timor. Tawar menawar soal waktu, dalam benak saya membayangkan cukup seminggu, tetapi dianjurkan kalau boleh dua minggu. Sehingga jadwal kegiatan dan perjalanan saya dimulai tanggal 6 Desember sampai dengan 18 Desember 2013.


Awal perjalanan sebuah misi untuk para migrant atau TKI/TKW.  Saya bertolak dari Timor tanggal 5 Desember 2013 dengan pesawat Lion Air  menuju Jakarta dan hari berikut bertolak dari Jakarta menuju pulau Pineng. Perjalanan ke Pineng mesti menyinggahi Bandara International Kuala Namu di Medan. Kurang lebih dua jam dari Jakarta menuju Medan dan sisa waktu 40 menit lagi menempuh rute Medan - Pulau Pineng. Hanya karena perilaku Lion Air yang terkenal van der lat  maka jadwal tiba di Pineng mundur . Pesawat baru mendarat jam  13. 30, dari jadwal semula 11.30 – waktu setempat. Tidak ada perbedaan waktu antara Pulau Pineng dan waktu Indonesia bagian Tengah. Saya dijemput petugas Migrant Keuskupan, Peter Barnabas, Ibu Sandra Cheah dan saudara Vinsen. Selanjutnya saya dihantar ke Katedral Holy Spirit dan menginap di pastoran Katedral.


Pada pagi hari tanggal 7 Desember 2013, saya bertemu dengan uskup  Rev.  Mgr. Sebastian Francis, D.D,  yang baru setahun ditahbiskan uskup menggantikan uskup Anthony. Beliau memberikan gambaran tentang kaum migrant dan pekerja-pekerja asal Timor dan Flores dengan keprihatinan akan formasi iman mereka. Menurut data keuskupan ada sekitar 7000-an umat katolik asal Flores dan Timor serta separuh dari Jawa-Sumatera yang menyebar di beberapa paroki di wilayah keuskupan pulau Pineng. Masalah pastoral yang paling konkrit dihadapi adalah keterbatasan tenaga imam. Atau bahasa biblisnya, panen melimpah tetapi pekerja sedikit saja. Persoalan lainnya berkaitan dengan bahasa. Ada tiga bahasa yang lazim dipakai: bahasa Inggris, bahasa Tamil dan bahasa Melayu. Tetapi karena padre-padri di keuskupan Pineng kebanyakan dari suku India Tamil maka terbanyak menggunakan bahasa Ingris dan bahasa Tamil. Penutur Bahasa Melayu untuk warga setempat semuanya orang Melayu yang beragama Islam maka penggunaan bahasa Melayu dalam perayaan misa menjadi jarang. Misa kudus yang sering dirayakan dalam bahasa Tamil dan Bahasa Inggris menjadi kesulitan tersendiri untuk TKI/TKW asal Flores dan Timor.


Berangkat dari kesulitan nyata ini rev.Mgr.Sebastian mengungkapkan keinginannya untuk pelayanan yang serius bagi umat Indonesia khususnya Flores dan Timor. “ How I wish that Indonesian priest especially either from Flores or Timor being interested to take part in this mission for migrant and overseas workers in pulau Pineng dioces and assisting migrant and overseas workers in their own language”. Saya membutuhkan imam dari Indonesia khususnya dari Flores atau Timor yang senang dengan pelayanan kaum migran atau TKI/TKW dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Dan ini merupakan tuntutan yang mendesak untuk formasi iman bagi umat perantau.
Uskup juga menyinggung politik penyebaran tenaga kerja yang dicanangkan oleh pemerintah Malaysia, bahwa agenda tahun 2014, pemerintah akan mendatangkan dua juta tenaga kerja dari Bangladesh untuk perkebunan sawit, pekerjaan rumah tangga, perkilangan (pabrik) dan konstruksi. Dua juta tenaga kerja asal Bangladesh itu beragama Islam. Apakah orang kita (orang katolik khususnya dari Flores dan Timor) sudah siap menggarami atau sebaliknya digarami dengan ragi Bangladesh dan akhirnya lenyap dalam anonimitas? Untuk pekerjaan formasi iman inilah uskup mengharapkan dengan sangat agar boleh mulai suatu kerja sama dengan kantor pelayanan migrant dan overseas workers keuskupan pulau Pineng untuk pelayanan berlanjut bagi kelompok umat TKW/TKI - Indonesia khususnya Flores dan Timor.


Pada sore hari yang sama, kami bertemu dengan sekelompok umat asal NTT di wilayah paroki katedral Roh Kudus sekaligus bertatap muka dengan Konsul General Indonesia, bapak Ronald Melik. Beliau seorang katolik asal Batak- Sumatera. Menurut data sementara konsulat, ada sekitar empat puluh dua ribu warga Indonesia di seputar pulau Pineng saja. Daftar sementara peserta pemilu 2014. Proses pendataan masih berjalan untuk mereka yang memiliki dokumen resmi. Warga Indonesia yang hadir kira-kira dua ratus orang, terbanyak dari Manggarai, Ende, Bajawa dan beberapa dari Sumatera.


Tanggal 8 Desember 2013, tepat pukul 06.00, petugas dari kantor migrant keuskupan yakni Peter Barnabas, Vinsen dan Sandra menjemput saya untuk memulai safari iman ke lokasi para perantau kita. Kami menuju paroki St. Antonius Padua - Teluk Intan, Perak. Perjalanan ditempuh selama 4 jam untuk pelayanan misa pada jam 11 siang bersama kelompok TKI/TKW dari Nusa Tenggara. Laporan Pater Francis, pastor parok St. Antonius-Teluk Intai, bahwa ada sekitar 4000 (empat ribu) umat Flores dan Timor yang terdaftar di  paroki St. Antonius - Teluk Intan. Masih banyak yang masuk Malaysia ikut pintu belakang (tanpa dokumen resmi) yang juga masih di belakang-belakang di paroki ini, artinya belum terdatakan dan tidak berani tampil. Misa jam 11 siang untuk umat NTT.  Sekitar 500 orang dengan wajah-wajah orang Kleseleon,  Besikama, Haitimuk, Lakulo, Weoe,  Ende dan Bajawa.


Jam 4 petang, Rekoleksi, Ibadat tobat dan pengakuan di PT Perkebunan Sawit Changkat Menteri. PT. Perkebunan ini memiliki sebuah kapela di atas bukit. Perjalanan dari pusat Paroki ke tempat ini selama dua jam. Lain padang lain belalang, di Indonesia ada sebutan pater dan romo sedangkan di Malaysia ada sebutan padre untuk para imam.  Sekitar 500 orang NTT yang hadir untuk mengikuti kegiatan. Menurut Ketua Kelompok Anselmus Seran, seharusnya lebih banyak lagi orang NTT yang hadir kegiatan ini tetapi karena kendala hujan maka hanya begini saja. Dominasi orang Besikama, Hai timuk, webriamata, Bolan dan selebihnya beberapa dari Ende dan Nagekeo.
Tanggal 9 Desember 2013, Jam 4 petang, kegiatan yang sama untuk umat perantau di Cold Stream. Kegiatan rekoleksi ini dihadiri sekitar 900 orang. Pastor Francis Xavier (pastor paroki) sudah mengantisipasi kondisi ini, sehingga  menyempatkan diri untuk ambil bagian dalam pelayanan pengakuan. Pelayanan rekoleksi dilakukan di tenda dalam lingkungan peternakan itik. Dominan orang orang dari Belu selatan dan Flores.


Hari berikutnya tanggal 10 Desember 2013 pada jam yang sama, kegiatan rekoleksi untuk umat perantau di lokasi Bernam Estate. Sekitar 300 orang hadir. Kelompok ini didominasi oleh orang Belu selatan, dari Weluli serta  beberapa dari Ende dan Bajawa. Tidak diagendakan misa karena pertimbangan bakal terlalu lama, dan mereka harus segera kembali ke penampungan masing-masing. Semua kegiatan  difasilitasi oleh tim keuskupan dan tim dari Paroki yang juga menyiapkan logistik untuk makan malam bersama kelompok perantau asal Timor dan Flores.


Tanggal 11 – 13 Desember 2013, bersama tim keuskupan kami pindah ke Paroki Hati Kudus Yesus, di Kampar, Perak, masih dalam wilayah keuskupan pulau Pineng. Kegiatan rekoleksi, pengakuan dan misa untuk tiga kelompok besar dalam tiga hari ini. Pertama di  di Air Kuning  yang dihadiri sekitar 200 orang.  Hari ke dua di lokasi Sungai Cross sebanyak 400 orang dan hari ke tiga di lokasi yang disebut Kampung sebanyak 300 orang. Kebanyakan berasal dari  Rafau, Manlea, Nurobo serta beberapa orang dari Ende, Bajawa dan manggarai. Dari kelompok ini terdapat pasangan-pasangan yang belum menikah sekitar 40 pasang dan perempuannya hanya tinggal saja di barak. Alasan mereka belum mengurus pernikahan, karena soal adat belum dibereskan.


Hari Sabtu pagi 14 Desember 2013,  kami tinggalkan Paroki Hati kudus Yesus – Kampar, lalu menuju kota Ipoh yang dikenal dengan nama Diamond Bay Ipoh, sebuah kota perniagaan besar di Malaysia dan dideklarasikan sebagai kota paling bersih. Kami melaju mencari alamat Paroki St. Maria dari Lourdes, di jalan Silibin 45, untuk kegiatan rekoleksi dan pengakuan. Umat perantau yang hadir sekitar 300 orang bervariasi orang Flores, Timor, Sumatera dan jawa. Kegiatan rekoleksi dan pengakuan ditutup dengan misa kudus pada hari Minggu 15 Desember bersama umat perantau. Pada kesempatan itu kami didaulat untuk membaptis dua orang asal Jawa- Madiun yang masuk katolik. Jam 3 petang, bersama tim keuskupan kami tinggalkan  Diamond Bay Ipoh dan kembali ke markas di pastoran Katedral Pulau Pineng.


Tanggal 16 Desember 2013. Pagi hari kami berkunjung ke Kantor Konsul General Indonesia atas permintaan bapak Ronald Melik. Di sana bapak Ronald juga mempertemukan kami dengan 38 orang TKW asal NTT dan NTB yang lari dari majikan dan dilepas dari majikan tanpa tanggungjawab dan sedang berlindung di konsulat. TKW dari NTT  yang datang dari Nagekeo mengaku direkruit agen Mataram dan yang berasal dari Takari direkruit oleh agen Kupang dengan ceritera mereka dikirim dari agen yang satu ke agen yang lain hingga masuk ke Malaysia. Kesulitan yang disampaikan Konsul General bahwa mereka sendiri tidak tahu alamat majikan dan juga tidak tahu agen mereka. Jadi tunggu saja proses pemulangan ke Indonesia. Kasihan pulang tidak membawa apapun juga sesudah berjuang untuk memperbaiki nasib di rantau. Jam 4 petang, kami dijemput lagi oleh Peter Barnabas dan berangkat lagi ke Butterworth di paroki Sta. Maria Bunda Perawan. Di sini kami hanya melayani pengakuan dosa sekitar 50- an orang. Dominan orang Manggarai dan Ende ditambah beberapa dari Niki-Niki yang beragama Kristen (tentu yang Kristen tidak mengaku dosa hanya mengikuti ibadat dan rekoleksinya). Tanggal 17 Desember siang jam 10, pelayanan pengakuan untuk 6 TKW asal Philippines yang juga sedang diurus oleh Konsul General Indonesia, karena tidak ada konsulat Philippines di Pineng. Seusai Ibadat Tobat dan pengakuan, kami kembali ke paroki Sta. Anna di Bukit Martajam untuk bermalam.


Tanggal 18 Desember 2013, jam 2 siang, tim keuskupan menjemput saya menuju  Paroki St. Mikael di Alor Setar – Kedah kira-kira 250 km dari Bukit Martajam untuk kegiatan rekoleksi dan pengakuan bagi umat Indonesia. Ada dua ratus lima belas yang hadir dalam acara pengakuan dan misa. Rangkaian kegiatan rekoleksi dan pengakuan untuk umat perantau berakhir di Alor Setar. Tanggal 19 Desember 2013, kami tinggalkan Katedral Roh Kudus, pulau Pineng menuju Jakarta.


Atas permintaan pastor Paroki Teluk Intan, kami kembali dari Jakarta ke Teluk Intan tanggal 22 Desember untuk asistensi Natal dan Tahun Baru bagi umat asal NTT dalam Bahasa Indonesia di paroki St. Antonius Padua Teluk Intan. Di Paroki ini tercatat data terbanyak umat perantau asal NTT sekitar 4000 orang.


Berdasarkan Laporan Umum Konsul General Indonesia, banyak warga NTT yang masuk ke Malaysia, khususnya Pulau Pineng, tidak memiliki surat-surat atau dokumen yang dibutuhkan karena mereka mengikuti jalan pintas atau pintu belakang. Mereka dikelompokan atas dua klasifikasi yang dianggap layak dan tidak layak. Kelompok layak adalah mereka yang memiliki surat-surat permit dengan perlakuan mendapat tempat tinggal yang layak (rumah, air dan listrik) yang disediakan perusahan. Sedangkan kelompok yang tidak layak adalah mereka yang tidak memiliki surat-surat atau dokumen dan tinggal di pinggir hutan dengan pemondokan yang dibuat sendiri. Alasan utama menempatkan diri di pinggir hutan dan kebun agar bila Polisi Malaysia melakukan penggeledakan, mereka gampang kabur masuk ke dalam hutan. Yang memudahkan mereka untuk masuk secara ilegal, menurut Konsul General Indonesia di Pulau Pineng, bapak Ronald Melik, karena kesamaan budaya dan bahasa yang memungkinkan mereka bisa berkomunikasi bila dibandingkan dengan menyeberang ke Australia tentu sulit karena kesulitan bahasa dan komunikasi.


Kenekatan mereka untuk menyeberang batas tanpa surat atau dokumen, menurut pengakuan seorang mama tua dari Kletek- Belu Selatan, karena terdesak dengan kebutuhan uang sekolah anak- apapun resikonya dan mereka puas dengan upah rata-rata perbulan Rm. 900 equivalen dengan Rp 2.700.000 / bulan. Menurut Jacky orang Ende, alasan kenapa banyak menyeberang tanpa dokumen karena urusan paspor di Indonesia tarifnya Rp 6.000.000 dan lagi harus tunggu sampai tiga/empat minggu. Padahal kalau mereka menyeberang saja mereka hanya korban sekitar Rp. 2 juta  untuk membayar Polisi Indonesia dan Polisi Malaysia di perbatasan dengan demikian mereka bisa seberang batas. Tambahan pula penantian tiga minggu bagi mereka dianggap rugi karena dalam akumulasi waktu mereka sudah mengantongi sejumlah uang di atas dua juta rupiah dalam tiga minggu itu. Banyak warga NTT yang tidak memiliki surat resmi tidak masuk gereja karena takut polisi. Mereka yang bekerja di pabrik-pabrik juga sulit untuk melakukan kegiatan gerejani bersama.


Kesulitan dalam bahasa. Banyak pastor keturunan India -Tamil merasa berat melakukan misa dalam Bahasa melayu karena beban tugas paroki yang juga sangat menyita menyebabkan minimnya perhatian terhadap kelompok Indonesia atau NTT. Hanya satu dua pastor paroki yang memberi perhatian dengan jadwal sekali dalam sebulan misa dalam Bahasa Melayu. Tetapi saat kotbah atau homili umat diajak untuk merenung masing-masing. Sementara ada pastor lain menyiapkan misa dalam Bahasa Melayu, tetapi umat Indonesia tidak banyak yang muncul jadi mereka kembali ke Bahasa Tamil atau Inggris.


Fenomena lainnya, ada tawaran yang menggiurkan dari gereja-gereja Kristen yang menyiapkan fasilitas angkutan untuk umat yang mau mengikuti kebaktian di gereja mereka dan ini memberi peluang banyak rekan umat Katolik menyeberang ke gereja- gereja Kristen tertentu yang dilayani secara rutin dari Indonesia dengan kebaktian dalam Bahasa Indonesia.


Uskup Kepulauan Pineng sangat memberikan perhatian kepada kelompok umat NTT dan mendorong komisi Migrant-Overseas workers Keuskupan Pulau Pineng untuk melakukan kerja sama dengan padre-padre dari NTT untuk tugas formasi umat dan memberikan pembinaan iman bagi kaum perantau asal NTT. Kesepakatan dibangun bersama VIVAT Indonesia di Srilanka dan mandat ini diberikan ke koordinator JPIC SVD Timor. Kerjasama sudah dimulai dengan kegiatan rekoleksi menjelang Natal 2013 ini.
Keprihatinan Uskup dan para imam atas isu politik Kerajaan Malaysia untuk mempekerjakan 2 juta tenaga kerja dari Bangladesh. Bagaimana dengan nasib saudara/i dari NTT di perantauan ini, apakah mereka bisa kuat bertahan atau bakal dilindas arus pekerja Bangladesh yang terbayang seperti program transmigrasi di Indonesia pada zaman Orde Baru. Kecemasan mereka kiranya juga menjadi kecemasan kita di NTT untuk melakukan pendampingan dan penguatan. Komisi Migrant sangat terbuka untuk program bersama ke depan demi menyelamatkan umat kepilihan Allah dari NTT ini di rantau orang.

   
 
[ back ]
 
About Us | Contact Us | ©2007 Radio TIRILOLOK