Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 05-10-2009 | 03:29:48
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘JANGAN CUMA TEORI’
(Luk 10:25-37, Senin, 5 Oktober 2009)

Adakah rasa kasih sedang mengusik hatimu? Kasih, cinta, kata ini senantiasa menghadirkan rasa aneh dalam hati, menciptakan riak dan gelombang, terang dan gelap, tawa dan tangis dalam hidup. Ia adalah kunci segalanya; ekspresi kedalaman manusia yang punya hati, jiwa setiap langkah yang kita pahat, ikatan setiap relasi yang kita rajut, sejarah yang kita tuliskan, peristiwa yang kita pentaskan, kisah yang kita ceriterakan dan pengalaman yang kita rasakan. Jangan pernah bertanya, ‘adakah kamu punya kasih’, katakan ‘apakah kamu punya hati’ karena hanya yang punya hati, yang bisa mendeteksi getar rasa ini, merasakan apa yang sedang anda rasakan tanpa anda harus mengatakannya; melihat dengan jelas yang samar diperlihatkan, memahami apa yang tidak dikatakan di balik kata-kata yang anda ucapkan, membaca yang tersirat di balik huruf-huruf yang disuratkan. Di sini hati dan kasih jadi hulu dan muaranya hidup; di mana yang baik dan yang buruk bisa mengalir, mewarnai hidup anda dan saya dengan warna-warni yang khas. Lebih dari itu, ceritera hidup ini hanya akan berubah bila rasa ini tidak hanya dipenjarakan dalam kata tetapi diwujudkan dalam hidup, lewat satu tindakan nyata, karena apa yang anda lakukanlah yang dapat menjadi bukti adanya rasa ini dalam hati anda.

‘Kasihilah Tuhan AllahMu dengan segenap dirimu dan cintailah sesamamu seperti anda mencintai diri anda sendiri’, demikian jawaban yang diberikan Yesus kepada si ahli kitab. Hukum inilah yang menjadi jiwa, motor penggerak roda kehidupan manusia, satu ungkapan klasik yang senantiasa baru, cermin ekspresi hati manusia terhadap Tuhannya dan kepada sesamanya. Inilah jalan menuju hidup yang kekal yang merupakan kerinduan setiap kita. Ia ada dalam aneka bahasa, dipentaskan dalam 1001 cara. Tentang kata ini ada tertulis ‘sekali waktu cinta memberi sangat banyak, di lain saat kasih menuntut tidak sedikit, keikhlasan, kepasrahan, pengorbanan konon adalah bias sejatinya rasa yang satu ini, saat kita memberi tanpa meminta, mencintai tanpa berusaha memiliki, melihat jauh melampaui batas-batas yang ada......mengasihi seseorang berarti meminta dia untuk hidup, mengundang dia untuk berkembang, mengabdi tanpa mengorbankan, memberi kebaikan tanpa merusak yang diperbaiki’. Pertanyaan si ahli Taurat dijadikan Yesus sebagai peluang untuk menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan bertolak dari hukum ini. Cinta terhadap Tuhan harus diwujudkan dalam kasih terhadap sesama dan kasih terhadap sesama mesti merupakan ungkapan cinta kita terhadap Allah yang kita imani. Agar rasa ini tidak hanya terpateri dalam kata-kata kosong, ia mesti diwujudkan dalam tindakan nyata seperti apa yang dilakukan oleh si Samaritan yang baik hati. Ia tidak banyak berteori tentang hebatnya pengaruh rasa kasih dalam hidup tetapi ia menunjukkan bahwa kasih, rasa ini hanya bermakna dan punya daya rubah bila ditunjukkan dalam tindakan yang dapat menyelamatkan hidup sesama; mengasih berarti memberikan kesem-patan kepada sesama untuk hidup, memberi dia nyawa cadangan, peluang untuk mengekspresikan dirinya. Yesus mengemukakan contoh ini karena Dia tahu apa yang kita lakukan dalam kebersamaan tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sang imam dan si Levi yang membatasi rasa kasihnya cuma pada teori dan rasa prihatin tanpa tindak lanjut. Ada ketidakseimbangan cinta kita terhadap Tuhan dan sesama. Kata dan hidup kita belum saling mewakili. Kita mencintai Tuhan tetapi tidak mengasihi sesama atau kasih kita terhadap sesama tidak lagi menjadi wujud nyata cinta kita kepada Allah. Yesus mau menandaskan bahwa cinta kita kepada Allah mesti menyata dalam kasih kita kepada sesama dan sebaliknya setiap ungkapan cinta kita terhadap sesama mesti merupakan wujud nyata cinta dan kasih kepada Allah. Bila ini terjadi, kita tidak akan menghadapi aneka soal dalam hidup.

Kasih/cinta, rasa ini adalah bagian keseharian kita, ia adalah hidup kita. Mungkin juga rasa aneh yang satu ini sedang mengusik nubari anda lantaran ada yang mencuri perhatian anda. Sebagai orang-orang beriman, cinta kita terhadap Allah dan sesama mesti berjalan sejajar dan diberi porsi yang seimbang. Kasih kita harus menyatakan dalam hidup dan relasi kita dengan sesama. Mencintai Tuhan tanpa mencintai sesama adalah penipuan, mencintai sesama tanpa mencin-tai Tuhan adalah pengkhianatan. Untuk mengetahui sejauh mana anda mencintai Tuhan Allahmu dan sesamamu, inilah pertanyaan yang mesti dijawab ‘Apakah anda punya hati kepada keduanya?

"Rasa cinta yang kita miliki mesti mendorong kita untuk membuat sesama berarti bagi yang lain".
[ back ]
footer2.jpg