Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 03-10-2009 | 03:39:32
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘HORMATI ATURAN YANG BERLAKU’
(Mrk 10:2-16 Minggu, 4 Oktober 2009)

Ada banyak hal dalam hidup ini yang terkadang sulit dimengerti. Hal ini terjadi mungkin saja karena keterbatasan kemampuan yang kita miliki atau karena kita cenderung menangkap apa yang disampaikan tanpa melihat maksud yang tersirat di balik apa yang kita lihat, dengar dan baca. Agar bisa memahami realitas yang sebenarnya, menjadi lebih bijak dan menghindari lahirnya soal yang tidak perlu, kita diminta untuk melihat, membaca dan mendengar secara me-nyeluruh tidak sepotong-sepotong; tidak saja melihat apa yang diperlihatkan tetapi apa yang ada dibalik hal-hal yang kita saksikan, mendengar apa yang tidak dika-takan di balik apa yang sampai ke telinga kita dan membaca yang tersirat dari apa yang tersurat. Hal ini tidak gampang karena tidak semua kita sanggup melihat dan menangkap makna di balik realitas yang kita hadapi. Di sini salah tafsir bisa saja terjadi karena yang kita pahami belum tentu sesuai dengan apa yang dimaksudkan. Karena itu kita mesti berhati-hati dan bijak dalam melakukan atau menanggapi kenyataan yang kita hadapi.

Mengapa ada banyak aturan dan hukum dalam hidup kita? Pertama, karena kita ada bersama yang lain; aturan dan hukum ada untuk menjaga agar hak saya tidak mengganggu hak anda, agar masing-masing kita tahu apa yang mesti kita lakukan dalam dan untuk satu kebersamaan. Kedua, karena manusia sudah tidak dapat mengatur dirinya sendiri. Hari ini, kita mendengar diskusi kaum Farisi dengan Yesus tentang hukum; boleh tidaknya perceraian dan sikap para murid yang melarang anak-anak untuk datang kepada Yesus dan diberkati. Berhadapan dengan pertanyaan kaum farisi; Yesus hendak menekankan bahwa hidup bersama sudah menjadi tuntutan kodrati, manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari ke-bersamaan dan perkawinan merupakan salah satu ekspresi dari kenyataan ini. Dan bentuk hidup manapun selalu punya konsekuensi yang mesti dihormati. Di sini yang menjadi masalah bukan boleh tidaknya perceraian itu tetapi soal apakah orang punya komitmen untuk menghidupi pilihannya atau tidak. Kalau hukum dan aturan didasarkan pada boleh dan tidak maka orang akan mencari-cari alasan untuk membatalkan hukum yang berlaku; tetapi bila yang ditekankan adalah komitmen tiap orang terhadap pilihannya, kita tidak akan mudah mencari alasan untuk membatalkan hukum yang berlaku. Tantangan dan kesulitan tidak akan dijadikan alasan untuk membatalkan hukum tetapi mesti dilihat sebagai batu uji untuk mengokohkan kesetiaan kita terhadap pilihan hidup kita. Sikap inilah yang memungkinkan kita untuk menjadi jembatan yang menghantar orang lain untuk mendapat berkat Yesus. Bila kita berpegang pada sikap suka tidak suka maka kita akan bertindak seperti para murid menghalangi anak-anak yang datang pada Yesus. Karena itu Ia mengingatkan mereka untuk membiarkan anak-anak itu da-tang kepadaNya. Seperti mereka yang membawa anak-anak itu, setiap orang kristen berkewajiban membawa sesamanya untuk mengenal dan menghidupi apa yang dihidupi dan diajarkan Yesus melalui hidup dan karya mereka. Jangan persoalkan boleh dan tidaknya hukum yang ada dibatalkan tetapi permasalahkan sudah sejauh mana hidup dan karya kita membawa sesama untuk mengenal dan menghidupi hidup dan ajaran Yesus. Seperti anak-anak yang punya kerinduan yang sangat untuk dijamah dan diberkati Yesus, banyak orang di sekitar kita mendambakan situasi yang sama. Tetapi kerinduan mereka tidak kesampaian karena seperti para murid, kitalah yang menghalangi mereka untuk mendekati Yesus. Kita hidup di daerah kristen tetapi pengaruh kekristenan kita belum nampak; hidup dan cara kerja kita justeru mengaburkan nilai-nilai kekristenan yang mesti kita hidupi. Di mana saja kita berada di sana hampir tidak terlihat tanda-tanda adanya orang kristen. Masih pantaskah kita menamakan diri orang-orang kristen?

Anda dan saya, kita hidup dalam kebersamaan. Demi keharmonisan, hukum dan aturan memainkan perannya. Hukum dan aturan punya makna bila kita mengartikan kehadirannya. Karena itu sikap Yesus harus menjadi sikap kita juga; kita dilahirkan dalam kebersamaan dan kebersamaan diikat oleh hukum dan aturan maka demi kebersamaan kita mesti menghormati hukum dan aturan yang berlaku. Ini satu bentuk hidup di mana iman kita diekspresikan karena iman kita akan Yesus adalah iman yang misioner, iman yang mesti dibagi, iman yang mesti mengundang sesama kepada keselamatan. Bila kita tidak dapat menjadi mereka yang siap membawa sesamanya kepada Yesus, biarlah kita menjadi anak-anak yang punya kerinduan mendapat berkat Yesus. Bila kita tidak dapat menjadi orang-orang yang punya kerinduan untuk diberkati Yesus, jangan pernah menjadi penghalang sesama untuk mewujudkan impian mereka ada bersama Yesus.

[ back ]
footer2.jpg