Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 03-10-2009 | 03:37:37
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “BERSYUKURLAH”
(Luk 10:17-24 Sabtu, 3 Oktober 2009)

Dalam bulan ini ada begitu banyak acara syukuran; entah itu syukuran ulang tahun, lulus testing ataupun wisuda dan masih banyak lagi alasan yang menjadi latar belakang acara ini. Acara ini bukan saja merupakan ungkapan terima kasih kita kepada semua mereka yang terlibat dalam perjalanan kita dan disadari ataupun tidak acara ini juga dapat dijadikan sebagai satu penegasan kepada publik bahwa tanpa yang lain kita bukan apa-apa. Kita hanya bisa menikmati saat-saat seperti ini hanya dalam dan melalui sesama. Melalui mereka kita menemukan dan mengenal dunia kita sendiri. Di sisi lain, apa yang kita lakukan dapat merupakan cermin bagi yang lain untuk melihat ke dalam dirinya; sejauh mana mereka menggunakan talentanya untuk merubuah jalan ceritera hidupnya dan seluas apa mereka memberikan kesempatan kepada Tuhan dan sesama untuk ambil bagian di saat mereka hendak membuat sejarah. Melihat kenyataan ini, mestinya kita mengakui bahwa kita jarang bersyukur. Yang keluar dari mulut kita hanyalah keluhan karena kita selalu membandingkan hidup kita dengan yang lain dan yang kita lihat dalam perbandingan itu adalah apa yang tidak kita miliki. Padahal kalau melihat apa yang tidak mereka miliki, kita tidak punya alasan untuk mengeluh. Tetapi inilah hidup yang terkadang sulit kita pahami.

Mestinya rasa syukur ini diekspresikan setiap saat tanpa menanti datang moment-moment tertentu. Bila kita cukup realistis kita akan menyadari bahwa kata-kata ini mengandung kebenaran karena kata-kata ini menyadarkan kita bahwa yang terpenting dalam hidup ini adalah hidup itu sendiri dan kita adalah orang-orang yang perlu bersyukur karena kita diberi kesempatan untuk menikmatinya. Banyak orang termasuk kita, bersyukur karena apa yang kita peroleh dalam hidup tetapi hanya sedikit saja yang bersyukur karena mereka punya kesempatan untuk hidup. Bila hidup tidak kita miliki kita tidak memiliki apa-apa bahkan kita sendiri hidup dan tidak akan menikmati saat-saat penuh bunga seperti sekarang ini. Hiduplah yang memungkinkan kita memiliki embel-embel yang sedang melekat pada diri kita. Bila kita cukup realistis, apapun situasinya kita selalu punya alasan untuk bersyukur karena boleh jadi yang kita miliki tidak dimiliki oleh sesama, yang kita alami tidak dialami oleh sesama. Yesus mengatakan, ‘berbahagialah mata yang dapat melihat apa yang kamu lihat karena banyak orang ingin melihat apa yang kamu lihat tetapi mereka tidak dapat melihatnya’. Pola pandang yang tidak melihat hidup sebagai harta yang paling berharga dalam hidup, membuat kita banyak mengeluh dan suka mengada-ada. Inilah yang menjadi sebab mengapa beban hidup ini semakin hari semakin berat ditanggung. Hidup bukan lagi sebagai kesempatan untuk dinikmati tetapi sebagai persoalan yang mesti dipecahkan. Berpikir bahwa apa yang kita miliki lebih berharga dari pada hiduplah yang membuat manusia hidup dalam rangkaian soal yang tak pernah akan selesai. Dengan bangga para murid menceriterakan semua yang mereka kerjakan dalam nama Yesus, tetapi Yesus mengatakan bahwa yang patut mereka syukuri bukanlah apa yang mereka kerjakan tetapi kesempatan yang mereka peroleh untuk bisa mengerjakan semuanya itu. Karena tidak semua orang mendapat kesempatan seperti itu. Karena itu kehadiran kita mestinya berdampak positif bagi sesama. Sesama bukan saja melihat bahwa kita berarti bagi mereka tetapi juga menyadari ataupun disadarkan bahwa mereka juga mempunyai nilai positif bagi orang lain, bagi kita. Kesalingan ini mesti menjadi warna utama dalam kebersamaan kita. Bersyukurlah bukan karena kebersamaan yang anda nikmati tetapi karena anda diberi kesempatan untuk ada dalam kebersamaan dan dapat mengartikan kebersamaan itu dengan kehadiran anda.

Mengapa kita tidak dapat memberi makna bagi kehadiran kita? Karena kita lebih bergantung diri pada apa yang kita miliki bukan pada hidup yang sedang kita jalani; kita tidak hidup dalam dunia nyata dan terlalu banyak mengada-ada. Mestinya kita bersyukur atas hidup yang kita miliki bukannya atas apa yang kita peroleh dalam hidup. Kalau kita sulit hidup dalam kenyataan biarlah kita belajar untuk tidak mengada-ada. Kalau kita tidak bisa jadi seorang Yesus yang siap meringan beban sesama biarlah kita berusaha untuk mengartikan kehadiran kita dalam kebersamaan. Bila tidak janganlah kita memperpanjang barisan orang yang tidak tahu bersyukur. Bila kita melihat hidup ini sebagai anugerah yang mesti diartikan, banyak mukjizat yang bisa terjadi dalam hidup kita.

[ back ]
footer2.jpg