Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 27-09-2009 | 20:50:48
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “BEKERJALAH DENGAN HATI”
(Lukas 10:1-12, Kamis, 1Oktober 2009, Kamis, 1 Oktober 2009)

Setiap situasi selalu menuntut kita untuk memberi jawaban ataupun menunjukkan sikap tertentu. Sikap dan jawaban yang kita berikan menunjukkan tanggapan kita terhadap situasi. Karena ada dalam kebersamaan, berarti jatuh dan bangunnya kebersamaan itu bergantung dari tanggap tidaknya kita terhadap situasi yang menggerakkan kebersamaan itu. Dalam kebersamaan itu, kita tampil sebagai pribadi yang khas dan lewat peran kita, kita memberi warna yang khusus padanya. Di sana dengan memberi warna yang khas, kita mengartikan kehadiran kita dan lewatnya kita menegaskan bahwa kebrsamaan itu juga berarti bagi kita; kita dan kebersamaan itu memperoleh arti dalam kesalingan itu. Lalu mengapa sampai saat ini, kita masih saja menjumpai banyak soal dalam hidup ini? karena kita belum sungguh-sungguh menampakkan kekhasan kita atau karena kita tidak sungguh menghayati peran kita sebagai pribadi-pribadi yang khas dan dapat memberi warna khusus bagi kebersamaan itu.

Melihat tuntutan situasi jamanNya, Yesus mengutus 70 muridNya mendahului Dia ke tempat yang akan di kunjungiNya. Situasi yang dihadapiNya seperti situasi musim panen, di mana kapasitas panenan melampaui jumlah penui yang ada. Di sini yang menjadi soal adalah penuai, bukanlah panenan. Panenan banyak tetapi pekerja sedikit. ‘Sedikit’; bisa berarti jumlah, bisa juga berhubungan dengan kualitas; dari jumlah yang sedikit itu hanya sedikit pula yang bekerja dengan hati. Di sini bukan soal kuantitas tetapi masalah kualitas. Bukan banyaknya panenan tetapi kesediaan orang untuk bekerja dengan sepenuh hati menjadi masalah. Hal ini berkaitan pula dengan orientasi dan motivasi para penuai dalam menghadapi panenan; ada penuai yang bekerja sekedar memenuhi kewajibannya, ada yang bekerja dengan hati dan ada lagi yang bekerja demi dirinya. Situasi seperti ini membuat mereka yang bekerja dengan hati seolah domba di tengah serigala, karena itu mereka mesti pandai membaca situasi, karena serigala-serigala berbulu domba lebih buas dari serigala benaran dan lebih mudah mengenal serigala ketimbang serigala jadian. Yang bekerja dengan hati tidak akan menempatkan pundi-pundi, bekal atau kasut di tempat utama. Apakah Yesus tidak tahu bahwa untuk hidup, manusia membutuhkan uang, makanan dan pakaian? Dia tahu dan Ia hendak mengingatkan bahwa orang mesti berhati-hati dengan kebutuhan hidupnya. Uang, makanan dan pakaian bisa mengganggu kerja, orang akan lebih menaruh hatinya pada kebutuhan pribadinya ketimbang apa yang mesti dikerjakan. Ketiganya bisa memberi kebahagiaan tetapi bisa juga menciptakan neraka bagi manusia. Yang bekerja dengan hati, tidak akan mencari kehormatan karena mereka tahu kehormatan itu akan lahir dari pengabdian mereka bukan karena sebuah pertemuan. Jangan beri salam kepada siapa pun di tengah jalan. Di sini Yesus hendak menandaskan bahwa ‘salam/hormat’ dapat membuat orang kehilangan orientasi, lebih mementingkan ‘salam’-tempat terhormat ketimbang pengabdian, kursi dari pada kerja. Dan banyak orang sudah terjebak oleh kesederhanaan kata ini. Yang bekerja dengan hati, kehadirannya akan menghindarkan banyak soal karena di mana mereka hadir di sana mereka menjadi pembawa damai, membangun relasi yang baik dengan orang-orang di sekitarnya. Banyak kali kita gagal karena kita bukannya menjadi pembawa damai melainkan sumber masalah, di mana kita hadir, di sana selalu ada soal. Hal lain yang menimbulkan soal bila kita tidak bekerja dengan hati adalah kita tidak kerasan tinggal di tempat di mana kita diterima. Kita menganggap diri jauh lebih baik dari orang lain dan tidak mau melibatkan seluruh diri saat hendak bekerja, tidak sudi beradaptasi dengan lingkungan di mana kita berada. Inilah jawaban atas kegagalan kita. Yang bekerja dengan hati, kehadirannya akan menjadi obat bagi kebersamaan yang sakit. Dunia kita sedang sakit, kehadiran kita mesti menjadi tablet penawar yang dapat memberikan kesembuhan bagi mereka yang sakit. Bila ini terjadi panenan yang banyak bukanlah soal karena hati dan seluruh perhatian kita akan tercurah padanya.

Semua kita adalah pekerja di ladang kita masing-masing. Sanggupkah kita menjadi pekerja yang terbaik? Seperti kepada para muridNya, awasan dan harapan ini diberikan Yesus kepada kita, pekerja-pekerja di jaman eletronik ini. Awasan dan harapan ini dapat dijadikan cermin untuk berbenah diri, jalan keluar mengatasi kegagalan kita, mengantar kita untuk meraih predikat pekerja terbaik. Jangan pernah melihat besar kecilnya pekerjaan yang anda lakukan, banyak tidaknya panenan tetapi apapun situasinya, bekerjalah dengan seluruh diri dan hatimu....

“Di mana kita berada, di situ ladang misi kita”
[ back ]
footer2.jpg