Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 17-11-2011 | 23:06:19
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : BELAJARLAH DARIKU
Mateus 12:14-21,Sabtu, 16 Juli 2011

Kita selalu ada bersama yang lain. Berada bersama yang lain memungkinkan adanya saling pengaruh disadari ataupun tidak. Hal ini mestinya kita lihat sebagai satu keuntungan atau kesempatan di mana kita bisa saling memperkaya ataupun saling melengkapi. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa apa yang kita lakukan punya pengaruh terhadap hidup mereka yang berada di sekitar kita dan sebaliknya apa yang mereka lakukan mempengaruhi irama hidup kita baik disengaja maupun tidak, langsung atau tidak langsung. Pengaruh ini bisa hadir dalam dua wajah; baik dan buruk sehingga yang baik bisa tetap baik, semakin baik atau sebaliknya jadi buruk dan yang buruk mungkin bertambah buruk. Lebih dari itu, bisa saja terjadi yang baik yang kita lakukan bisa mendapat tanggapan positif, bisa juga negatif bergantung dari sikap batin orang yang dengannya kita berinteraksi. Kita bisa saja disanjung, mungkin juga dibenci. Kebencian bisa saja muncul bila kebaikan yang kita lakukan membongkar kedok kejahatan mereka yang menyaksikan dan merasakan kebaikan kita. Menjadi bijak, kita butuh kejelian untuk menyerap pengaruh yang baik dan menghindari dampak negatif kehadiran yang lain.

Apapun situasinya, kesuraman dunia ini tidak boleh menyurutkan langkah kita, memadamkan niat baik kita untuk mewujudkan panggilan kita sebagai orang-orang kristen, orang-orang yang hendak menjadikan hidup Yesus sebagai hidup kita sendiri. Tanggapan negatif, penolakan, kebencian dan dendam mestinya membuat kita semakin matang, mendewasakan kita untuk lebih bersikap bijak dalam menghadapi hidup ini. Banyak hal di sekeliling kita, tidak sedikit orang yang mengitari kita yang hidupnya dapat kita jadikan cermin menghadapi hidup ini. Berhubungan dengan hidup kita sebagai orang-orang beriman, ajaran, hidup dan apa yang dilakukan Yesus bisa kita jadikan pedoman hidup kita. Seperti Yesus, di mana saja kita berada di sana kebaikan mesti dibagikan, keadilan mesti ditegakkan dan kebenaran mesti diserukan. Menghindari adanya soal dan membuat kehadiran kita berarti bagi yang lain, kita mesti bersedia belajar dari Yesus. Pertama; dariNya kita dapat belajar untuk bersikap tegar, tabah; tanggapan negative, penolakan dan kebencian tidak boleh memadamkan semangat kita untuk tetap berbuat baik. Di sini kita menemukan kenyataan bahwa justeru kitalah yang cenderung menghalangi sesama berbuat baik, kita jatuh sakit bila kita melihat mereka melakukan kebaikan; kita tidak jauh berbeda dengan kaum Farisi yang bersekongkol untuk mencelakai Yesus karena perbuatan baik yang dilakukan Yesus. Kedua, dari Dia kita belajar membiarkan apa yang kita lakukan berceritera tentang siapa kita. Di sini kecenderungan kita untuk bicara banyak tentang apa yang kita lakukan perlu diredam. Kita bangga bila semakin banyak orang mengetahui apa yang kita lakukan karena itu kita sendiri berusaha sekuat tenaga mewartakannya. Kita lupa bahwa usaha ini mengurangi nilai aksi kita. Ketiga, dariNya kita belajar menyadari bahwa kita adalah orang-orang pilihan, orang-orang yang berkenan di hati Allah. Kenyatakan menunjukkan bahwa banyak orang bingung dengan kehadiran kita karena pada kita tidak ada tanda-tanda bahwa kita adalah orang pilihan, orang yang berkenan. Kita sendiri yang mengaburkan identitas kita se-hingga kehadiran kita sulit diterima. Keempat, seperti Dia, kepada kitapun dicurahkan Roh untuk memaklumkan hukum tetapi kita berada jauh dari posisi ini karena tempat roh ini telah kita gantikan dengan roh-roh kita sendiri yang bukannya mengajar kita untuk mewartakan hukum tetapi melawannya. Kelima, seperti Dia, mestinya kita suka akan suasana damai. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa kita lebih mencintai suasana perang, kita bangga bila ditakuti, kita takut bila kurang populer. Keenam, mestinya seperti Dia, di mana kita hadir di sana ada hidup dan pada kitalah sesama menggantung harapannya. Tetapi keseharian kita menunjukkan suasana sebaliknya, di mana kita hadir yang bersemangat kehilangan gairahnya dan yang kuat jadi tak berdaya karena diperdayai dan yang punya impian jadi frustrasi. Inikah jalan meng-artikan hidup kita dalam kebersamaan?

Kita tidak menghendaki berada dalam situasi suram karena yang kita cari dalam hidup ini adalah kebahagiaan dan kita mau yang baik yang kita lakukan dapat ditanggapi secara positif tetapi begitu sering kita membiarkan diri berada dalam situasi suram ini. Kita tidak bersedia belajar dari sesama bagaimana mengartikan hidup dan kehadiran kita dalam kebersamaan. Tutur kata, tingkah laku dan hidup kita belum menampakan kekhasan kita sebagai orang pilihan, orang yang berkenan karena yang kita lakukan justeru sebaliknya. Seperti kaum Farisi, kita membenci mereka yang berbuat baik dan menggantikan tempat Roh dengan roh-roh ciptaan dan idola kita yang lebih banyak menim-bulkan soal ketimbang menyembuhkan situasi. Siapapun kita dalam kebersamaan, kita dipanggil untuk bercermin dan menata hidup dan kehadiran kita di hadapan cermin kehadiran Yesus. Bila hidupNya telah menjadi hidup kita, hidup ini akan lain ceriteranya.

“Jangan membenci mereka yang berbuat baik, bencilah diri anda dan berusahalah untuk belajar dari mereka bagaimana bisa berbuat baik. Untuk itu anda butuh kerendahan hati”.
[ back ]
footer2.jpg