Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 17-07-2011 | 22:22:37
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “SUDAH SAATNYA BERUBAH”
Yoh 3:16-21,Rabu, 4 Mei 2011

Kita menyaksikan aneka perubahan dalam keseharian kita. Hal ini bisa kita buktikan dengan coba membuang sedikit waktu berkeliling mengamati situasi di sekitar kita; Ada revolusi dan ada pula evolusi. Apapun bentuknya, satu hal pasti setiap kita selalu berada pada proses menjadi, selalu ada dalam potensi berubah entah itu ke arah yang jauh lebih baik ataupun berjalan surut. Untuk itu banyak program yang dibuat, banyak debat yang digelar dan tidak sedikit rencana yang dirancang. Tetapi mengapa situasi sepertinya sulit berubah? Karena kita lebih banyak membuang waktu untuk berbicara tentang perubahan ketimbang berusaha, mencari jalan bagaimana mesti berubah. Atau perubahan yang kita buat tidak melibatkan seluruh hati dan hidup kita; kita membuat perubahn sekedar jadi supaya tidak kehilangan muka. Dalam perjalanan sejarah, bangsa ini telah melalui beberapa pelita, sudah ribuan program dibuat, tidak terhitung berapa banyak dana yang telah dihamburkan tetapi kelihatannya kita masih membutuhkan banyak pelita dan tidak sedikit dana untuk berubah. Kenyataannya, yang berubah adalah program-nya tetapi orangnya tetap saja tidak berubah. Mungkin benar bahwa yang mesti dirubah terlebih dahulu adalah mental kita; kesediaan kita untuk berubah perlu dibangun, program perubahan hanyalah penunjang. Karena yang menentukan ada tidaknya perubahan adalah mental kita bukan program yang kita buat. Program boleh brilian tetapi bila mental kita enggan berubah, perubahan tidak mungkin. Kita seperti batu yang akan tetap batu di manapun ia ditempatkan. Ini berarti berhasil tidaknya apa yang hendak kita lakukan bergantung dari motivasi dan mental yang miliki. Bila anda menginginkan adanya perubahan, rubahlah mental anda.

Paska, pesta kebangkitan, pesta perubahan hampir dua minggu berlalu. Apakah seiring dengan berlalunya sang hari, sudah ada perubahan dalam hidup dan relasi kita? Menjawabi pertanyaan ini, kita mesti jujur mengatakan bahwa perayaan paska sudah berubah menjadi masa lampau tetapi hidup kita belum beranjak dari masa lalu. Ini berarti yang kita rayakan hanyalah pesta kebangkitan Kristus tetapi kita sendiri belum mau bangkit, Kristus sudah keluar dari kuburnya tetapi kita masih terlelap dalam kubur kita masing-masing; kubur tidak saling percaya, cinta diri, amarah, dendam, cemburu, sukar mengampuni dan aneka kubur lainnya yang kita ba-ngun dalam kebersamaan. Mestinya dengan merayakan paska dan menjalani masa paska perlahan tapi pasti sudah ada perubahan dalam hidup dan relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Pesta paska menunjukkan betapa besar Allah mencintai kita, meski kita menutup hati kita terhadapNya, Dia tetap membuka hatiNya kepada kita, pintu rumaNya selalu terbuka menanti kepulangan kita. Karena itu, dengan menyaksikan betapa besar kasihNya kepada kita kita sudah seharusnya tergugah untuk kembali menumbuhkan rasa cinta kita kepadaNya lewat cinta kita yang mengabdi kepada sesama, menumbuhkan kembali kepercayaan kita terhadapNya dengan menunjukkan bahwa kita dapat dipercaya karena Dia sendiri berkata bahwa yang percaya akan hidup. Kalau Allah memberikan PuteraNya untuk mati bagi kita semua maka sudah sewajarnya kasih kita dijauhkan dari sikap mengkotak-kotakan. Di satu sisi, perubahan dalam hidup kita menjadi bukti bahwa kita sungguh mengartikan pesta yang kita rayakan. Di sisi lain, perubahan hidup yang kita tampilkan dapat menjadi satu bentuk kesaksian yang hidup yang dapat membuat mereka yang kurang percaya atau sudah tidak percaya lagi akan kebesaran kasih dan kesetiaan Allah dapat kembali percaya dan diyakinkan. Ikut serta merayakan pesta paska, mestinya menumbuhkan dalam diri kita satu rasa tanggung jawab bahwa dengan makan dan minum bersama Kristus yang bangkit kita diberi satu tugas yakni menjadi saksi-saksi hidup bahwa peru-bahan hidup selalu mungkin bila kita mau menghidupi pesan-pesan paska. Kita hanya dapat membagi kepada orang lain apa yang kita punya. Kalau kita percaya dan kepercayaan kita diekspresikan lewat hidup dan karya kita berarti kematian Kristus di salib tidak sia-sia dan makan minum bersama Kristus yang bangkit punya nilai positif.

“Sudah saatnya berubah”, kata-kata ini mengisyaratkan bahwa kita masih jauh dari perubahan yang kita impikan bersama. Di sisi lain, kata-kata ini memberi satu harapan bahwa perubahan selalu mungkin. Impian ini hanya mungkin menjadi kenyataan bila kita merayakan paska bukan seke-dar satu ritual agama yang rutin tetapi karena kita yakin bahwa kita selalu dimungkinkan untuk berubah, keluar dari kubur-kubur kita. Kalau Allah begitu mengassihi kita, mengapa kita tidak dapat saling mengasihi secara tulus. Sebagai orang beriman yang masih yakin akan pengaruh kebangkitanNya, adalah panggilan kita untuk membawa sesama keluar dari kerumitan hidup mereka, membuat mereka yakin dan percaya bahwa Tuhan mengasihi kita semua dan bahwa lewat hidup dan karya kita, kita dapat membangkkitkan kepercayaan dalam diri sesama bahwa mereka juga dikasihi Tuhan dan mereka pun dipanggil untuk membuat yang lain percaya agar kematian dan kebangkitan Kristus tidak sia-sia. Hanya dengan jalan ini pesta ini dapat diartikan, hidup dan relalsi kita dengan sesama dapat dibaharui dan dunia dengan sendirinya akan berubah bila kita sungguh berubah.

“Perubahan selalu mungkin kalau kita mau berjuang mengalahkan diri sendiri karena diri kita sering menjadi musuh besar adanya sebuah perubahan”.
[ back ]
footer2.jpg