Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 20-06-2011 | 00:35:08
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “HATI-HATI DENGAN RASA ANDA”
Yoh 8:21-30,Selasa, 12 April 2011

Mengapa kita perlu berhati-hati dengan rasa yang kita miliki? Karena kata Khalil Gibran, ‘akan rasa yang menguasai diri, laksana api menghanguskan diri’. Setiap kita punya rasa tetapi hidup kita tidak hanya bergantung dan ditentukan oleh dan dari rasa. Rasa kita perlu diimbangi dengan peran budi kita agar apa yang kita rasakan dapat kita pahami dan apa yang kita pahami dapat juga kita rasakan sehingga putusan yang kita buat tidak berat sebelah dan tidak merugikan orang lain dan menimbulkan masalah bagi diri sendiri. Di sisi lain, kita punya kewajiban untuk mengembangkan rasa-rasa yang berpengaruh positif, yang mendekatkan kita dengan sesama dan berusaha sedapat dan sebisa kita untuk mengurangi rasa-rasa yang merusak relasi kita dengan sesama, meniadakan kebaikan mereka. Sekarang pakailah kaca mata hitam, segalanya akan hitam; yang putih jadi hitam dan yang hitam bertambah pekat. Bila anda curiga, cemburu, benci atau marah pada seseorang yang baik yang ia lakukan tidak akan pernah baik di mata anda, lebih dari itu anda akan mencari segala macam cara untuk meniadakan kebaikannya bahkan mungkin anda akan mencari jalan bagaimana melenyapkan kehadirannya dari kebersamaan. Berhati-hati-lah terhadap rasa-rasa semacam ini karena rasa-rasa ini tidak saja menghilangkan kegembiraan dan kebahagiaan di hati anda tetapi juga dapat berakibat fatal; hilangnya nyawa sesama yang harganya tidak dapat ditebus dengan uang. Apa yang anda dapatkan dengan membenci sesama?

Hari-hari puasa kita menjelang akhir. Hari-hari ini mestinya kita manfaatkan untuk menyembuhkan rasa yang terluka entah itu karena ulah orang lain ataupun karena kita terlalu perasa. Sudahkah relasi kita dengan sesama menjadi jauh lebih baik? Sudahkah jurang yang memisahkan kita dengan kita dijembatani? Apa artinya berpuasa bila tidak ada perubahan sikap. Puasa berarti bukan karena lamanya hari yang kita habiskan atau besarnya porsi makan yang kita kurangi, ia berarti karena apa yang kita buat selama kita berpuasa, adanya perubahan dalam hidup dan relasi kita. Hari-hari terakhir ini kita melihat bahwa kebencian kaum Yahudi bukannya semakin menipis tetapi semakin menjadi-jadi. Kebaikan dan mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus gaungnya telah diredam dan berbalik menjadi bumerang yang akan membawa Dia ke atas salib. Kebencian bukan saja membutakan mata tetapi juga mematikan budi. Orang kehilangan pikiran positif tentang sesamanya. Satu hal yang menjadi pelajaran buat kita, kebencian kaum Yahudi tidak membuat Yesus berhenti berbuat buat baik, Ia bahkan habis-habisan berbuat baik karena untuk itulah Ia datang. Dengan ini Yesus hendak mengingatkan kita bahwa apapun reaksi dari orang lain, kita toh harus berlaku baik dan jangan pernash berhenti berbuat baik. Karena kebaikan akan tetap baik entah dari sudut pandang mana kita melihat dan menilainya, kalaupun nyawa kita diambil, kebaikan akan tetap hidup dan kitapun akan tetap hidup setiap saat kebaikan kita dibicarakan orang. Di sisi lain, kita juga diingatkan untuk berhati-hati dengan rasa yang kita miliki; lebih-lebih rasa-rasa yang merusak realsi kita dengan sesama. Saat rasa itu mengisi ruang hati kita, di saat itu pula pandangan kita terhadap sesama berubah, kehadirannya akan menjadi duri dalam daging yang mesti dicungkil dan dibuang, lalu usaha untuk menghilangkan nyawa sesama menjadi mungkin. Kebencian bukan saja merusak kebahagiaan kita tetapi juga membuat kita lupa akan kebaikan sesama. Bahkan lebih dari itu, ia mendorong kita untuk mencari-cari alasan meniadakan kebaikan sesama. Lalu apa yang kita dapatkan dari rasa benci selain merusak diri kita dari dalam? Bila dia menguasai diri, yang waras jadi gila dan yang gila mengila-gila. Lebih baik anda menjadi gila karena berbuat baik dari pada menggila-gila karena rasa benci yang tidak terbendung.

Anda dan saya, semua kita punya rasa. Rasa-rasa ini bisa mendatangkan kebaikan bagi diri, mempersatukan segala perbedaan tetapi bisa juga mendatangkan penderitaan bagi diri maupun bagi mereka yang ada di sekitar kita. Bila kita mampu menguasai dan mengatur semua rasa ini ada banyak hal positif yang kita dapatkan dari sana dan tidak sedikit hal negatif yang bisa kita hindari. Sebaliknya bila rasa-rasa ini menguasai diri kita, kita tidak ubah dengan kerbau yang dicocok hidungnya, hidup kita bisa hancur karenanya dan relasi kita dengan sesame jadi beran-takan. Dia mempersempit ruang kebaikan dan menempatkan kita pada banyak soal yang mungkin dapat kita hindari. Lalu di sini yang menjadi sorotan bukan kebaikan sesame tetapi kebu-rukan mereka untuk meniadakan apa yang baik yang mereka lakukan. Kebencian tidak member kita apa-apa tetapi justeru membuat kita kehilangan banyak apa-apa. Masa puasa adalah kesem-patan untuk membersihkan ruang hati kita dari segala rasa yang memisahkan kita dengan kita. Tinggal beberapa hari lagi kita akan merayakan pesta paska, pesta kebangkitan Tuhan. Se-moga dengan usaha kita membersihkan ruang hati kita, kita boleh bangkit bersama Kristus sebagai ma-nusia-manusia baru yang mampu melihat sesama dengan mata baru; mata penuh kasih yang mempersatukan.

“Bila kita dapat menguasai dan mengendalikan semua rasa kita ada banyak hal positif yang dapat lahir dari kehadiran kita, bila sebaliknya, kita akan bergerak dari satu masalah ke masalah lain”.
[ back ]
footer2.jpg