Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 02-07-2009 | 00:56:38
By : Ermiold Manehat, SVD
Theme : ‘KITA PERLU DISEMBUHKAN’

(Mateus 9:1-8, Kamis, 02 Juli 2009)
Akhir-akhir ini, kita dikejutkan dengan ditemukannya jenis penyakit baru, H1N1 yang membuat banyak negara sibuk membuat peraturan baru dan merancang cara bagaimana menghindari dan memberantas jenis penyakit ini. Langkah kita seolah terhenti sejenak, keberanian kita untuk tetap berkontak denghan orang lain ditantang karena ada kekawatiran kita bisa saja dijangkiti virus penyakit baru ini tanpa kita sendiri sadari. Lalu apakah karena kehadiran penyakit ini, kita juga perlu disembuhkan? Kebutuhan untuk disembuhkan muncul ketika kita sadar bahwa kita sendiri berada pada area di mana kita tidak bisa tampil seperti kita biasanya karena terganggunya salah satu organ tubuh kita. Di sini sakit atau penyakit dapat menghentikan aktivitas kita entah untuk sementara ataupun secara tetap. Pada bagian terakhir kita bertemu dengan mereka yang lumpuh. Berhadapan dengan situasi ini; kita menemukan paling kurang ada tiga kelompok manusia dengan perannya masing-masing; orang lumpuh yang menggantungkan hidupnya pada kebaikan orang lain dan punya keinginan untuk ditahirkan, orang-orang seperti Yesus yang punya mata yang awas dapat membaca kerinduan manusia dan siap menjawabnya; bagiNya, orang tidak boleh takut berbuat baik apapun resikonya dan ahli Taurat yang lebih banyak memperhatikan hukum teta-pi lupa akan nilai kemanusiaan; suka mengeritik tetapi tidak sanggup memulihkan situasi dan memberi jalan keluar. Siapakah kita dalam keseharian kita?
Kita selalu hidup bersama. Kebersamaan menuntut kepekaan kita untuk membaca situasi hidup sesama dan kesiapan kita untuk menjawab sedapat mungkin apa yang mereka butuhkan. Inilah jalan untuk melestarikan kehidupan bersama sekaligus memberi arti bagi kehadiran kita di antara yang lain. Untuk itu kita diingatkan agar tidak takut dalam berbuat baik karena apapun tindakan yang kita ambil semuanya selalu punya konsekuensi. Dan mungkin juga lewat kisah ini kita disadarkan bahwa sebenarnya kita sendiri perlu disembuhkan. Mateus menggam-barkan bahwa pertama, kita siap berbuat baik tanpa takut bila kita bersedia menyeberang; keluar dari diri kita sendiri. Hanya dengan keluar dari diri sendiri, meninggalkan kemapanan diri kita dapat menjumpai sesama dalam situasinya yang sebenarnya. Kalau orang lain tidak dapat menolong dirinya sendiri, kitalah orang-orang yang mesti merasa terpanggil untuk menolong mereka ataupun membawa mereka ke hadapan Yesus. Boleh jadi kita punya keprihatinan tetapi kita sering berhenti pada rasa prihatin tanpa tindak lanjut karena kita masih menghitung untung rugi yang akan kita peroleh. Kita sendiri tidak siap menyeberang, kita hanya memperhatikan kebutuhan diri lalu lupa keadaan sesama di sekitar kita. Di sini kita situasi kita tidak jauuh berbeda dari si lumpuh, punya rasa prihiatin tetapi tidak dapat berbuat apa-apa, kita perlu disembuhkan. Kedua, kita hanya dapat berbuat baik bila sesama menyadari situasi dirinya dan bersedia untuk ditolong. Si lumpuh disembuhkan karena ia menyadari dirinya dan membuka diri terhadap ulurun tangan orang lain. Demi kesembuhannya ia tidak takut mempercayai sesamanya; mereka dapat menolong mengurangi penderitaannya. Kita sulit ditolong karena kita tidak mau menyadari situasi diri kita dan kita tidak bersedia untuk ditolong. Harga diri kita begitu tinggi. Kita tidak mau berhutang budi, gengsi-gengsian. Dalam hal ini kita perlu belajar dari si lumpuh, punya keterbukaan untuk merasakan apa yang dirasakan sesama. Ketiga, kita tidak akan takut berbuat baik bila kita menjauhi sikap para ahli Taurat; lebih mementingkan hukum dari pada nilai kemanusiaan, lebih suka mengeritik tanpa memberi jalan keluar. Banyak soal dalam hidup tidak dapat diselesaikan karena kita masih memiliki mental para ahli Taurat; tidak suka berbuat baik dan merasa terganggu bila ada yang berbuat baik. Di sini sebenarnya kita sendri menemukan kenyataan bahwa kita juga perlu disembuhkan karena menghidupi mental para ahli taurat meupakan salah satu jenis kelumpuhan psikis.
Boleh jadi secara fisik kita bukan orang lumpuh tetapi secara psikis situasi hidup kita tidak jauh berbeda dengan situasi si lumpuh yang perlu ditolong. Situasi seperti ini bisa dipulihkan pertama, bila kita menyadari situasi diri kita dan membuka diri untuk menerima pertolongan yang diberikan sesama. Kedua, bila kita mempunyai mata dan hati seorang Yesus; siap menyebrang untuk bisa mengetahui situasi hidup sesama dan siap menolong sebisa kita. Ketiga, bila kita menjauhi sikap para ahli Taurat yang hanya mau mengeritik dan mempersalahkan tanpa ada usaha untuk memperbaiki. Lalu siapakah kita dalam dunia semacam ini? Seorang Yesus yang siap keluar dari dunia diri sendiri untuk merasakan apa yang sedang dirasakan oleh sesama, ataukah kita adalah kelompok ahli Taurat yang hanya mau menafsirkan hukum tanpa mau menghidupinya? Ataukah kita adalah orang-orang lumpuh yang tahu diri, punya keinginan untuk sembuh dan rela disembuhkan? Kesembuhan hanya mungkin dan hidup normal dapat tercipta bila kita tahu situasi kita, punya keinginan untuk berubah dan punya kesediaan untuk berubah.


[ back ]
footer2.jpg