Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 02-03-2011 | 21:21:04
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘JANGAN PERSOALKAN JUMLAH’
Mrk 8:1-10, Sabtu, 12 Februari 2011

Berita di televisi pagi ini mengatakan bahwa ada tabung gas yang meledak yang mengakibatkan sebuah rumah habis terbakar dan beberapa korban penuh luka akibat kobaran api yang tidak bisa diatasi. Berita lain, ada penggusuran pedagang kaki lima di sepanjang jalan protocol sebuah kota madya. Potret kehidupan ini mestinya menyadarkan kita bahwa dunia tempat kita ada dan mengais hidup sedang sakit. Karena ada dalam dunia semacam ini dan punya kewajiban untuk membaari warna yang khas bagi kehadiran kita di sana, kita mesti merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu. Dalam bukunya ‘The Other Eucharist’, Cedric Rebello menulis; dunia kita sedang sakit sebagai akibat; perbedaan yang ada telah menciptakan jurang yang memisahkan kita dengan kita, orang tidak lagi melihat perbedaan sebagai kekayaan tetapi menjadikannya sebagai alasan sebuah konflik karena keunikan sudah bertukar rupa menjadi keanehan; persaudaraan lebih banyak dijadikan bahan ceramah dari pada dihidupi; gereja telah dijadikan tempat parade mode bukan lagi sebagai tempat sembayang; banyak orang berbicara tentang orang miskin tetapi tidak peduli dengan nasib orang-orang miskin; keadaan orang-orang miskin justeru dima-nipulasi demi keuntungan diri; cinta kasih telah dicekik oleh persaingan, didangkalkan oleh kemudahan fasilitas, dibekukan oleh huruf-huruf mati, dibabat habis-habisan oleh media massa dan diperdagangkan sebagai komoditi. Lalu dalam situasi seperti ini; masih adakah orang-orang kristen di sana? Kalau ‘ya’ apa yang sedang mereka lakukan; menyem-buhkan situasi ini ataukah memperparah keadaan? Mestinya dalam situasi seperti ini kesejatian kekristenan kita ditam-pakan; tidak sekedar teori tetapi lebih sebagai praktek hidup; tidak cukup dengan rasa prihatin tetapi harus ada tindakan nyata. Kitalah yang mesti menyembuhkan situasi ini bila kita menghendaki ceritera hidup ini berubah. Peluang selalu ada, yang menjadi soal adalah apakah kita bersedia mengartikannya atau tidak.

Kalau kita membolak-balik lembaran kenyataan, ada banyak kisah suram hidup ini yang mestinya membuat kita terpanggil untuk melakukan sesuatu, menggunakan segala yang ada pada kita untuk mengurangi penderitaan mereka yang ada di sekitar kita. Seperti Allah yang kita imani, kitapun mesti berusaha untuk mengembalikan situasi manusia seperti suasana awal penciptakan; semuanya baik adanya. Untuk mewujudkan semuanya itu, kebersamaan mesti menjadi arenanya karena kita selalu hidup bersama. Kebersamaan menuntut kepekaan kita untuk membaca situasi hidup sesama dan kesiapan kita untuk menjawab sedapat mungkin apa yang mereka butuhkan. Inilah jalan untuk melestarikan kehidupan bersama sekaligus memberi arti bagi kehadiran kita di antara yang lain. Untuk itu kita diingatkan agar tidak takut dalam berbuat baik karena apapun tindakan yang kita ambil semuanya selalu punya konsekuensi. Dalam kisah perbanyakan roti, Markus menggambarkan bahwa pertama, kita siap berbuat baik tanpa takut bila kita bersedia menyebrang; keluar dari diri kita sendiri. Hanya dengan keluar dari diri sendiri, meninggalkan kemapanan diri kita dapat menjumpai sesama dalam situasinya yang sebenarnya. Kalau orang lain tidak dapat menolong dirinya sendiri, kitalah orang-orang yang mesti merasa terpanggil untuk menolong mereka ataupun membawa mereka ke hadapan Yesus. Apa kita memiliki sikap prihatin seperti ini? Boleh jadi kita punya keprihatinan tetapi kita tidak mengambil langkah lebih lanjut karena kita masih menghitung untung rugi yang akan kita peroleh. Kita lebih banyak mempersoalkan jumlah yang kita miliki ketimbang mempermasalahkan apa-kah kita punya kesediaan untuk berbagi atau tidak. Di satu sisi, kita sulit berbuat baik ataupun takut berbuat baik karena kita tidak siap menyebrang, kita hanya memperhatikan kebutuhan diri lalu lupa keadaan sesama di sekitar kita. Di sisi lain, kita menyangka bahwa kebaikan sama dengan sejumlah ketul roti yang habis kalau dibagi. Padahal kebaikan yang siap dibagi bukan seketul, semakin dibagi dia akan semakin berlipat ganda. Di sini, peristiwa perbanyakan roti sebenarnya merupakan peristiwa pergandaan kebaikan, kebaikan yang siap dibagi akan berubah menjadi sumber air yang tak pernah kering, semakin ditimbah ia akan semakin membual. Kedua, kita hanya dapat berbuat baik bila sesama menyadari situasi dirinya dan bersedia untuk ditolong. Empat ribu orang dikenyangkan karena mereka menyadari dirinya dan membuka diri terhadap ulurun tangan orang lain. Kita sulit menolong-ditolong karena kita tidak mau menyadari situasi diri kita dan kita tidak bersedia untuk menolong-ditolong. Harga diri kita begitu tinggi. Kita tidak mau berhutang budi, gengsi-gengsian. Ketiga, kita tidak akan takut berbuat baik bila kita menjauhi sikap para murid yang lebih mempersoalkan jumlah ketimbang mempermasalahkan kesediaan kita untuk berbagi, ikut merasakan apa yang sedang dirasakan sesama. Banyak soal dalam hidup tidak dapat diselesaikan karena kita masih mengukur kebaikan dengan jumlah yang kita miliki. Kita melihat pemecahan soal dari kemampuan kita bukan kebutuhan orang yang sedang menghadapi soal.

Ada begitu banyak orang di sekitar kita yang sedang lapar dan haus akan banyak hal; lapar dan haus akan kasih sayang, perhatian, penghargaan dan kesempatan untuk mengekspresikan dirinya. Kitalah yang mesti merasa terpanggil untuk menjawabi kebutuhan situasi ini bila kita menghendaki ceritera hidup ini berubah. Untuk itu kita perlu menjauhkan diri dari sikap para murid yang mempertentangkan kebaikan dengan jumlah roti yang dimiliki. Boleh jadi kita cuma memiliki tujuh buah roti kebaikan tetapi bila kita bersedia membagi, tujuh ketul kebaikan ini akan berlipat ganda. Karena kebaikan selalu punya nilai lebih, berbuat baik selagi mungkin karena setiap saat kebaikan anda diceriterakan di saat yang sama anda hidup walaupun anda telah tiada.

“Kebaikan bukan soal jumlah tetapi masalah kesediaan kita untuk berbagi”
[ back ]
footer2.jpg