Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 01-03-2011 | 19:52:28
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “ADAKAH KEHADIRANMU BERARTI?”
Mrk 5:21-43,Selasa, 1 Februari 2011

Pertanyaan ini adalah satu pertanyaan yang menarik. Pertanyaan ini tidak saja menantang tetapi juga membua, mengundang kita bermenung sejenak melihat seluruh perjalanan hidup kita di antara mereka yang lain dn bagaimana dampaknya bagi orang-orang di sekitar kita dan pengaruhnya terhadap diri sendiri. Lalu apakah pernah pertanyaan ini hadir dalam angan kita. Bila kita jujur, kita akan mengatakan bahwa kita tidak pernah memikirkan pertanyaan ini karena kita merasa bahwa ada dalam kebersamaan itu sudah sewajarnya dan di sana masing-masing kita punya peran tersendiri. Kalaupun pertanyaan ini ada dalam benak kita, kita lebih banyak menanti penilaian orang atas kehadiran kita. Jarang kita meluangkan waktu untuk merenungkan sudah sejauh mana kehadiran kita memberi nilai plus bagi orang lain. Bila itu datangnya dari orang lain, kita mengharapkan penilaian yang baik saja, kita takut sisi negatif diri kita yang dipaparkan. Lebih jauh dari itu kita merasa bahwa yang penting peran kita dijalankan, entah itu akan berdampak p[ositif atau negative bagi mereka yang ada di sekitar kita, itu urusan kemudian. Yang penting peran kita dilakonkan. Pola pikir seperti inilah yang menjadi sebab mengapa perubahan datangnya begitu lambat dan banyak penyelesaian masalah menemui jalan buntu.

Disadari ataupun tidak, kita selalu menghadirkan diri dalam kebersamaan dengan predikat ganda; sebagai anggota masyarakat yang menganut agama tertentu atau sebagai penganut agama tertentu dan berada dalam masyarakat yang tertentu pula. Di sana peran kitapun ganda; kita mesti memenuhi kewajiban kita sebagai warga masyarakat sekaligus sebagai penganut dari agama tertentu. Bahkan dalam kebersamaan itu melalui hidup dan kehadiran kita dua peran ini tidak terpisahkan dalam arti dalam diri kita orang harus bisa menemukan bahwa kita warga masyarakat sekaligus warga agama yang baik; yang satu mengekspresikan yang lain. Karena itu sebagai orang-orang yang telah dibaptis dalam Kristus, kehadiran kita mestinya berdampak positif bagi sesama. Sesama bukan saja melihat bahwa kita berarti bagi mereka tetapi juga menyadari ataupun disadarkan bahwa mereka juga mempunyai nilai positif bagi orang lain, bagi kita. Kesalingan ini mesti menjadi warna utama dalam kebersamaan. Sesama percaya bahwa kehadiran kita tak pernah akan mengecewakan mereka dan mereka pun yakin bahwa mereka dapat melakukan sesuatu yang bernilai bagi kita. Apakah pemandangan ini sungguh ada dalam keseharian kita? Ataukah yang kita temukan adalah kritikan yang memerahkan telinga karena ketidakhadiran kita jauh lebih mengungtungkan dari pada kehadiran kita dalam kebersamaan. Kita ingin dinilai baik tetapi yang kita lakukan justeru sebaliknya. Kita ingin dipercaya tetapi kita sendiri tidak percaya diri bahwa kita dapat dipercaya. Yang lebih menyakitkan, kita memanipulasi kepercayaan sesama. Kita ingin hidup dalam kebersamaan tetapi kita tidak tahu bagaimana hidup dalam kebersamaan itu. Sampai di sini, Yesus sang guru, hidup dan ajaranNya dapat kita jadikan cermin. Yesus selalu bersedia untuk menyebrang. Dia tahu hanya dengan menyebrang sesama dapat dijumpai dan apa yang mereka rasakan dapat dirasakanNya. Ke mana Ia pergi ke sana orang selalu berbondong-bondong menemui Dia. Di mana Dia hadir di sana pertolongannya diminta, yang sakit disembuhkan, yang mati dibangkitkan, yang tidak percaya diyakinkan. Sejauh ini, apakah kehadiran Yesus sudah menjadi bagian dari kehadiran kita? Ataukah di mana kita hadir di sana sahabat bertukar peran jadi musuh. Di mana kita hadir, di sana kita jadi beban dari mereka yang sudah berbeban berat. Yang hidup kehilangan daya juangnya, yang sakit bertambah parah dan yang percaya kehilangan rasa percaya diri. Ternyata di hadapan cermin Yesus, hidup kita mesti ditata ulang, kekristenan kita perlu dibaharui.

Mengapa kita tidak dapat memberi makna bagi kehadiran kita? Kita semua menginginkan hidup bahagia, aman dan dapat dinikmati. Jalan untuk itu terbuka bagi kita. Hanya apakah kita bersedia untuk mengikuti jalan ini? Kalau kita tidak bersedia untuk menyebrang biarlah kita memiliki kesediaan untuk ditemui. Kalau kita tidak bisa jadi seorang Yesus yang bersedia menolong orang lain biarlah kita menjadi seperti orang kerasukan roh yang mau disembuhkan. Bila tidak janganlah kita menambah jumlah roh-roh jahat yang membuat sesama kerasukan. Yang terpenting bagi kita adalah kesediaan kita untuk menyebrang, beranjak meninggalkan kemapanan diri bila ini kita lakukan ada banyak mukjizat yang bisa terjadi dalam hidup kita.

“Mereka yang hidup keagamaannya baik akan menjadi warga masyarakat yang baik dan sebaliknya mereka yang menjadi warga masyarakat yang baik dapat dipastikan hidup keagamaannya baik”.
[ back ]
footer2.jpg