Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 01-03-2011 | 19:01:49
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “ANDA BAHAGIA?”
Mat 5:1-12, Minggu, 30 Januari 2011

Saya tidak tahu rasa apa yang sedang bergolak di hati anda, saya berharap yang bertamu di sana adalah rasa bahagia yang merupakan dambaan setiap kita. Walaupun setiap kita mendambakan situasi, suasana yang satu ini tetapi tidak semua kita mampu memberikan penjelasan yang tuntas tentang suasana ini, kebahagiaan itu. Dan kita akan menemukan tidak sedikit kesulitan lagi karena setiap kita punya pandangan dan standar yang berbeda tentang kebahagiaan. Kebahagiaan hanya bisa dirasakan karena kebahagiaan adalah soal rasa bukan soal materi sehingga kita tidak dapat mengukur kebahagiaan dengan materi yang kita miliki, banyaknya materi yang dimiliki bukanlah jaminan kebahagiaan. Materi hanyalah satu faktor dari seribu satu faktor yang membentuk pelangi kebahagiaan. Apa artinya mengumpulkan seluruh dunia tetapi kita kehilangan segala. Kebahagiaan bukan sekedar memetik bunga tetapi bagaimana memetik sehingga kuntum itu tak layu segera setelah tiba di tangan karena tersedot radiasi tangan si pemetik.

Konsep kebahagiaan yang digambarkan Yesus jauh berbeda dari konsep yang ada dalam benak kita. Dia memuji bahagia mereka yang miskin. Aneh. Bukankah kita sedang berusaha memberantas kemiskinan? Apakah Dia tidak menyetujui usaha meningkatkan mutu hidup? Dia tidak berbicara tentang kemiskinan material, tetapi tentang sikap miskin; keterbukaan orang untuk diperkaya; oleh wawasan baru, oleh kehadiran sesama, oleh keanekaan yang ada. Tiap pribadi menyadari bahwa mereka tidak bisa lepas dari orang lain. Ini awasan baik bagi yang kaya maupun yang miskin karena keduanya cenderung mengkhianati sikap ini; yang satu seperti laut yang tidak pernah penuh, yang lain memendam kerakusan yang maha hebat. Dia memuji mereka yang berdukacita, yang punya rasa prihatin terhadap situasi tempat di mana mereka hidup; keprihatinan merupakan awal perubahan. Apakah anda memiliki sikap ini. Kita punya rasa ini tetapi kita selalu berhenti pada titik ini sehingga perubahan yang diharapkan tidak terjadi karena kita selalu penuh perhitungan bahkan kalau boleh kita memanipulasi situasi demi keuntungan diri. Dunia telah menjadi medan hidup yang menakutkan, dunia butuh kelembutan hati dalam menghadapi setiap soal. Kita cenderung menyelesaikan soal dengan tangan besi bukan dengan hati sehingga mimpi tentang hidup bahagia tidak kunjung jadi kenyaataan, kita merasa bangga kalau ditakuti padahal kita tidak diciptakan sebagai harimau. Bila kebahagiaan dihubungkan dengan kebenaran; rasanya sulit mencapai kebahagiaan karena wajah kebenaran sudah tidak mudah dikenal; kita cenderung menyulap fakta menjadi fiksi dan yang fiktif jadi fakta tergantung banyaknya uang yang kita peroleh. Kita bukanlah orang-orang bahagia karena kita tidak suka menderita demi kebenaran, kita justeru cenderung memadamkan api kebenaran. Di era serba uang ini, rasa sulit menemukan orang yang murah hati karena rasa hati kitapun sudah bisa diuangkan; kita gampang menerima tetapi sulit untuk memberi; lebih banyak menuntut hak ketimbang memaksa diri untuk menjalankan apa yang menjadi kewajiban kita. Dalam dunia yang serba permisif ini tidak mudah masuk dalam kelompok bahagia karena lebih mudah bagi kita untuk melanggar hal-hal sakral ketimbang menghormatinya. Mengapa sulit merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan kita? Karena tempat Allah telah diganti oleh dewa-dewa sembahan kita bahkan kita sendiri membuat diri sebagai dewa. Yesus memuji bahagia orang yang memba-wa damai; rasanya kita bukan alamat yang tepat bagi sabda ini karena kehadiran kita lebih banyak menimbulkan soal, merusak kebersamaan ketimbang mengurangi ataupun menghindari terjadinya kemelut dalam kebersamaan. Kita lebih suka mencela, mengeritik tetapi sulit berusaha untuk memperbaiki. Iman dan hidup kita masih berjalan sendiri-sendiri. Masihkah kita punya peluang untuk membuat impian kita tentang kebahagiaan menjadi kenyataan?

Setiap kita menghendaki hidup bahagia tetapi tidak semua kita mengerti apa itu

kebahagiaan. Kebahagiaan tidak bergantung dari materi yang kita miliki tetapi sikap batin dalam menghadapi kenyataan. Ada delapan cermin yang dapat kita gunakan untuk menata diri meraih kebahagiaan; bersikap miskin; punya rasa prihatin, lemah lembut, lapar dan haus akan kebe-naran, murah hati, suci hati, suka damai dan berani berkorban demi kebenaran. Tidak mudah memang menjalankan semuanya ini tetapi sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk menghidupinya; kebahagiaan bukan sekali jadi tetapi sesuatu yang mesti diperjuangan dalam proses. Sanggupkah anda berdiri di hadapan cermin-cermin ini? Kesanggupan anda adalah kunci menjadikan diri anda orang yang bahagia.

“Kebahagiaan soal hati bukan masalah apa dan berapa yang kita miliki, tidak juga ditentukan oleh suasana di sekitar kita. Bagaimana suasana hati kita berhadapan dengan situasi di sekitar kitalah yang menentukan bahagia tidaknya kita?
[ back ]
footer2.jpg