Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 01-03-2011 | 18:57:22
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “TUHAN TERTIDUR, BENCANA”
Markus 4:35-41, Sabtu, 29 Jan 2011

Hidup ini menampilkan banyak hal aneh yang kadang sulit dimengerti. Walaupun enak untuk ditonton tetapi belum tentu gampang untuk dijalani karena hidup hanya mungkin berlangsung, lestari bila diberengi dengan perjuangan yang tahan uji. Suah menjadi hukum alam; yang hidup harus berjuang dan yang berjuang dijamin akan hi-dup. Dan kenyataan menunjukkan bahwa perjunagan tidak selamanya berjalan mulus karena itu aksi ini senantiasa menampilkan pasangan kembar yang selalu berlawanan; suka dan duka, sedih dan gembira, tawa dan tangis, sukses dan gagal, perang dan damai. Lebih dari itu, ada kecenderungan yang kita miliki yang hampir ada pada setiap kita; kalau mentari sedang bersinar dalam hidup kita, kesuksesan dan keberhasilan dengan dalam genggaman kita, hal ini tidak banyak dipersoalkan, kita tidak banyak bertanya mengapa saya sampai mengalami hal ini, akibat lanjut di saat-saat penuh bunga itu, Tuhan tak pernah dipikirkan, sesama tidak masuk hitungan lalu diri sendiri menjadi pusat, sumber segalanya. Tetapi bila langit hidup mulai mendung, gerimis penderitaan dan badai kesusahan mulai menghadang, pertolongan Tuhan kita butuhkan, kehadiran sesama menjadi penting baik sebagai penolong maupun sebagai kambing hitam kesusahan kita. Kenyataan ini membuktikan bahwa sikap kitalah yang berubah, Tuhan tetap sama dan Ia akan selalu hadir dalam situasi apapun disadari ataupun diabaikan.

Apa yang kita alami sekarang ternyata sudah dialami Yesus dua ribu tahun silam, demikian kisah Markus. Suatu senja ketika matahari perlahan-lahan meniggalkan hari, Yesus mengajak para muridNya bertolak ke sebrang. Dalam perjalanan, karena terpe-sona dengan indahnya berkas-berkas matahari senja yang sedang mencumbu permu-kaan danau, dalam dilarutkan oleh suasana yang mempesona saa itu, para murid lupa akan kehadiran Yesus. Mereka membiarkan Dia tertidur, lupa bahwa Dia ada bersama mereka. Saat badai dan gelombang menghempas perahu mereka, membunyarkan mimpi mereka tentang keindahan hidup, mereka baru sadar bahwa Yesus ada bersama mereka. Yesus dibangunkan dan diminta pertanggungjawabanNya;’Guru, Engkau tidak peduli kalau kita tenggelam?’ Lewat kisah ini, Markus hendak menggambarkan dunia hidup kita yang diwakili oleh Yesus dan para muridNya. Sikap para murid adalah sikap kita. Kenyataan hidup membuktikan bahwa kita cenderung melupakan kehadiran Tuhan dan sesama di saat-saat kita mengalami kebahagiaan. Tuhan tidak kita perlukan, kehadir-anNya dianggap sebagai penghalang. Kehadiran sesama dipandang dengan sebelah mata. Saat itu kita berusaha mengangkat kepala seolah hendak melebih puncak gunung, suara kita begitu lantang seolah hendak melebihi deru ombak samudra. Nilai kesalingan; bahwa aku menjadi aku karena engkau, tak berarti di mata kita. Nilai kehadiran sesama ditentukan dengan apa yang mereka miliki atau apa yang dapat kita peroleh dari mereka. Di luar kriteria ini, mereka tidak masuk hitungan. Sebaliknya ketika perahu hidup kita dilanda badai dan gelombang, kehadiran Tuhan sangat kita butuhkan, gambar-gambar kudus selalu menyertai tidur dan bangun kita, patung-patung suci menghitam karena dipenuhi dengan lilin-lilin dadakan. Kita mulai mempertanyakan kehadiran Tuhan. Dia ada di mana, mengapa peristiwa ini menimpah saya bukan orang lain. Di saat-saat seperti ini, sesama menjadi bagian dari P3K, mereka menjadi tempat sampah unek-unek kita dan terkadang dipanggil untuk menjadi kambing hitam penderitaan kita. Saya mengalami nasib seperti ini karena orang ini atau orang itu. Di sini kita bertanya: apakah kita mesti mengalami penderitaan supaya bisa memahami pentingnya kehadiran Tuhan dan sesama? Atau apakah Tuhan dan sesama hanya punya nilai bagi kita di saat penderitaan? Yesus akan selalu hadir dalam situasi apapun. Karena Dia bukan kita, demikian juga dengan sesama kita. Mestinya apapun situasi kita, Tuhan dan sesama tak boleh diabaikan, karena bagaimanapun dan dengan cara mereka sendiri, mereka punya andil dalam hidup kita.

Hidup tak semudah yang kita bayangkan. Sebagai orang-orang beriman dan selalu hidup bersama, keberadaan kita tak dapat dipisahkan dari kehadiran Tuhan dan sesama; langsung ataupun tidak mereka punya andil dalam hidup kita dengan segala manifes-tastinya entah itu disadari ataupun tidak. Lalu bercermin pada kisah ini; siapakah kita dalam keseharian hidup kita? Adakah kita seperti Yesus yang selalu siap membantu me-nenangkan badai dan gelombang, para murid yang melupakan kehadiran Yesus ataukah badai yang selalu mengusik kedamaian pelayaran perahu sesama? Satu hal yang perlu dicatat, ikutsertakan Tuhan setiap saat anda hendak melaut dan jangan biarkan Dia tertidur!

“Jangan biarkan Tuhan tertidur dan tidak boleh remehkan peran sesama karena di saat-saat genting, mereka tempat kita bergantung’.
[ back ]
footer2.jpg