Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 26-01-2011 | 21:23:02
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “BESAR DALAM DIAM”
Mrk 4:26-34,Jumat, 28 Jan 2011

Padang itu kosong, kering, penuh dengan bebatuan saat kemarau mengeringkan bumi. Tetapi begitu musim berubah, pemandangan di sanapun turut berubah. Saya tidak tahu kapan tepatnya perubahan itu terjadi, yang saya tahu sekarang bebatuan di sana sudah tidak tampak lagi, tanah kosong itu sudah dipenuhi semak rumput yang menghijau buat mata yang memandangnyapun ikut hijau. Dari kenyataan ini yang mau disoroti adalah kenyataan bahwa pertumbuhan dan perubahan itu kadang terjadi tanpa kita sadari; kita tidak tahu kapan dimulai bertumbuh, kita baru sadar bahwa perubahan sudah mulai saat kita melihat tanda-tanda adanya hidup baru. Selain itu, banyak perubahan terjadi mulai dari hal yang tidak menyolok mata kemudian baru muncul hal-hal yang menarik perhatian kita. Kita tidak tahu kapan kita mulai jatuh cinta pada seseorang, yang kita ingat pertama kita bertemu, ada percakapan sambil lalu, tukar menukar nomor HP, saling smsan dan kemudian janjian untuk ketemu dan sesudah itu selalu saja ada kerinduan untuk terus bertemu. Di sini harus kita akui juga bahwa kadang peru-bahan itu terjadi di hadapan mata kita; misalnya kita sendiri yang memangkas atau menebang pohon yang tumbang atau kita menyaksikan langsung para pembangun mulai membangun tiang-tiang penopang menara, fondasi yang tadinya kosong kini telah ditumbuhi begitu banyak tiang beton. Lebih dari itu, di sini kita disadarkan bahwa kadang untuk mudah memahami kenyataan yang ada di hadapan kita, kita perlu membuat perbandingan. Dan harus kita akui bahwa hidup ini penuh dengan aneka perbandingan dan kita sendiri memiliki kecenderungan untuk membanding-bandingkan. Selain untuk memahami kenyataan yang ada di hadapan kita, dari perbandingan yang ada kita mendapat banyak masukan untuk berbenah diri; kelebihan dan kekurangan kita, kita juga dapat belajar dari sesama dan alam bagaimana menjadi jauh lebih baik. Hasil perbandingan tidak boleh membuat kita minder ataupun merasa lebih baik dari yang lain. Kita mesti terbuka dan rendah hati.

Harus kita akui bahwa dengan memaparkan perumpamaan yang disampaikan Yesus dalam pengajaran-pengajaranNya, Markus sebenarnya hendak menunjukkan bahwa Yesus sungguh mahir dalam berpastoral. Dia menyadari bahwa apa yang diajarkanNya akan mudah dipahami bila Dia bertolak dari kenyataan hidup sehari-hari dan bila Dia mulai mengajar mereka mulai dari apa yang mereka tahu. Lihat, untuk membuka wawasan pendengarNya tentang bagaimana kerajaan Allah bertumbuh mempengaruhi seluruh keberadaan manusia, Yesus coba memban-dingkannya dengan pertumbuhan benih di ladang. Sebagaimana benih di ladang berkembang melalui satu proses panjang sampai saat panen tiba, demikian juga halnya dengan kerajaan Allah ataupun iman akan Allah. Dengan ini Yesus hendak mengatakan bahwa iman bukan satu hal yang sekali jadi tetapi sesuatu yang bertumbuh secara perlahan, dimatangkan dalam waktu dan didewasakan, diuji oleh aneka gelombang kehidupan ini. Karena tidak sekali jadi, di sini sikap menghormati proses diperlukan dan kesediaan kita untuk memahami serta mendukung proses yang sedang berlangsung adalah satu keharusan. Boleh jadi hal inilah yang menjadi sebab mengapa kita tidak boleh mengukur kehidupan orang lain dengan ukuran yang kita miliki karena mungkin kita maju dengan kecepatan seekor unta tetapi sesama kita bergerak dengan kecepatan seekor keong. Di sini yang terpenting bukanlah soal kecepatan tetapi masalah usaha setiap pri-badi untuk bergerak menuju perubahan, menghormati proses yang berlaku, membiarkan iman itu mempengaaruhi seluruh hidup dan relasi kita dengan yang lain. Selain itu, yang mau ditekankan Yesus lewat wejanganNya ini adalah bahwa kerajaan Allah/iman kita berkembang dalam dunia nyata tempat kita ada dan mengais hidup, dalam diri kita, dalam relasi yang kita jalin dengan orang lain, dalam tugas-tugas harian kita dan melalui semua hal ini, ia mestinya semakin nampak dan mempengaruhi seluruh hidup kita. Kerajaan Allah perlahan-lahan harus menjadi bagian dari denyut kehidupan kita. Di mana kita hadir, di sana mestinya ia dihadirkan. Apakah kehidupan kita sudah menampakkan hal ini? Selain itu, seperti benih yang membutuhkan tanah yang subur dan perawatan yang cukup untuk bertumbuh, kereajaan Allah/iman kita membutuhkan tempat yang layak dalam hati kita untuk bertumbuh dan kesediaan kita untuk memperhatikan pertum-buhannya. Kita begitu rajin membersihkan ruang tempat kita bekerja, membasahi bunga-bunga di teras rumah kita, tetapi apakah kita juga punya kesibukan yang sama untuk menata iman yang sedang tumbuh dalam diri kita? Mengapa kejahatan begitu meningkat mengikuti derap pemba-ngunan? Karena kita berkembang secara tidak seimbang. Perkembangan fisik tidak sebanding dengan perkembangan mental. Iman kita hanya berlaku pada tempat dan situasi khusus, di luar dari kekhususan ini, iman kita kita tinggalkan. Iman dan hidup masih berjalan sendiri-sendiri. Pembangunan dunia ini dan pembangunan kerajaan Allah masih dipisahkan padahal iman dan hidup kita tidak terpisahkan dalam diri kita. Seharusnya dalam perkembangan pembangunan di sana kerajaan Allah pun turut berkembang. Apakah ini masih mungkin?

Anda dan saya adalah anggota masyarakat dunia sekaligus juga adalah orang-orang beriman. Tugas kita adalah melanjutkan apa yang telah dimulai Yersus. Kitalah duta-duta kehadiran Yesus di jaman ini. Dalam berpastoral dan dalam hidup, kita mesti belajar dari Yesus. Kita punya cita-cita dan impian untuk mengubah garis hidup kita. Kita juga diharapkan untuk tidak mematikan benih iman yang sedang tumbuh dalam hati dan hidup kita. Iman kita mesti diikutsertakan setiap saat kita hendak membuat sejarah. Perubahan hanya mungkin, kehadiran kerajaan Allah akan dirsakan dan iman yang kita miliki akan punya pengaruh dalam hidup kita bila ada ruang dalam hati kita baginya. Untuk itu kita perlu memberi porsi yang seimbang antara iman dan hidup agar seiring dengan perkembangan hidup kita kerajaan Allah turut berkembang.

“Semuanya bertumbuh dalam diam, demikian juga iman kita. Iman kita akan punya pengaruh dalam hidup kita bila kita membiarkan dia mempengaruhi hidup kita”.
[ back ]
footer2.jpg