Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 26-01-2011 | 19:30:20
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “FUNGSIKAN PERAN ANDA”
Markus 4:21-25,Kamis, 27 Jan 2011

Ada sebuah mikrolek angkutan kota yang sudah lama diparkir di halaman rumah tetangga saya. Katanya lagi rusak berat dan belum ada biaya untuk memperbaikinya. Kalau dibiarkan berlama-lama diparkir ada beberapa hal negatif yang bisa muncul; pertama, dari segi keindahan, kehadiran mikrolet itu merusak pemandangan. Kedua, dari segi kelestarian, lama diparkir akan mengakibatkan terjadinya banyak onderdil yang karat akibat cuaca; panas, embum dan hujan. Ketiga, dari segi ekonomi, sopir kehilangan pekerjaan, pemilik ketiadaan pendapatan dan ujung-ujungnya kesejahteraan banyak pihak tak bisa dijamin, belum lagi kalau kredit mikrolet itu belum dilunaskan. Dari kenyataan ini beberapa kesimpulan dapat kita tarik; pertama, setiap kita punya peran dan pelaksanaan peran ini punya dampak terhadap kehidupan bersama. Kedua, Karena peran ini punya dampak terhadap kehidupan bersama, maka tidak berfungsinya peran ini atau kesalahan dalam memainkan peran ini akan berdampak punya terhadap kehidupan bersama entah itu langsung maupun tidak. Berhubungan dengan kedua hal ini; dilaksanakan tidaknya peran ini tentu saja ada aneka alasan yang melatarbelakanginya. Kita tidak boleh cepat menjatuhkan vonis sebelum melihat apa yang ada di balik berjalan tidaknya fungsi atau peran itu. Selain itu kenyataan ini hendaknya menyadarkan kita bahwa bila peran kita tidak dilaksanakan dampaknya tidak hanya akan menimpah diri kita tetapi juga punya efek atau pengaruh terhadap orang-orang di sekitar kita. Padamnya listrik membuat seluruh roda kehidupan macet. Ini berarti pola pandang kita yang melihat bahwa efeknya hanya untuk diri kita mesti dirubah karena selalu saja ada kaitan langsung ataupun tidak dari setiap tindakan kita terhadap mereka di sekitar kita.

Berhubungan dengan peran yang mesti kita lakonkan dalam kebersamaan dan dampaknya bagi hidup bersama, suatu saat entah kapan dua tahun silam, demikian kisah Markus, ketika berbicara tentang kerajaan Allah dalam bentuk perumpamaan, Yesus menekankan bahwa kerajaan Allah dapat berkembang, impian kita dapat diwujudkan bila; pertama, setiap orang men-jalankan atau melakukan apa yang seharusnya ia lakukan; tahu diri, tahu tempat dan tahu tugas; ‘pelita harus ditempatkan pada tempatnya. Dan yang kedua, kita tidak menjadikan diri kita ukuran hidup orang lain. Pelita berfungsi untuk menerangi seisi rumah, tanpa harus membakar ruang itu. Dampak kehadiran pelita itu bersifat universal, di mana ia tempat menentukan luas jangkauan cahaya pelita itu. Salah dalam menempatkan pelita itu akan menimbulkan berbagai soal; ruang tidak akan diterangi secara proporsional bahkan pelita mungkin akan padam. Dan bi-la pelita itu dianalogikan dengan potensi yang kita miliki maka setiap kita dituntut untuk mampu menggunakan apa yang kita miliki untuk membantu sesama menemukan terang, merubah kisah hidup mereka menjadi jauh lebih baik. Sebagaimana pelita ditempatkan pada tempatnya akan banyak berarti, demikian juga bila potensi yang ada pada kita digunakan semaksimal mungkin maka apa yang kita impikan dapat menjadi kenyataan. Kalau kita resah dengan pelita yang kehabisan minyak atau listrik yang sering padam, apakah kita sendiri pernah resah kalau kita menyalahgunakan potensi yang kita miliki? Selain itu, kita juga diingatkan untuk tidak meng-gunakan apa yang kita lakukan untuk mengukur kehidupan sesama karena kita bukanlah standar kehidupan sesama. Kita harus membiarkan mereka melihat dan bercermin diri pada apa yang baik yang kita lakukan untuk menata hidup mereka sendiri. Karena bila kita mengukur kehidup-an sesama, ada kemungkinan ukuran yang kita pakai digunakan juga untuk mengukur kehidupan kita. Peringatan Yesus disampaikan karena Dia melihat adanya kecenderungan di antara kita untuk menyalahgunakan potensi yang kita miliki; orang berlomba-lomba untuk memenuhi ke-pentingan dirinya lalu lupa akan apa yang seharusnya mereka lakukan bagi orang-orang di se-kitar mereka. Yesus melihat gejala bahwa kita gagal menempatkan diri pada tempat yang sebe-narnya dan apa yang kita miliki tidak digunakan sebagaimana semestinya. Dalam hubungan dengan kerajaan Allah, setiap orang Kristen harus mampu menampakkan kepada yang lain bahwa ia adalah pengikut Kristus. Banyak kali kita salah memgunakan apa yang kita miliki, kita sulit menempatkan diri pada tempat yang ditentukan. Selain itu digambarkan pula bahwa dalam kesalingan, manusia mesti berusaha sedapat mungkin untuk tidak mempertajam perbedaan dengan membuat perbandingan–perbandingan. Karena ukuran yang kita pakai akan digunakan juga untuk kita. Perbedaan mesti dilihat sebagai kekayaan sebuah kebersamaan. Di sini tidak berarti bahwa membuat perbandingan itu salah. Perbandingan sangat bermanfaat untuk mengejar ketertinggalan, ia menjadi buruk bila dengan perbandingan perbedaan yang ada dipertajam. Kita harus menjalankan apa yang harus kita jalankan karena itul hidup kita.

Kita selalu ada dalam kebersamaan dan kita menghendaki agar kebersamaan kita dengan yang lain tetap lestari sehingga dengan demikian kehadiran kerajaan Allah dapat dirasakan. Itu berarti dalam kerangka perumpamaan Yesus, kita mesti menjadi pelita bagi yang lain dan apa yang ada pada kita mesti digunakan sesuai dengan tujuannya demi diri sendiri maupun demi mereka yang mengtari kita. Demi lestarinya kebersamaan kita dan untuk menghadirkan kerajaan Allah dalam keseharian kita, kita berkewajiban menjalankan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita dan kita harus membiarkan yang baik yang kita lakukan dijadikan cermin oleh sesama untuk menata hidupnya sendiri. Kita tidak boleh melunturkan nilai baik apa yang kita lakukan dengan menjadikannya standar untuk mengukur kehidupan sesama. Yang baik yang ada pada kita akan banyak berarti bila ditempatkan pada tempat yang tepat dan pada yang waktu yang tepat.

“Kalau pelita berfungsi menghadirkan terang, kehadiran kitapun mesti membawa sesama kepada terang. Dan pelita hanya berfungsi kalau dinyalakan dan ditempatkan pada tempat yang tepat demikian pula dengan semua potensi yang ada pada diri kita”.
[ back ]
footer2.jpg