Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 26-01-2011 | 19:26:36
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “SUBUR ATAU PENUH BATU”
Mrk 4:1-20, Rabu, 26 Januari 2011

Musim panas yang berkepanjangan dan menciptakan kecemasan, membuat hujan yang mengguyur bumi begitu berarti; mengusir kegelisahan dan keresahan, mengisi kembali tabung sumber air yang hampir mengering dan asa para petani kembali berjiwa saat ladang-ladang yang telah disiapkan kembali ditumbuhui aneka tanaman penyambung hidup. Mungkin kita bukan petani tetapi ini tidak berarti kita buta sama sekali tentang dunia pertanian apalagi masyarakat sekitar kita pada umumnya hidup dari bertani dan kita bisa memahami dunia pertanian lewat berbagai media. Dan sebagaimana kita mengharapkan apa yang kita kerjakan bisa menghasilkan se-suatu demikian juga setiap petani selalu menabur dengan harapan apa yang ditaburnya dapat menghasilkan buah. Ini berarti pertukaran musim yang tidak menentu dan kegagalan panen merupakan malapetaka. Dan menghadapi kenyataan ini, banyak alasan lahir. Boleh jadi kita mempersalahkan hujan yang datangnya sudah tidak lagi beraturan seperti musim-musim masa kecil kita. Selain itu ada kenyataan lain yang mesti dipahami; baik buruknya panen tidak saja bergantung dari unggul tidaknya benih yang ditaburkan tetapi juga bergantung dari jenis tanah tempat benih itu ditaburkan. Dengan ini hendak dikatakan bahwa benih dan tanah walaupun keduanya berbeda tetapi tidak harus dipisahan karena dalam perbedaan itu keduanya saling menentukan, mempengaruhi dan pada relasi keduanya hidup kita diberi jiwa. Unggulnya benih tidak akan bernilai bila tanah tempat ia ditaburkan bukanlah tempat ideal baginya. Sebaliknya baik tidaknya tanah tidak akan banyak berpengaruh bila benih yang ditaburkan bukanlah benih pilihan. Melimpah tidaknya panenan ternyata tidak saja bergantung pada jenis benih yang ditaburkan tetapi juga ditentukan oleh jenis tanah tempat tumbuhnya.

Dari benih dan tanah kita masuk ke soal hati. Tanah dan hati adalah dua hal yang jelas berbeda tetapi keduanya memiliki kesamaan bila dilihat dari fungsinya. Bila tanah menjadi arena tumbuhnya benih dalam aneka wajah yang memberi buah dan menghiasi alam tapi tak punya mandul, hati dapat merupakan tempat tumbuh; kebaikan yang mempersatukan dengan segala manifestasi ataupun sumber kejahatan yang mengalir memisahkan dua sahabat. Kalau tanah menjadi tempat tumbuh jagung dan ilalang; hati menjadi tempat cinta dan kebencian saling menak-lukan, kelembutan dan kekerasan berhadapan, kerendahan hati dan keangguhan saling mendominasi dan masih banyak lagi wajah rasa yang bisa ditemukan di sana. Bila ada begitu banyak jenis tanah yang kita jumpai di lahan-lahan pertanian kita, gambaran yang sama dapat kita gunakan untuk melukiskan keadaan sebuah hati. Bila jenis tanah menentukan melimpah tidaknya panenan, demikian juga jenis hati yang kita miliki menentukan siapa kita dalam ladang kebersamaan. Suatu ketika berbicara tentang kerajaan Allah dan sikap para pendengarNya, Yesus mengemukakan perumpamaan tentang penabur; di mana di dalamnya Yesus mengemukan beberapa jenis tanah tempat jatuhnya benih yang ditaburkan; pertama, tanah di pinggir jalan, melambangkan hati seorang petualangan, orang yang tidak menetap, hati yang selalu ingin mencoba tanpa mau menentukan sikap, tidak mau diikat. Hati model ini adalah hati yang mudah mengikuti arus dan gampang terbawa arus; suka pamer tanpa penghayatan. Kedua, tanah berbatu-batu, hati yang keras; bisa menerima tetapi sulit merubah sikap. Mereka yang memiliki hati model ini adalah mereka yang mempunyai impian tentang hidup baru tetapi enggan meninggalkan hidupnya yang lama, mereka adalah orang-orang beriman tetapi tidak bersedia membiarkan iman mempengaruhi hidupnya sehingga mereka gampang beralih bila ada tantangan. Ketiga, tanah bersemak duri, hati yang telah dipenuhi dengan aneka kekuatiran sehingga benih kebaikan sulit mendapat tempat untuk bertumbuh. Mereka lebih melihat apa yang harus dimiliki ketimbang menghargai hidup yang sedang mereka jalani. Keempat, tanah yang subur, hati yang baik tempat benih kebaikan yang ditaburkan, tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah; iman mempengaruhi hidup mereka dan hidup mereka menjadi duta apa yang mereka imani. Sampai di sini, hati macam manakah yang sedang kita miliki? Lebih dari itu lewat kisah ini kita bisa belajar dari Yesus bagaimana bisa membuat orang memahami tumbuh dan berkembangnya kerajaan Allah lewat hal-hal yang tidak asing dengan keseharian kita.

Benih yang ditaburkan dapat tumbuh subur dan menghasilkan buah bila jatuh dan tumbuh di tanah yang baik. Tetapi tidak semua tanah tempat benih ditaburkan adalah tanah yang ideal. Hati yang kita milikipun demikian halnya. Kebaikan, iman yang kita miliki dapat tumbuh, berkembang dan menghasilkan buah bila hati kita punya tempat baginya, bila kita membiarkan apa yang kita imani mempengaruhi, kata-kata, hidup dan laku kita. Sebagaimana setiap petani meng-harapkan panenan yang melimpah, demikian juga Allah menghendaki iman kita bertumbuh dalam hati kita dan menghasilkan buah-buah kebaikan. Panenan bergantung pada jenis tanah dan kebaikan yang menghasilkan buah bergantung dari jenis hati yang kita miliki. Allah tidak meng-hendaki panenan yang melimpah, Dia hanya mengharapkan apa yang ditaburkanNya dalam hati kita menghasilkan buah. Hati macam mana yang sedang berdenyut dalam rongga dada kita? Mungkin tanah kita berbatu-batu tetapi hati kita jangan dibiarkan dipenuhi aneka batu.

“Jenis tanah menentukan hasil panenan, model hati menentukan apakah benih sabda bisa hidup dan mengpengaruhi hidup kita atau tidak”.
[ back ]
footer2.jpg