Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 23-01-2011 | 23:50:01
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “JADILAH PEMERSATU”
Mrk 3:7-12,Kamis, 20 Januari 2011

Pengalaman membuktikan bahwa adalah mudah menceraiberaikan tetapi tidak gampang untuk mempersatukan. Untuk menceraiberaikan, pertajam saja perbedaan yang ada tetapi untuk mempersatukan kita butuh tali-tali tidak kelihatan yang mampu mengikat hati dan rasa yang aneka; yang bisa mendekatkan yang jauh dan mengeratkan yang dekat. Kenyataan ini menunjukkan bahwa untuk mempersatukan kita butuh tenaga ekstra dan kerelaan untuk berkorban-harus ada sesuatu yang mesti kita korbankan dari diri kita sendiri. Satu hal yang dapat dijadikan kekuatan kita untuk berusaha tanpa henti adalah bahwa kita selalu ada bersama, di sini di antara kita sebenarnya sudah ada ikatan tidak kelihatan, dan ikatan inilah yang perlu disadari keha-dirannya dan dilestarikan, ditumbuhkembangkan. Kita semua tahu bahwa satu kerinduan terda-lam yang dimiliki oleh setiap kita adalah keinginan untuk menikmati hidup bahagia. Ini berarti yang kita cari dalam hidup ini adalah kebahagiaan, persatuan dan kebersamaan. Persatuan, kebersamaan, kebahagiaan hanya mungkin tercipta bila kita bersedia mengasihi dengan cinta yang mengabdi tanpa pengkotakan, kebaikan yang berimbang dan kerelaan untuk berkorban. Apa yang kita lakukan mesti diabdikan kepada persatuan; kalau kita tidak dapat mempersatukan biarlah kita punya keinginan untuk bersatu. Peluang tetap ada dan panggilan ini akan tetap ber-gaung mengikuti setiap derap langkah kita. Yang jadi soal adalah apakah kita bersedia mengartikan peluang ini atau tidak.

Ada banyak hal dalam hidup ini di mana darinya kita bisa belajar banyak hal tentang hidup. Di depan saya ada segelas air panas yang sudah diberi gula secukupnya dan pada tangan kanan saya ada sebungkus teh celup. Saya masukan teh itu ke dalam gelas itu dan seketika warna air itu berubah. Kehadiran teh itu, merubah warna dan rasa air itu. Kenyataan ini tidak asing lagi bagi kita, satu hal sederhana tetapi menarik dan darinya kita dapat belajar untuk membuat kehadiran kita dan pengaruhnya menjadi tidak sesederhana yang kita bayangkan. Kehadiran kita bisa seperti teh ini, memberi warna yang khas dan suasana serta rasa tertentu bagi mereka yang ada di sekitar kita. Dari kenyataan ini dapat kita simpulkan bahwa ada banyak hal dalam hidup ini yang darinya kita bisa belajar bagaimana menghadirkan dan mengartikan kehadiran kita dalam satu kebersamaan. Mungkin juga dari kenyataan ini kita dapat memahami kisah Markus tentang Yesus. Mengapa di mana Dia hadir di sana orang cenderung datang padaNya; kehadiranNya bagai gula yang menarik kehadiran semuk dan seperti cahaya lampu yang menarik laron berdatangan entah dari mana. KehadiranNya tidak saja punya daya magnetis tetapi juga punya daya rubah; menarik orang untuk datang padaNya dan pertemuan denganNya merubah jalan hidup orang itu; yang sakit disembuhkan, yang lumpuh berjalan, yang kerasukan roh dibebaskan, penjala ikan jadi penjala manusia, yang tercerai berai dipersatukan. Di sini kita melihat bahwa cinta yang mengabdi selalu mendekatkan dan kebaikan tanpa pengkotakan selalu mempersatukan. Lalu bagaimana dengan kehadiran kita sendiri dalam kebersamaan? Kita punya hati yang bisa merasakan apa yang dirasakan sesama, kita punya mata yang bisa melihat jauh melampaui realitas yang ada dan kita punya kebaikan yang mampu mempersatukan. Tetapi mengapa kehadiran kita tidak dapat memberi warna yang khas danrasa tertentu dalam hati dan hidup sesama? Karena kita ada dalam kebersamaan tetapi kita berjuang dan hidup untuk diri kita sendiri ataupun untuk kelompok tertentu sehingga kita lebih melihat kepentingan kita ketimbang memperhatikan apa yang sedang dialami sesama. Begitu sering kita memanipulasi, mengorbankan kebersamaan dalam aneka cara untuk kepentingan diri ketimbang mencari jalan memupuk kerelaan untuk berkorban demi kebersamaan. Menyadari kenyataan ini dan mengingat panggilan kita sebagai orang-orang beriman, orang-orang yang diutus ke dalam kebersamaan untuk membawa perubahan, kita mesti berusaha untuk memberi warna yang khas dan rasa tertentu bagi kebersamaan, kita mesti belajar banyak dari Yesus. Kita mesti merubah dunia mulai dari diri kita sendiri.

Dunia kita semakin tidak bersahabat mungkin karena kita juga tidak punya sikap bersahabat. Seperti para murid, sudah saatnya kita menunjukkan kesejatian diri kita sebagai pengikut-pengikut Kristus. Sebagai orang-orang beriman kita dipanggil untuk menyembuhkan situasi dunia kita yang terluka. Untuk itu kita mesti belajar menggembalakan diri sendiri, mengemda-likan keinginan-keinginan kita yang aneka agar kita memiliki kesediaan untuk berkorban, kere-laan untuk melindungi, punya hati untuk mengasihi tanpa pengkotakan sehingga kehadiran kita bukan saja membawa persatuan tetapi juga lewat kesaksian kita yang hidup kita dapat menyadarkan sesama akan situasi dirinya, mengundang mereka untuk berani menegakkan kebenaran dan memutuskan pola hidup mana yang mesti mereka hidupi. Hanya dengan cara ini api harapan kita dihidupkan kembali, kepentingan ber-sama kembali mendapat tempat utama dan cinta kasih menjadi jiwa seluruh langkah laku kita. Hanya dengan menempuh jalan ini, sesama dapat menyaksikan kehadiran Yesus yang menyelamatkan dan mengembirakan.

“Perubahan kisah hidup ini selalu mungkin, yang penting kita menyadari untuk apa kita ada dalam kebersamaan dan apa yang mesti kita lakukan”.
[ back ]
footer2.jpg