Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 23-01-2011 | 23:26:03
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “TETAP BUAT BAIK”
Mrk 3:1-6,Rabu, 19 Januari 2011

Kita tahu kehadiran matahari membawa terang dan membantu kita untuk membedakan setiap warna dan kehadiran bulan memberi kesan tersendiri bagi sebuah malam. Pernahkah anda menyadari bahwa kehadiran orang lain di sekitar anda mempengaruhi hidup anda atau anda tidak merasakan adanya sesuatu dalam diri anda karena kehadiran mereka? Kita selalu hidup bersama. Hidup dalam kebersamaan membuat kita tidak dapat menghindari adanya saling pengaruh antara kita dengan yang lain disadari ataupun tidak. Hal ini bisa saja terjadi entah langsung mau tidak. Dan ini berarti apa yang kita lakukan punya pengaruh terhadap hidup orang-orang sekitar kita dan sebaliknya apa yang mereka lakukan mempengaruhi irama hidup kita. Pengaruh ini dapat tampil dalam dua wajah; baik dan buruk sehingga mereka yang baik bisa tetap baik, semakin baik atau sebaliknya jadi buruk atau semakin rusak. Lebih dari itu, kita mesti tahu bahwa orang dapat menilai siapa kita berdasarkan apa yang kita katakana, apa yang kita lakukan atau apa yang kita hidupi. Dan kebaikan kita bisa saja ditanggapi secara positif, bisa juga secara negatif ber-gantung dari sikap batin orang yang dengannya kita berinteraksi. Kita bisa saja disanjung, mungkin juga dibenci. Kebencian bisa saja muncul bila kebaikan yang kita lakukan membongkar kedok kejahatan mereka yang menyaksikan dan merasakannya. Menjadi bijak, kita butuh ke-jelian untuk menyerap pengaruh yang baik dan menghindari dampak negatif kehadiran yang lain.

Seperti apa yang sudah digambarkan, dikehendaki ataupun tidak, siap ataupun tidak kita mesti menerima kenyataan bahwa yang baik yang kita lakukan belum tentu mendapat tanggapan yang sepadan; dalam arti mendapat tanggapan yang baik pula. Hal ini bisa saja membuat kita kecewa lalu memutuskan untuk berhenti berbuat baik. Di sisi lain, kadang hal ini muncul karena kita menggunakan standar yang berbeda dalam menghadapi sesuatu atau kita mempertentangkan apa yang tidak perlu dipertentangkan hanya supaya kita tidak kehilangan muka, merasa kalah bersaing dengan orang lain. Sebagai orang-orang beriman, apapun tanggapan yang diberikan orang; yang negatif tidak boleh menyurutkan langkah kita untuk tetap berbuat baik. Atau yang baik yang dilakukan sesama mesti mendorong kita untuk belajar dari mereka bagaimana kita bisa melakukan hal yang sama. Kita perlu rendah hati. Untuk itu kita mesti belajar dari Yesus. Seperti Yesus, di mana saja kita hadir di sana kebaikan mesti dibagikan, keadilan harus ditegakkan, kebenaran perlu diserukan, semangat hidup sesama mesti diberi jiwa baru dan kita mesti berusaha untuk memasuki dunia sesama untuk bisa merasakan apa yang sedang mereka rasakan. Kehadiran kita harus membawa nilai tambah bagi kehidupan sesama. Menghindari adanya soal dan membuat kehadiran kita berarti, belajar dari Yesus adalah satu kebutuhan. DariNya kita dapat belajar untuk tetap berbuat baik dan terpanggil untuk selalu berbuat baik apapun tanggapan yang akan kita terima. Di mana kita hadir di sana, sesama mesti dibantu untuk membebaskan diri dari aneka belenggu yang mengikat; beban hidup mereka mesti diringankan. Tetapi terkadang seperti kaum Farisi dan para ahli Taurat, kita enggan berbuat baik tetapi tidak suka melihat orang lain berbuat baik. Tak jarang, kita bersepakat untuk menyingkirkan orang-orang baik, karena kebaikan mereka mengusik hati kita yang lebih mencintai kejahatan. Kita jatuh sakit bila kita melihat sesama berbuat baik. Dari Yesus, kita belajar membiarkan kebaikan kita berceritera tentang siapa kita. Kita tidak perlu mewartakan apa yang kita lakukan karena hal ini akan mengurangi nilai dari apa yang kita lakukan. Dari Yesus, kita belajar membuktikan lewat hidup kita bahwa kita sungguh orang beriman, orang-orang yang bukan saja mampu berbuat baik tetapi juga terbuka terhadap kebaikan sesama. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa banyak orang masih bingung dengan kehadiran kita karena kehadiran kita menghadirkan kembali sikap kaum Farisi dan para ahli Taurat jaman Yesus. Mestinya seperti Dia, di mana kita hadir di sana ada hidup dan pada kitalah sesama menggantung harapannya. Tetapi keseharian kita menunjukkan suasana sebaliknya, kita seperti orang yang lumpuh tangannya, punya keprihatinan tetapi tidak mampu berbuat apa-apa, di mana kita hadir, di sana yang normal jadi lumpuh, di mana kita hadir di sana sesama kehilangan keberaniannya untuk berbuat baik.

Kebersamaan mesti menjadi arena di mana kita menunjukkan kekhasan kita sebagai orang-orang kristen. Kita tidak menghendaki berada dalam situasi suram tetapi begitu sering kita membiarkan diri berada dalam situasi ini. Kita tidak bersedia belajar dari sesama bagaimana me-ngartikan hidup dan kehadiran kita dalam kebersamaan. Tutur kata, tingkah laku dan hidup kita belum menampakan kekhasan kita sebagai orang-orang yang sungguh beriman akan Kristus karena yang kita lakukan justeru sebaliknya. Seperti kaum Farisi dan para ahli Taurat, kita membenci mereka yang berbuat baik dan enggan berbuat baik. Siapapun kita, kita dipanggil untuk menata hidup dan kehadiran kita di hadapan cermin kehadiran Yesus. Bila hidupNya telah menjadi hidup kita, hidup yang perlahan-lahan mulai lumpuh dapat disembuhkan.

“Kalau kita rendah hati mengakui keunggulan sesama, banyak hal yang bisa kita peroleh dari hidup bersama, kita bisa belajar bagaimana menjadi jauh lebih baik”.
[ back ]
footer2.jpg