Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 06-08-2009 | 22:40:46
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘PENUHI SYARAT YANG ADA’
(Mateus 16:24-28, Jumat, 7 Agustus 2009)

Musim sekolah kadang membawa kegembiraan tetapi tidak jarang meninggalkan beban bagi para orang tua lantaran anak mereka tidak lolos seleksi lantaran tidak memenuhi syarat yang diminta sekolah. Kenyataan ini menunjukkan bahwa tidak mudah masuk dalam satu kelompok karena ada berbagai pintu dan tahapan yang mesti dilalui dan ada aneka syarat yang harus dipenuhi. Kenyataan mestinya menyadarkan kita bahwa anda hidup ini sarat dengan syarat. Syarat bisa jadi sebagai harga yang harus dibayar, bisa juga sebagai jalan mewujudkan impian kita, kunci yang dapat membantu kita untuk membuka pintu ke segala penjuru mata angin. Selain itu kita juga sudah biasa dihadapkan pada berbagai pilihan bahkan mungkin sekarang kita sedang berhadapan dengan aneka pilihan yang membingungkan dan menempatkan kita pada posisi dilematis. Sampai di sini kita harus menyadari bahwa memilih berarti bersedia untuk berkorban; mening-galkan atau kehilangan yang lain; ada syarat dan ada pula konsekuensinya. Banyak soal dalam hidup karena kita tidak konsekuen dengan sikap kita; kita melakukan sesuatu tetapi kita tidak mau menerima konsekuensinya. Mestinya kita tahu bahwa pada saat kita menjatuhkan pilihan, pada saat itu relasi kita dengan dunia di sekitar kita berubah.

Kalau setiap pilihan ada syarat dan konsekuensinya, hal yang sama berlaku pula dalam hubungan dengan pilihan kita mengikuti Yesus, di sini muncul pertanyaan, ‘Sanggupkah anda memenuhi syaratnya? Pertanyaan ini tidak hanya untuk dijawab tetapi juga mengundang kita untuk melihat ke belakang, sudah sejauh mana kita memenuhi apa yang diminta dari kita sebagai orang-orang beriman. Selain itu, pertanyaan ini merupakan satu tantangan yang muncul dari kecenderungan kita yang ingin melakukan sesuatu tetapi tidak bersedia menerima resiko. Membaca kecenderungan ini, kepada para murid, Yesus memaparkan syarat-syarat mengikuti Dia. Setiap orang yang hendak mengikuti Dia mesti bersedia memikul salib, berani menyangkal diri, mengikuti Dia. Syarat-syarat ini dapat dijadikan cermin untuk melihat sejauh mana kita setia pada pilihan hidup kita dan bagaimana mempertahankannya. Selain itu, syarat-syarat ini juga menjadi jawaban mengapa kita gagal mengikutiNya. Pertama, untuk mengikuti Dia orang harus siap memikul salib. Kita ingin mengikuti Dia tetapi kita takut memikul salib karena yang kita persoalkan adalah besar kecilnya salib bukan kesediaan kita untuk memikul salib. Bila kita sanggup apapun bentuk salib itu, kita akan berusaha untuk memikulnya. Kedua, orang harus menyangkal diri, berperang dengan diri sendiri, berusaha menaklukkan keinginan-keinginan kita yang begitu sering membuat kita keluar dari rel hidup yang sebenarnya sebagai norang-orang kristen. Di sini membolak-balik seluruh perjalanan hidup kita, kita mesti menga-kui bahwa kegagalan kita untuk mengikuti Dia terjadi karena lebih mudah bagi kita menyangkal dan berperang dengan sesama ketimbang menyangkal dan ber-perang dengan diri sendiri, lebih gampang bagi kita untuk mengajar ataupun menuntut orang lain untuk memenuhi syarat yang ada ketimbang kita mewajibkan diri untuk menaklukkan diri sendiri. Ketiga, mengikuti Yesus berarti siap menjadikan hidup dan misiNya sebagai hidup dan misi kita. Bila Dia adalah jalan, kebenaran dan hidup kita pun mesti demikian adanya; menjadi jalan pulang bagi yang tersesat, sumber kebenaran bagi yang bimbang dan menjadi jiwa bagi yang kehilangan semangat juang. Tetapi kita gagal karena yang kita jalankan adalah misi pribadi kita.Kita tidak mewajibkan diri untuk emgnikuti jalanNya tetapi memaksa Dia untuk memahami dan mengikuti jalan kita.

Mengikuti Yesus tidak mudah dan bukanlah jaminan bebas dari penderitaan dan penolakan. Penderitaan mesti dilihat dengan kacamata positif; merupakan batu uji kesejatian dan kesetiaan kita; mendorong dan membangkitkan rasa senasib di antara kita. Hanya saja kita belum sanggup menerimanya dengan lapang dada, kita juga belum siap merasakan apa yang sedang dirarakan sesama. Bahkan kehadiran kita bukannya meringankan melainkan menambah beban penderitaan sesama. Begitu sering kita menari di atas penderitaan sesama dan atas nama keprihatinan kita memanipulasi penderitaan mereka demi keuntungan diri. Siapapun kita, mestinya kita merasa terpanggil untuk menyembuhkan situasi. Ingat, tiada kebebasan tanpa pengorbanan, tiada kekuasaan tanpa kehilangan dan tiada kemenangan tanpa penderitaan, ada banyak jalan untuk menderita tetapi hanya satu jalan menuju kemuliaan yakni jalan salib.

[ back ]
footer2.jpg